Tiga Benda Bersejarah asal Sukorejo Lengkapi Koleksi Museum Pasuruan

921
Ilustrasi yoni. Foto: Beritasemarang.

 

Pandaan (WartaBromo.com) – Tiga benda bersejarah asal Museum Dusun Telebuk, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo melengkapi koleksi Museum Kabupaten Pasuruan.

Ketiga benda tersebut berupa 2 yoni dan 1 lumpang. Koleksi baru ini didapat setelah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi pada 6 Oktober lalu.

Dengan tambahan tiga koleksi ini, total koleksi museum yang berlokasi di simpang Kasri, Pandaan itu kini memiliki 234 koleksi.

Saat ini kedua koleksi tersebut masih dibungkus plastik dan ditaruh di luar gedung museum. Untuk sementara, media belum diperbolehkan mengambil gambar benda tersebut.

Baca: Menyambangi Museum Pasuruan, Sebuah Kritikan

Menurut Anang Indarto, kurator Museum Kabupaten Pasuruan, Dua Yoni dan 1 Lumpang ini tidak terlalu memiliki makna historis. Hal ini dikarenakan tidak ada petunjuk yang menjelaskan tentang yoni dan lumpang.

“Baru tanggal 6 (Oktober 2020) kemarin dibawa kesini, setelah dicuci, ditutup plastik, masih menunggu narasinya sebelum dipajang,” terangnya kepada wartabromo saat ditemui di museum.

Dua yoni dan satu lumpang tersebut merupakan hasil dari ekskavasi yang dilakukan BPCB Jawa Timur di dusun Telebuk, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo. Menurutnya dua yoni tersebut bukan merupakan arca pemujaan, melainkan pelambang kesuburan.

Arca Yoni dan Lumpang ini terbuat dari batu andesit seperti struktur batu penyusun Candi Jawi. Diperkirakan oleh Anang, koleksi tersebut merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari.

Tidak banyak informasi yang didapat dari yoni dan lumpang yang ditemukan, seperti ukiran atau tanggal yang tertera dalam yoni.

Untuk menganalisis benda peninggalan sejarah bisa dilihat dari ukiran atau hal-hal spesifik yang disamakan dengan benda peninggalan sejarah semasanya.

“Kemungkinan peninggalan Singosari, dilihat dari tempat asalnya yang berdekatan dengan Singosari, tapi tidak bisa dipastikan. Tidak ada keterangan penjelas saat ekskavasi, tidak ada ukiran juga, biasanya kan ada ukiran, dari ukiran tersebut disamakan dengan ukiran khas masa kerajaan apa,” ungkap Anang yang juga alumnus Arkeologi Udayana ini.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan dalam waktu dekat juga akan melakukan ekskavasi Goa Jepang di Gempol.

Dikonfirmasi terpisah, Ika Ratnawati, Kasi Sejarah dan Kepurbalakaan Disparbud Kabupaten Pasuruan menyebutkan dalam waktu dekat akan melakukan ekskavasi Goa Jepang di Gempol.

“Saya masih mengajukan nota dinas, kalau disetujui bulan depan (akan dikerjakan),” terangnya saat dihubungi WartaBromo, (18/10/2020).

Tentunya ekskavasi yang direncanakan akan menambah jumlah koleksi dari Museum Kabupaten Pasuruan. (oel/asd)