Menyambangi Museum Pasuruan; Sebuah Kritik

1463
Museum Kabupaten Pasuruan yang berada di Bundaran Kasri, Pandaan. Foto: Miftahul Ulum

 

Dibuka hampir dua tahun lalu, museum Kabupaten Pasuruan seharusnya bisa menjadi pusat studi dan literasi sejarah perjalanan Pasuruan. Tapi, ide itu rupanya jauh panggang dari api.

Oleh Miftahul Ulum

BERADA di tengah kota Pandaan, tepatnya di kawasan Bundaran Kasri, lokasi Museum Kabupaten Pasuruan terbilang strategis. Tapi sayang, pandemi yang terjadi menjadikan pengunjung yang datang turun drastis.

Saat WartaBromo kesana, Jumat (17/10/2020) lalu, suasana museum terlihat lengang. Di halaman, hanya terlihat dua sepeda motor yang tengah parkir.

Hari itu, media ini sengaja berkunjung menyusul adanya kabar koleksi teranyar yang baru saja tiba. Yakni, dua batu yoni dan lumpang.

Memasuki museum, sebuah almari berisi buku dan majalah bertema sejarah, ada Babad Tanah Jawi, menjadi suguhan utama. Ada juga majalah dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur.

Setelah mengisi absensi, Anang Indarto, Kurator Museum Kabupaten Pasuruan membantu WartaBromo untuk menunjukkan koleksi baru yang dimaksud.

Ia menunjukkan batu-batu tertutupi plastik yang tergeletak di depan gedung museum. Dua batu Yoni dan 1 lumpang yang baru saja diekskavasi dan rencananya akan dipajang sebagai koleksi.

Yoni dan Lumpang tersebut masih dalam proses pembuatan narasi sebelum dipajang di dalam. “Baru tanggal 6 (Oktober 2020) kemarin dibawa kesini, setelah dicuci, ditutup plastik,” terangnya sembari menunjukkan 2 yoni dan 1 lumpang.

Dua yoni dan satu lumpang tersebut merupakan hasil dari ekskavasi yang dilakukan BPCB Jawa Timur di dusun Telebuk, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo. Menurutnya dua yoni tersebut bukan merupakan arca pemujaan, melainkan pelambang kesuburan.

Arca Yoni dan Lumpang ini terbuat dari batu andesit seperti struktur batu penyusun Candi Jawi. Diperkirakan koleksi tersebut merupakan peninggalan dari Kerajaan Singosari.

Tidak banyak informasi yang didapat dari yoni dan lumpang yang ditemukan. Untuk menganalisis benda peninggalan sejarah bisa dilihat dari ukiran atau hal-hal spesifik yang disamakan dengan benda peninggalan sejarah semasanya.

“Kemungkinan peninggalan Singosari, dilihat dari tempat asalnya yang berdekatan dengan Singosari, tapi tidak bisa dipastikan, karena tidak ada keterangan penjelas saat ekskavasi, tidak ada ukiran juga,” ungkap Anang yang juga alumnus Arkeologi Udayana ini.

Anang menambahkan banyak sekali peninggalan seperti arca atau yoni yang ada di Kabupaten Pasuruan. Akan tetapi kesadaran dari masyarakat masih rendah terkait peninggalan bersejarah. Sehingga banyak peninggalan bersejarah yang masih berada di tempat asalnya dengan perawatan seadanya.

“Ada yang dicor bahkan, makanya BPCB Jawa Timur tidak mau mengekskavasi,” ungkapnya.

Terkait kunjungan ke Museum Kabupaten Pasuruan, hari kunjungan selama new normal hanya Senin-Sabtu. Jumlah pengunjung juga masih sepi, seperti Jumat (17/10/2020) lalu, hanya 1 pengunjung saja.

Pemandangan itu berbeda dengan sebelum pandemi. Saat itu, kunjungan ke museum bisa mencapai 200 orang setiap harinya.

Akan tetapi sebelum pandemi, kunjungan ke Museum Kabupaten Pasuruan sebelum pandemi, bisa sampai 200 orang.

“Bisa mencapai 200 pengunjung sehari, kadang rombongan anak sekolah, kadang wisatawan juga,” jelasnya.

Ika Ratnawati, Kasi Sejarah dan Kepurbalaan Dinas Pariwisata, mengatakan, saat ini total koleksi museum mencapai 234 koleksi. 58 diantaranya pinjam dari BPCB Trowulan.

Di luar konteks koleksi yang masih terbatas, kiranya harus ada perubahan perspektif dalam pengelolaan museum.

Tidak lagi memandang museum hanya sebagai cabinet of curiosities atau wunderkammer saja. Dimana orang datang hanya untuk terpukau melihat hal-hal unik dan menabjubkan saja. Tidak ada pembelajaran dan penelitian lebih lanjut yang berguna bagi masyarakat.

Seperti yang terjadi di museum ini yang seringkali hanya sebagai wahana rekreasional saja. Bahkan, ada anggapan tentang museum hanya sebagai gudang “barang antik”.

Banyak hal yang perlu dibenahi dari museum Kabupaten Pasuruan ini. Seperti koleksi yang belum lengkap, sampai pada penyelenggaraan kegiatan yang bisa memicu pengembangan pengetahuan.

Soal kebersihan saja, ketika media ini mencoba toilet yang ada di lantai 2, airnya  mati dan berbau. Padahal peluang museum sebagai icon wisata sekaligus pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dalam hal ini Sejarah Kabupaten Pasuruan terbuka lebar. (*)