Budidaya Labu Madu, Panen Rupiah saat Wabah

2923
Pengunjung berfoto di lokasi budidaya labu madu di Magersari, Pleret, Kabupaten Pasuruan. Foto: Romadoni.

 

‘Keisengan’ warga Magersari, Desa Pleret, Kabupaten Pasuruan berbuah berkah. Labu madu yang dibudidayakannya kini menghasilkan rupiah.

Oleh: Akhmad Romadoni

PANDEMI Covid-19 membuat warga Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan lebih kreatif. Melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), mereka sukses mengembangkan labu madu.

Pekan lalu, WartaBromo berkesempatan melihat langsung lokasi budidaya yang buah dengan nama latin Cucurbita Moschata itu. Kala itu, terlihat beberapa pengunjung di lokasi.

Sukarto, pengelola sekaligus perawat labu madu menjelaskan, ihwal budidaya labu madu ini berawal dari kebiasaannya nonton YouTube.

“Awalnya yah melihat di YouTube itu. Kok begitu unik, akhirnya kita buatlah dengan modal awal 50 bibit tanaman buah labu madu,” jelas Sukarto, pekan lalu.

Diuntungkan dengan melimpahnya air di daerah tersebut, ia dan warga lainnya mencoba menanamnya. Dan, buah yang dihasilkan melimpah.

Bentuknya yang seperti kacang tanah berukuran jumbo tentu menjadi keunikan tersendiri. Apalagi, daging buah berwarna mentega yang manis menjadikannya digemari kalangan berduit.

Itu pula yang membuat harganya lumayan mahal. Satu kilogram di supermarket bisa mencapai Rp 40-50 ribu perkilo. Tapi, di lokasi ini, cukup membayar Rp 15 ribu perkilo sudah bisa membawa pulang labu madu.

Bagi Sukarto, untuk membudidayakan tanaman ini tergolong rumit. Terutama ketika memasuki musim bunga. Sebab, agar menjadi buah, harus dilakukan penyerbukan.

“Susahnya yah itu, mengawinkan dua bunga yang ada di tanaman tersebut,” katanya.

Satu tanaman labu madu bisa menumbuhkan 4 hingga 6 buah. Beratnya beragam, mulai dari 1-3 kilogram satu buahnya.

Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengembangan budidaya labu madu sangat mmebantu upaya pengembangan wisata desa, yang biasa dikenal dengan Wisata Dam Pleret 1904.

“Alhamdulillah, panen buah labu madu bisa membantu untuk pengembangan wisata di Dam Pleret ini,” ujar Heru, Pokdarwis Dusun Magersari.

Omset kurang lebih 3-4 juta saat panen. Karenanya, sedikit demi sedikit bisa digunakan untuk menambah fasilitas wisata seperti, tempat untuk berswafoto hingga pembersihan atau normalisasi sungai.

Selain nilai jual yang tinggi, budidaya buah yang juga dikenal dengan nama Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) ini juga menarik untuk dijadikan daya tarik agrowisata. Potensi itu kini tengah digarap oleh Pokdarwis dan warga sekitar.

Mereka menggagas agrowisata hortikultura dengan labu madu sebagai primadonanya. Selain labu madu, di areal KRPL juga ditanam, pepaya, singkong hingga cabai.

“Jika di beberapa tempat ada wisata petik buah apel, petik strawberry, kami mencoba mengembangkan agrowisata petik buah labu madu. Mungkin bentuknya yang unik dan belum banyak dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri,” tutur Heru.

Ia berpendapat pengembangan wisata petik labu madu tersebut sangat memungkinkan. Apalagi, Wisata Dam Pleret sudah banyak pengunjung. Saat weekend, pengunjung bisa mencapai ratusan.

“Potensinya lumayan karena pengunjung disini antara lain goweser, yang datang kadang sampai puluhan, ada juga kelompok ASN hingga kelompok pelajar.”

Pengembangan wisata diharapkan bisa berdampak untuk masyarakat sekitar, mulai dari anak muda hingga sejumlah warga yang terkena PHK akibat covid-19.

Dewi Cholila, salah satu pengunjung dari kelompok guru merasa senang bisa berkunjung ke budidaya labu tersebut. Pasalnya, selain buahnya secara langsung, ia juga bisa membeli bibitnya dilokasi.

“Selain bisa beli labu madu, saya juga bisa mendapatkan bibitnya, yang nantinya saya kembangkan di rumah,” ungkap Dewi saat diwawancarai WartaBromo.com, pekan lalu. (*)