Anang; dari Camat, kini Dipasrahi Tugas Berat

1236
BERI PENJELASAN: Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 saat menghadiri rapat pansus d gedung dewan, Rabu (20/05/2020). Kini ia ditunjuk sebagai sekretaris daerah Kabupaten Pasuruan.

 

Anang Saiful Wijaya akhirnya didapuk sebagai sekretaris daerah Kabupaten Pasuruan. Seorang mantan camat yang dikenal supel. 

Oleh: Asad Asnawi

BUPATI Pasuruan HM. Irsyad Yusuf akhirnya menunjuk Anang Saiful Wijaya sebagai sekretaris daerah (Sekda) menggantikan Agus Sutiadji yang sebelumnya pensiun.

Keputusan itu sejatinya bukan hal yang mengejutkan. Bahkan, oleh sejumlah kalangan, sudah bisa terbaca sebelumnya.

Paling tidak beberapa alasan yang membuat Bupati menunjuk mantan camat Tosari itu sebagai pejabat tertinggi di kalangan ASN (Aparatur Sipil Negara) Pemkab Pasuruan ini.

Anang dibisa dibilang sebagai sosok atau pejabat kabupaten yang paling komunikatif dibanding lainnya. Terlebih ketika didapuk sebagai juru bicara satuan gugus tugas percepatan penanganan Covid-19.

Hampir saban hari kita mendapatkan statemen lelaki asal Prigen itu di media. Sekadar meng-update-perkembangan kasus Covid-19 atau meluruskan disinformasi yang berkembang.

Sikap Anang yang begitu well dengan informasi memang membuatnya akrab di kalangan publik. Bahkan sejak ia menjabat Camat Tosari atau Purwosari sekalipun.

Dan, itu disadari betul oleh Anang. Tanpa informasi, orang tidak akan banyak tahu soal Tosari karena aksesnya yang lumayan. Potensinya apa, sedang terjadi apa disana, Anang senantiasa membukanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Termasuk informasi yang tidak ‘mengenakkan’ sekalipun. Tentu dengan cara dan kepiawaian Anang dalam menyampaikan.

Nah, kepiawaian itu yang tidak atau belum ditemukan pada dua kandidat sekda yang lain. Ahmad Syaifuddin atau Hasani.

Syaifuddin yang merupakan kepala dinas komunikasi dan informasi tak cukup mumpuni. Begitu juga Hasani. Namanya relatif jadi perbincangan saat ramai-ramai soal masker.

Saya, kita dan kami tentu berharap, sikap Anang yang relatif terbuka dipertahankan. Sebab, tanpa keterbukaan informasi, kita tidak akan tahu apa-apa. Selebihnya, juga tidak bisa apa-apa.

Faktor kedua, adalah soal ‘kedekatan’. Dibanding dua kandidat lainnya, Anang tentu lebih dekat dengan Bupati Irsyad. Baik secara emosional maupun cara berpikir.

Keakraban itu pun sudah terbangun di Purwosari. Saat Anang menjabat camat setempat, Gus Irsyad, sapaan Bupati adalah anggota Komisi 1 (saat itu Komisi A) DPRD setempat. Dan, jarak antara kantor kecamatan dengan kediaman Gus Irsyad hanya sepelemparan batu.

Sebagai Bupati, sudah tentu akan menunjuk sosok yang paling akrab, yang cocok. Dan yang paling penting, diterima semua kalangan, serta mampu menerjemahkan ide dan gagasan-gagasannya.

Tapi, di luar cerita apik itu, Anang tentu tak bisa berleha-leha. Sebagai sekretaris daerah (sekda), setumpuk pekerjaan berat menanti.

Yang paling dekat, adalah persiapan pembahasan PAK (Perubahan Anggaran Keuangan). Selain itu, membantu Bupati melakukan reformasi birokrasi.

Hasil penilaian memang menempatkan Pemkab Pasuruan mendapat grade B atas poin 62 koma sekian. Akan tetapi, nilai dari papan indikator, jauh dari yang dipatok.

Misalnya saja, dari 8 komponen pengungkit dengan bobot 60, pada 2019 lalu Pemkab hanya maraup 31 poin. Sedangkan komponen hasil, meraup 31, 75 poin.

Indikator penguatan akuntabilitas dan pengawasan mendapat skor paling jeblok. Dari bobot 6 dan 12 poin, Pemkab hanya meraup 2, 92 dan 4, 26 dari keduanya.

Begitu juga dengan penataan dan penguatan organisasi. Dari bobot 6, nilai yang didapat pemkab hanya 1, 92 poin. Atau akuntabilitas kinerja, dari 14, pemkab meraih 10, 17. (*)