Perburuan Bonsai dan Satwa Liar Ancam Ekosistem Bukit Binor

9610

Paiton (wartabromo.com) – Ekosistem kawasan hutan Bukit Binor, Kecamatan Paiton. Kabupaten Probolinggo terancam rusak. Penyebabnya adalah perburuan tanaman bonsai dan satwa liar.

Nilai ekonomis tinggi tanaman bonsai membuat permintaan pasar meningkat. Sayangnya, perburuan tanaman perintis itu, harus disertai dengan perusakan hutan, seperti di Desa Binor. Kawasan ini, sering didatangi para pencari bonsai.

Mereka mencari pohon jenis serut, asem cendana dan aneka pohon lainnya yang dapat dijadikan bonsai. Tanaman jenis perintis itu, diambil dengan cara merusak pohon indukan. Ada juga yang langsung didongkel hingga ke akar-akarnya.

“Mereka (pemburu bonsai) semakin ngawur. Kadang sudah didongkel (dicungkil), tapi malah tidak dibawa. Kan akhirnya mati begitu saja,” ungkap Zainal Abidin, salah pegiat lingkungan hidup pada Senin, 31 Agustus 2020.

Melimpahnya bahan baku bonsai, menjadikan hutan di dekat PLTU Paiton itu menjadi ladang perburuan pecinta bonsai. Pastinya praktik itu mengancam kerusakan flora di hutan di Bukit Binor. Bahkan kerusakan tanah yang dapat menyebabkan erosi juga menjadi ancaman.

“Bahkan belakangan, para pemburu bonsai makin berani. Dengan mengerahkan banyak orang, serta menggunakan mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil dari hutan itu,” kata Ketua Perlindungan Rimba dan Satwa Liar Indonesia (Perisai).

Antisipasi kerusakan yang lebih parah, Perhutani Probolinggo bersama Perisai dan 5:am_wildlifephotography melakukan sosialisasi kepada warga sekitar. Mereka juga melaksanakan patroli. Selain menemukan kerusakan alam, mereka juga mendapati jaring halus untuk menjerat burung liar hingga jebakan ayam hutan.

“Sangat disayangkan sekali. Karena kerusakan flora juga mengancam fauna yang berkembang biak di alam liar,” kata Dita Asrul Arista, pegiat lingkungan lainnya.

Hutan Binor dihuni oleh beragam satwa liar langka dan dilindungi. Seperti Elang-laut Perut Putih, Elang-ular bido, Merak hijau, Paok Pancawarna, Bubut Jawa, Kijang Muncak, Landak Jawa, dan Trenggiling. Hewan liar ini, merupakan satwa endemik yang hidup di dalamnya.

“Padahal satwa itu lebih indah di alam liar habitat aslinya. Begitupun fauna yang ada. Jadi kami harap, masyarakat tidak lagi bertindak fatal merusak alam hutan seperti itu,” sebut gadis 19 tahun ini.

Ia berharap remaja putri seusianya, masuk hutan. Turut berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan hidup. Meski hal itu, memberikan kesan dan tantangan tersendiri karena berkumpul dengan lelaki.

“Melalui upaya pencegahan itu kami juga mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan Tindakan yang mampu merusak hutan,” kata mahasiswa semester pertama Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton itu.

Pencegahan penjarahan dan perusakan yang disebabkan pemburu bonsai dan satwa liar diharapkan melestarikan alam kawasan hutan itu. Selain kelestarian flora dan fauna, hutan Bukit Binor, menyuplai air bersih untuk warga sekitar. (lai/saw)

Simak Videonya: