Tanpa Kepastian Harga, Petani Cengkih Kian Meringkih

1640
TAK PASTI: Rusmini, petani cengkih di Ledug, Kecamatan Prigen memilah biji cengkih seusai dijemur. Foto: Miftahul Ulum.

 

Berkah alam menjadikan Kabupaten Pasuruan memiliki banyak komoditas unggulan. Salah satunya cengkih. Sayang, harga yang tak stabil acapkali merugikan petani.

Oleh: Miftahul Ulum

SETIDAKNYA ada 10 kecamatan dengan luas lahan sekitar 1300 hektare yang menjadi sentra produksi cengkih di Kabupaten Pasuruan.

Kesepuluh kecamatan itu adalah Tutur, Purwodadi, Purwosari. Kemudian, Kecamatan Sukorejo, Puspo, Pandaan, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, dan Prigen.

Akhir pekan lalu, WartaBromo berkesempat berbincang dengan Wahyudiono (50), petani sekaligus tengkulak cengkih di Lingkungan Jeruk, Kelurahan Ledug.

Kebetulan, daerah yang berada di lereng Gunung Arjuno-Welirang ini menjadi salah satu penghasil cengkih di Kecamatan Prigen. Deretan tanaman cengkih terlihat menghampar.

Sebelumnya, Wahyudi -sapaan Wahyudiono- hanya petani cengkih biasa. Tapi, sudah lima tahun ini bersama istrinya, Rusmini (47) ia nyambi jadi tengkulak. “Kadang juga nyuling juga untuk diambil minyaknya,” ujar Wahyudi.

Di depan rumahnya, Rusmini sedang menjemur cengkih dari hasil petikan sebelumnya. Sesekali ia memilah daun yang tercampur guna dibersihkan.

Menurut Rusmini, butuh waktu 5-6 hari untuk cengkih bisa benar-benar kering maksimal. Setelah itu, baru dipilah sebelum akhirnya disetor ke pengepul di Blitar.

Dikatakannya, musim panen seperti sekarang ini seharusnya menjadi berkah bagi petani cengkih seperti dirinya. Tapi, harga cengkih yang drop membuatnya gamang.

“Ya bagaimana sekarang cuma Rp 50 ribu per kilo, dulu bisa Rp 90 ribu, tidak tahu kenapa,” ungkapnya dengan nada lesu.

Tak lama berbincang, Wahyudi datang dengan mobil bak terbuka yang sudah tua. Ia pun mengajak WartaBromo untuk melihat lebih dekat proses panen cengkih di kebunnya.

Sekitar 1 km dari rumahnya, kami sampai di kebun miliknya. Ukurannya cukup luas, sekitar 50 x 40 m. Diantara pohon cengkih, terdapat pohon kopi yang tengah berbunga putih memunculkan semerbak wangi.

“Ini Mas, mereka ini yang panen, kadang bisa 4-4,5 kg per pohon, kadang 3 kg, tergantung pohonnya lebat atau tidak,” tuturnya sambil menunjuk buruhnya yang sedang memetik cengkih.

Kecamatan Prigen memang termasuk sebagai salah satu penghasil cengkih Kabupaten Pasuruan. Merujuk data kabupaten pasuruan.go.id, ada 9 kecamatan lain yang juga penghasil cengkih (lihat grafis).

Wahyudi sendiri selama panen tahun ini sudah menghasilkan 2,5 ton cengkeh. Panen biasanya berlangsung selama empat bulan. Antara bulan Juli hingga Oktober dalam setahun.

Di kawasan Ledug, cengkih pertama kali diperkenalkan tahun 1982 silam. “Dulu itu pak Diran, beliau mantan tentara. Karena lihat di daerah lain berhasil, ia mengajarkan keahlian berkebun cengkeh ke warga, dari menanam sampai panennya,” terangnya. Hingga kini, ada 125 warga Ledug yang mengandalkan pendapatannya dari berkebun cengkih.

Sembari bercerita, Wahyudi mengajak media ini berjalan menelusuri sudut kebun sembari mengamati para pekerja yang sedang memetik cengkih.

Wahyudi mengungkapkan, pada masanya, komoditas satu ini pernah mengalami masa emasnya.

Sekitar 4-5 tahun lalu, harga cengkih tembus hingga Rp 90-100 ribu per kilogramnya. Kini, harga turun separonya. Cuma Rp 50 ribu setiap kilonya.

Dengan harga segitu, margin keuntungan yang didapat Wahyudi hanya Rp 15 ribu. Itu pun untuk cengkih kering. Kalau tidak, ia justru tekor untuk ongkos buruh petik.

“Habis buat upah kerjanya, upahnya saja manteb Rp 100 ribu, per hari satu orang” terangnya.

Sebagai tengkulak, ia menjual cengkeh yang dikumpulkan dari para petani ke pengepul di Blitar. Dari pengepul tersebut, cengkeh baru disetor ke pabrik rokok.

Dalam beberapa tahun terakhir harga cengkih tak pernah stabil. Paling banter di kisaran Rp 70-80 ribu rupiah.

Menurut Wahyudi, ketatnya kebijakan pemerintah perihal rokok menjadi penyebabnya. Akibatnya, banyak perusahaan rokok kecil yang guling tikar. Dalam situasi seperti itu, harga cengkih lebih banyak dikendalikan pabrikan rokok besar.

Sebab lainnya, karena mekanisme pasar sebagai akibat menurunnya permintaan pasar lantaran banyak pabrik rokok kecil tutup tadi. Sementara persediaan melimpah.

“Pabrik yang menentukan harga, dulu pabrik kecil ada, harga cengkeh bisa bersaing, sekarang tinggal yang besar, ya sudah memonopoli harga. Mau bagaimana lagi,” terangnya.

Pemerintah sendiri dinilai Wahyudi kurang berperan dalam upaya perlindungan terhadap petani cengkih. Kegiatan-kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kapasitas petani terkait hama dan penyakit cengkih jarang dilakukan.