Perjuangan Pelajar, Berburu Sinyal di Pinggir Makam

832

 

“Demi mengais ilmu, kami berjalan sejauh 2 kilometer dan belajar di lahan pemakaman. Supaya dapat sinyal internet.”

Laporan : Akhmad Romadoni

LAHAN pemakaman di Desa Kedawang, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan tetiba ramai dengan sekelompok pemuda dan pemudi. WartaBromo mencoba mendekat untuk mencari tahu aktivitas mereka.

“Kami sedang belajar,” celetuk salah seorang anak yang kami tanyai.

Sejenak, WartaBromo bergabung dengan pelajar yang ternyata murid di SDN 1 Kedawang. Pandemi Covid-19, membuat pelajar ini mencari akal untuk tetap mengais ilmu. Pembelajaran jarak jauh pun tak jadi solusi berarti, karena timbul masalah baru.

Ya, anak-anak ini mengeluhnya terbatasnya fasilitas seperti ponsel, pun sinyal internet. Penduduk di daerah Kedawang, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan memang mayoritas sebagai nelayan. Lemahnya pengetahuan mengenai gadget menjadi salah satu masalah yang cukup serius saat melalukan proses belajar tanpa tatap muka.

Belasan pelajar ini terpaksa pergi ke lahan di pinggir Tempat Pemakaman Umum (TPU) layar sumurlicin yang berada di Desa Kedawang untuk mengais ilmu.

Tak sekonyong-konyong pergi ke makam untuk mencari signal, mereka harus berjalan kaki kurang lebih 2 KM dari tempat tinggalnya. Hal itu dilakukan supaya bisa menerima pembelajaran secara daring.

“Yah lumayan jauh, mau gimana lagi,” ujar Sholehudin, siswa SDN 1 Kedawang.

Sambil membawa tikar, mereka pergi ke makam, persis di pagi hari waktu sekolah. Seperti sekolah pada umumnya, pelajar ini mengenakan seragam. Bedanya, mereka mengenakan seragam olahraga untuk mempermudah ruang gerak, di samping jauhnya lokasi.

Diawali dengan senam pagi, para siswa dan siswi ini kemudian menggelar 5 tikar yang dibawa untuk memulai pembelajaran. Mereka tak sendiri. Salah seorang guru bertugas mendampingi pelajar ini. Pun untuk meminjamkan handphone sebagai sarana belajar.

Sebagian siswa mengaku tidak nyaman dalam menerima pelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Ifa Nuraini, murid kelas 6. Pembelajaran yang dilakukan disini tak efektif karena dilakukan secara outdor.

“Iya, apalagi kalau hujan, kan tidak mungkin belajar disini,” kata Ifa kepada wartabromo.com.

Tak hanya itu, siswa-siswi ini juga mengaku kesulitan mencatat pembelajaran. Sebab, mereka hanya mempunyai tikar, tanpa bangku atau meja. “Saya nggak senang belajar disini, kalau nulis susah, gada mejanya,” jelasnya.

Pantas saja mereka berkeinginan untuk kembali ke sekolah. Selain tak punya handphone, sinyal susah dan tak ada fasilitas layak, mereka harus rela berjalan jauh.

“Pengen sekolah lagi, enak nggak deket makam, selain bisa bertemu teman-teman di sekolah, fasilitasnya juga lengkap,” tutur Asidin, siswa kelas 6.

Namun demikian, Cholifaf guru di SDN 1 Kedawang itu menekankan kepada muridnya untuk legowo. Ia kemudian menceritakan jika terpaksa harus melakukan pembelajaran ini karena ke 29 muridnya tidak mempunyai handphone untuk menerima pelajaran yang ia berikan. Untuk itu ia melakukan pembelajaran daring di lahan luas disebelah makam.

“Iya memang tidak mempunyai handphone,” kata Cholifah.

Dengan tetap menggunakan protokol kesehatan, seperti masker, cuci tangan dan jaga jarak, siswa-siswi dapat menerima pelajaran dengan baik. Juga berbekal handphone yang dipegang Cholifah untuk dinikmati bersama.

“Alhamdulillah, dapat menerima pelajaran dengan baik, karena yah dekat dengan tower enak sinyalnya,” terang Cholifah.

Tak setiap hari mereka bisa menikmati pembelajaran tatap muka ini. Hanya 2 minggu sekali untuk mengurangi tatap muka secara langsung antar pelajar.

Sehari-harinya, mereka harus menumpang dengan rekannya yang beruntung memiliki handphone. Mereka akan berbagi pelajaran juga tugas yang diberikan guru melalui daring untuk dikerjakan bersama. (*)