Merawat Mimpi, Merajut Asa Anak-anak yang Tak Punya Pilihan

1142
Anak-anak di Ponpes Metal Rejoso Lor, Kabupaten Pasuruan. Foto: asad asnawi.

Anak-anak tidak membutuhkan banyak hal. Pemberian terbaik untuknya adalah kasih sayang, biarpun mereka tak pernah tahu akar keluarganya.

Oleh: Asad Asnawi

“………MALAM-malam kadang saya menangis. Mereka ini tidak pernah merasakan kehangatan selimut orang tua……”

Penggalan kalimat itu meluncur dari bibir pengasuh Pondok Pesantren Metal Al-hidayah, Gus Nurkholis saat ditemui di kediamannya di komplek pondok, Desa Rejoso Lor, Kabupaten Pasuruan, Minggu (18/20/2020).

Nada bicaranya lirih. Sorot matanya lurus ke depan. Melalui pintu rumah yang terbuka lebar, ia menerawang ke arah bocah-bocah yang tengah asyik bermain di sudut halaman.

Jumlah mereka cukup banyak, 10 hingga 15 bocah. Dari penampakannya, usia mereka seumuran. Antara 3-5 tahun. “Ndak tahu,” ujar seorang bocah saat ditanya usianya sembari menggelengkan kepala.

Sejatinya, menanyakan usia kepada bocah-bocah ini bisa jadi merupakan hal paling absurd. Betapa tidak. Siapa orang tuanya dan darimana asalnya saja, mereka tak pernah tahu. Mereka tak pernah tahu “akar” mereka.

Tetapi, di pesantren ini, anak-anak itu setidaknya menemukan keluarga besarnya. Di pesantren ini pula mereka memiliki banyak teman untuk belajar, bermain dan gembira ria bersama.

Ditemani dua santri senior, bocah-bocah itu terlihat begitu menikmati waktu bermain. Mereka saling berlarian disertai tawa-tawa kecil. Ada pula yang tampak belajar memanjat pohon.

Bagi bocah-bocah ini, Minggu sore adalah waktu yang paling leluasa bagi mereka untuk bermain. Itu karena di akhir pekan, jadwal mengaji relatif kosong karena banyak pendidik yang libur.

“Senin sampai Sabtu biasanya mengaji. Kalau minggu begini ustadnya libur. Ada jadwal mengaji untuk malam hari,” ujar Abdullah, salah satu santri senior di sela mengawasi adik-adiknya bermain.

Abdullah sendiri sudah 15 tahun berada di pondok ini. Masa yang sama dengan usianya saat ini. “Ya dari kecil saya sudah disini,” ungkapnya sembari tersenyum.

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul setengah empat sore. Jam bermain bocah-bocah itu pun berakhir. Oleh pendamping, mereka kemudian diminta menanggalkan pakaiannnya, lalu berkumpul; saatnya mandi.

Sebuah pemandangan menyayat hati yang jarang ditemui di pesantren-pesantren pada umumnya. Karena belum bisa mandi sendiri, bocah-bocah itu lantas diminta berbaris. Berbekal air di ember serta gayung, pendamping memandikan mereka satu per satu.

Semua proses itu berlangsung tertib. Tak ada yang rewel atau merengek laiknya bocah ketika dimandikan. Bahkan, ketika selesai pun, mereka tetap berjalan rapi menuju kamar untuk berganti pakaian.

Tak seperti pesantren kebanyakan, lembaga yang berada di pinggir Jalur Pantura ini memang tergolong unik. Berdiri tahun 1988 lalu, pesantren ini lebih banyak menampung santri ‘bermasalah’.

Selain mantan narapidana dan pengguna narkoba, sebagian santri merupakan bocah-bocah dari kelahiran yang tidak diinginkan . Ada yang dari hasil hubungan gelap (diluar nikah) atau dari wanita dengan gangguan jiwa bahkan yang kehilangan akal.

Khusus untuk wanita dengan gangguan jiwa yang ditemukan dalam keadaan mengandung. Mereka akan dibawa ke ponpes untuk dirawat hingga saat bersalin tiba. Bocah-bocah yang sebelumnya asyik bermain adalah sebagian dari mereka.

Pengasuh pesantren Gus Nurkholis mengungkapkan, bocah-bocah itu bukan hanya berasal dari wilayah Pasuruan. Tapi, juga daerah lain di Indonesia. “Macam-macam. Ada yang kami temukan, dibuang orang tuanya,” terang Gus Nur, sapaannya.

Karena berasal dari latar belakang berbeda, para santri yang totalnya berjumlah 130 orang itu tinggal di asrama berbeda. Mereka menempati bangunan asrama yang tersebar di area pondok seluas 13 hektare ini.

Di bagian depan, tepat di sebelah kiri pintu gerbang adalah khusus untuk santri dengan gangguan jiwa, eks pecandu narkoba, serta santri lain pada umumnya. Sementara di sisi selatan, khusus untuk bocah-bocah yang ditampung sejak bayi. Sedang di sisi barat, tepat di belakang bangunan sekolah dasar (SD) untuk santri perempuan.

Di asrama santri perempuan ini pula bayi-bayi yang diadopsi biasanya dirawat. Kebetulan, komplek asrama perempuan juga lebih dekat dengan kediaman pengasuh. Balita yang sudah memasuki usia 1 tahun keatas (sudah berjalan), mereka dikumpulkan dengan bocah-bocah lain yang seumuran.