Mereka Yang Bertahan di Tengah Hempasan Wabah

595
SURVIVE: Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi sentra peternakan sapi perah di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Minggu (19/07/2020).

 

Sektor ekonomi terpukul hebat akibat pandemi. Tetapi, orang-orang ini terbukti mampu bertahan. Apa kuncinya?

Oleh: Asad Asnawi

MULYONO, warga Balunganyar, Kabupaten Pasuruan segera beranjak setelah dua wadah berkapasitas 25 liter itu penuh oleh susu, akhir Agustus 2020. Usai mengenakan masker, ia lantas bergerak ke tempat penampungan dengan menggunakan sepeda motor.

Di lokasi penampungan yang berjarak 1 kilometer itu, susu perahannya disetor sebelum akhirnya nanti dikirim ke perusahaan. “Bayarnya dua minggu sekali. Kan ada rekapannya nanti,” kata Mulyono setelah kembali ke rumah.

Aktivitas seperti itu rutin dilakoni Mulyono sejak masih remaja. Kini, usianya telah menginjak 57 tahun. Pagi-pagi saat matahari baru sepenggalah, ia sudah sibuk dengan memerah susu. Setelah susu disetor, ia pergi merumput, mencari pakan untuk empat ekor sapi miliknya. Kegiatan memerah kembali ia lakukan kala sore menjelang.

“Sehari memang dua kali. Pagi dan sore. Kalau dirata-rata, antara 50-60 liter setiap harinya,” terangnya. Dengan harga Rp 4500 per liter, pendapatan Mulyono bisa mencapai Rp 225-270 ribu setiap harinya.

Pendapatan yang lumayan. Terlebih di tengah pandemi seperti sekarang ini. Saat sebagian orang kehilangan pemasukan, orang-orang seperti Mulyono justru bisa bertahan berkat sapi-sapinya.

“Lumayan untuk bayar sekolah dan mondok. Karena meski ada corona, bayarnya kan tetep,” lanjut bapak empat anak ini sembari tersenyum.

Mulyono bukanlah satu-satunya warga yang mampu bertahan dari hempasan ekonomi akibat pandemi. Dari 7.000 KK di Balunganyar, sekitar 90 persen mengandalkan penghasilannya dari sapi. Karena itu pula, di desa ini, jumlah sapinya lebih banyak daripada penduduknya.

“Karena sudah menjadi mata pencaharian, sampai-sampai jumlah sapinya lebih banyak dibanding penduduknya. Sapinya 8000 ekor, sementara warganya 7000 orang,” kata Kepala Desa (Kades) Balunganyar, Sholeh, awal Oktober lalu.

Bagi Soleh, kebiasaan warga beternak sapi itu kini seolah menjadi berkah. Sebab, kontraksi ekonomi yang terjadi akibat pandemi dinilainya tak banyak berdampak pada warganya.

“Ada susu yang tetap menghasilkan. Dan itu lumayan lho karena rata-rata bisa sampai 50 liter per hari,” lanjut Sholeh yang sudah tiga periode menjabat sebagai kades Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan ini.

Susu bukanlah satu-satu keuntungan yang didapat warga dari beternak sapi. Berkah lainnya, warga bisa menghemat pengeluaran. Itu karena limbah kotoran sapi dimanfaatkan untuk biogas.

Berkat konversi energi ini pula, warga bisa menghemat pengeluaran Rp 50-80 ribu setiap bulannya. “Bersyukurlah kita bisa bertahan berkat potensi lokal yang ada,” sambung Sholeh.

Desa Balunganyar bukanlah satu-satu desa yang mampu bertahan saat pandemi. Desa-desa basis peternak dan penghasil susu justru lebih survive ketimbang masyarakat urban.

Indikator tersebut salah satunya bisa dilihat dari data Dinas Sosial (Dinsos) penerima jaring pengaman sosial (JPS) untuk warga terdampak Covid-19. Dimana, data penerima dari kelurahan lebih banyak daripada mereka yang tinggal di pedesaan.

Di Desa Balunganyar, berdasar data Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pasuruan, tak lebih dari 30 warga yang masuk daftar penerima JPS. Sementara di Kelurahan Gempeng, 714 warganya masuk dalam daftar penerima. Begitu juga dengan desa-desa lain penghasil susu lainnya.

“Kelurahan kan lebih komplek ya. Karena sebagian bekerja di sektor industri yang kebetulan terdampak Covid-19. Jadi, banyak yang dirumahkan. Kalau desa, masyarakatnya lebih banyak petani atau peternak,” ujar Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Pasuruan, Suwito Adi.

Menurutnya, dengan segala potensi lokal yang dimilikinya, masyarakat desa lebih bisa bertahan ketimbang warga perkotaan yang mengandalkan penghasilan dari industri atau jasa.

“Di desa, masih ada lahan yang memungkinkan warga untuk kreatif. Dengan bercocok tanam atau lainnya. Ini yang sulit dilakukan masyarakat perkotaan. Potensi apa yang ada di desa, itu coba kita dorong terus,” lanjutnya.

Nah, kreativitas itu pula yang akhirnya dilakukan sekelompok warga di Dusun Magersari, Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Himbauan pemerintah untuk beraktivitas di rumah mereka manfaatkan untuk membudidayakan labu madu. Kendati semula hanya dimaksudkan sebagai pengisi waktu saat pandemi, kini mereka mulai menikmati hasilnya.