Enola Holmes (2020): Detektif Feminis

2312
Review Film

Oleh: Amal Taufik

Sepanjang mengikuti sekuel Sherlock Holmes, mulai dari film yang diperankan Robert Downey Jr. hingga serial televisi yang diperankan Benedict Cumberbatch, saya baru tahu kalau ternyata selain Mycroft, Sherlock Holmes ternyata punya saudara perempuan. Ia adalah Enola Holmes.

Film yang rilis di Netflix tahun 2020 ini mengisahkan bagaimana sisi kehidupan Enola Holmes (Millie Bobby Brown) itu dengan latar Inggris abad ke-19. Oleh ibunya, Eudoria Holmes (Helena Bonham Carter), nama Enola diambil dari kata “alone” alias sendiri. Dan memang sejak kecil ia hidup sendiri, mendapat didikan unik dari ibunya, dan tumbuh menjadi gadis cerdik juga tangguh.

Ketika menginjak usia 16 tahun, Enola tiba-tiba mendapati ibunya menghilang dengan meninggalkan kotak berisi teka-teki. Karena bingung, ia lantas menghubungi 2 kakak laki-lakinya yakni Sherlock (Henry Cavill) dan Mycroft (Sam Claflin).

Namun bukannya membantu, kedua kakak laki-lakinya itu justru menjadi rintangan yang harus ia lalui. Enola akhirnya kabur dari rumah sendirian mencari ibunya ke jantung Inggris: London.

Harry Bradbeer, si sutradara, begitu pandai menyampaikan pesan feminisme dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Sejak adegan yang menunjukkan keinginan Mycroft memasukkan Enola ke akademi perempuan—dengan tujuan agar adiknya menjadi perempuan yang lebih “bermartabat”—nuansa itu sudah terasa.

Enola pertama kali minggat dengan pakaian laki-laki dan bahkan ia tidak keberatan ketika kali pertama bertemu Viscount Tewkesbury (Louis Partridge) di kereta, ia dikira laki-laki.

Bagaimana ia mengenakan pakaian laki-laki ini boleh saja disebut upaya penyamarannya di dunia luar. Akan tetapi bisa juga ditafsirkan itu merupakan upaya film untuk mendobrak label, stigma, atau apapun yang terkait pemerian stereotip berdasarkan pakaian.

Pun dengan latar Inggris abad ke-19 beserta potret perempuan di zaman itu, Enola ditampilkan sebagai perempuan yang sangat-sangat berbeda. Pada zaman itu perempuan di Inggris harus “terdidik” sejak kecil.

Mereka harus punya unggah-ungguh seperti misalnya tata cara makan, tata cara berjalan, serta beberapa skill yang wajib dimiliki perempuan seperti menyulam, membuat sapu tangan, hingga merangkai kerang.

Enola berbeda. Ia membaca sastra, pemikiran sosial-politik, kimia, dan belajar bela diri. Perilakunya yang cerdik, tangguh, nekat, agak urakan, ditambah sejumlah dialognya, khususnya dengan Mycroft dan Tewkesbury, makin menguatkan karakter itu.

Salah satu dialog menggelitik adalah ketika ia didatangi guru dari akademi perempuan dan menolak, kemudian menghardik Mycroft.

Enola: Biarkan aku bahagia. Aku bahagia di sini.
Mycroft: Kau wanita muda, Enola. Kau butuh pendidikan.
Enola: Uji aku dalam hal yang menurutmu perlu kutahu.
Mycroft: Jika kau terdidik, kau tidak akan mengenakan pakaian dalam di depanku. Jika begini, kau tak akan dapat suami.
Enola: Aku tak mau suami!
Mycroft: Itu juga hal lain yang perlu kami didik.

Pesan-pesan feminisme seperti ini diungkapkan dengan adegan riil dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga penonton mudah menangkap emosi yang ditunjukkan Enola ketika berinteraksi dengan siapa pun.
Hanya saja petualangan Enola Holmes membongkar teka-teki seolah kehilangan “ruh” ketika sampai pertengahan film.

Kepingan teka-teki yang memancing pertanyaan hanya muncul di awal-awal film hingga kemudian tak lagi memancing rasa penasaran. Pun sebagaimana film-film Sherlock Holmes biasanya yang penuh kejutan, di film ini hampir tak ada kejutan apapun.

Alhasil meski menyenangkan, Enola Holmes tidak memberikan kepuasan. Apalagi terhadap penonton yang kadung berekspektasi seperti menonton film-film Sherlock Holmes. Namun, bagi para perempuan dan siapa pun yang punya perhatian di isu feminisme, film ini sangat mengasyikkan untuk ditonton. (*)