Meningkatnya Permukaan Laut Ancam Permukiman Pesisir Pasuruan

1381
ABRASI: Warga swadaya membenahi penahan yang rusak usai diterjang ombak, Jumat (21/08/2020). Abrasi air laut membuat sebagian rumah terancam hantaman ombak. Foto: Romadoni.

 

Meningkatnya permukaan laut mengancam permukiman di wilayah pesisir Pasuruan. Langkah mitigasi diperlukan agar tak jatuh korban.

Oleh: Amal Taufik

KERINGAT deras mengucur dari wajah Ridwan, warga Desa Wates, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Bersama istri dan anak-anaknya, ia membenahi tangkis penahan yang rusak usai diterjang ombak, Jumat (21/08/2020) lalu.

Lelaki 52 tahun itu pun berkejaran dengan waktu. Pengalaman kejadian sebelumnya, ombak tinggi perairan Selat Madura itu diyakininya akan kembali datang hanya dalam hitungan jam.

“Nanti siang pasti naik lagi. Jadi harus cepat-cepat,” kata Ridwan, Sabtu (22/09/2020 pagi. Berbekal kayu dan kantong berisi pasir, ia membuat barikade darurat untuk menghalau ombak yang sebentar lagi datang itu.

Sehari sebelumnya, ombak tinggi menerjang perairan utara Jawa Timur. Sejumlah bangunan di Dusun Pasir Panjang, Desa Wates yang memang berbatasan dengan Selat Madura rusak dibuatnya.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, total dua rumah dan satu sekolah rusak berat akibat kejadian itu. Bahkan, tangkis sepanjang 1 kilometer juga rusak. Akibatnya, belasan rumah yang berhadapan dengan laut pun terancam.

Bagi Ridwan, gelombang tinggi yang melanda perairan setempat sejatinya hal yang biasa. Tetapi, belakangan intensitasnya makin meningkat. Bahkan, teras rumahnya pun jebol terkena ombak.

Ia mengatakan, dalam setahun, bisa mencapai 4-5 kali kejadian. “Cuma bedanya, kalau dulu biasanya terjadi tengah bulan penanggalan Jawa. Sekarang ndak menentu,” ujar Ridwan.

Ridwan sendiri bukan satu-satunya warga Pasir Panjang yang rumahnya rusak akibat kejadian itu. Ada juga Solihin, tetangga Ridwan.

Bahkan, melihat kondisinya, kerusakan rumah Solihin lebih parah ketimbang milik Ridwan. Tembok dapur beserta isinya raib diterjang gelombang. Termasuk kompor.

Untung saja, kabar musibah itu terdengar oleh kerabatnya yang keesokan harinya membelikannya kompor baru. “Baru dikirim ini tadi,” ujar Asiyah, istri Solihin.

Solihin mengatakan, kondisi perairan saat ini memang jauh berbeda dengan saat ia masih remaja. Kala itu, gelombang tinggi biasanya terjadi saat bulan purnama. Tetapi, sekarang tidak lagi.

Situasi itu pula yang terkadang membuat dirinya waswas. Sebab, ombak tinggi bisa saja datang sewaktu-waktu. “Mau pindah juga kemana wong tanahnya juga cuma disini,” jelas Solihin.

Ia mengatakan, dulu perairan setempat memiliki pantai yang cukup lebar. Tetapi, sejak dua dekade ini, pantai tersebut makin terkikis karena abrasi.

Mulyadi, kepala desa setempat mengakui, kondisi Pasir Panjang sarat dengan dilema. Meski terus mengalami abrasi, banyak warga yang tinggal disana. “Mau dibangun penahan juga tidak bisa karena status lahannya masih sengketa dengan TNI (TNI AL,” kata Mulyadi.

Sukandar, pengamat kawasan pesisir Universitas Brawijaya (UB) mengatakan, meningkatnya dampak gelombang air pasang sebenarnya sudah menjadi fenomena umum.

Menurutnya, hal itu sebagai akibat dari efek gas rumah kaca yang membuat suhu bumi meningkat karena mencairnya es di daerah kutub.

“Dan, pada daerah-daerah yang lebar pantainya tidak cukup, tentu akan membawa dampak serius. Maka, yang perlu dilakukan adalah bagaimana upaya mitigasinya untuk mengurangi dampaknya,” jelas Sukandar.

Desa Wates, Kecamatan Lekok bukanlah satu-satunya desa yang berbatasan langsung dengan Selat Madura. Berdasar data Pemkab, setidaknya ada 17 di Kabupaten Pasuruan yang berbatasan dengan laut. (*)