Petani Tengger Bagi-bagi Kubis kepada Warga hingga Wisatawan, Ini Alasannya

1042

Sukapura (wartabromo.com) –Petani lereng Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo menyikapi anjloknya kubis dengan membagikannya (give away) kepada warga di lain kecamatan. Hal ini merupakan bentuk syukur, sekaligus diyakini sebagai cara mendukung wisata Bromo yang tengah dihantam pandemi.

Seperti yang dilakukan oleh Kepala Desa Wonokerto, Heri Dwi. Dengan menggunakan pikap, ia membawa kubis hasil panen ke Desa Brabe, Kecamatan Maron. Kubis siap masak itu, lantas dibagikan ke warga yang berminat. Dalam sekejap tumpukan sayur tersebut berpindah tangan.

“Kebetulan kemarin saya ke sana (Brabe), sekalian aja membawa kubis. Alhamdulillah, ternyata banyak yang minat.  Hal seperti ini juga bentuk syukur terhadap rezeki yang diberikan meskipun harga murah,” ungkap Heri pada Senin, 21 September 2020.

Ia mengatakan harga jual kubis saat ini memang tidak berpihak pada petani. Kubis di ladang masih dihargai Rp200 per kilogram oleh tengkulak. “Jadi memang murah. Tetapi kami sebagai warga Tengger tidak melakukan aksi seperti yang dilakukan petani lain,” tuturnya.
Selain dibagikan, tanaman kubis banyak dibiarkan di ladang. Dengan harapan membusuk dan tertarik menjadi pupuk organik. Cara itu, sebagai wujud dari mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa.
“Budaya Suku Tengger yang memang sangat menghargai setiap rezeki dari Tuhan. Kalau murah, sudah dibiarkan begitu saja di ladang, nggak pernah sampai dibakar atau dibuang sebagai bentuk kekecewaan,” kata Heri.
Petani juga punya opsi lain dalam menyikapi harga jual kubis. Jika harga kubis tak kunjung naik, sayur itu akan diberikan kepada wisatawan yang melintas di jalur wisata Gunung Bromo. “Rencananya begitu. Harapan kami, ketika itu dilaksanakan, bisa mendongkrak jumlah pengunjung Gunung Bromo,” tandas Kades Wonokerto itu. (saw/ono)