Ada Bilik Kangen di Ponpes Nurul Jadid

5580

Paiton (wartabromo.com) – Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid di Paiton, Kabupaten Probolinggo menyediakan bilik kangen bagi santri dan wali santri. Bilik ini dimaksudkan sebagai upaya beradaptasi dengan kebiasaan baru saat pandemi Covid-19.

KH. Moh Zuhri Zaini selaku pengasuh pesantren melarang wali santri berkunjung menemui santri atau putra-putrinya selama pandemi corona. Aturan itu berlaku bagi seluruhnya. Termasuk wali dari santri baru yang baru mondok.

“Tujuannya untuk mencegah penularan Covid 19 di lingkungan pesantren,” kata Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, Faizin Syamwiel kepada jurnalis wartabromo.com pada 25 Oktober 2020.

Keputusan itu, dirasa berat bagi orangtua dan santri. Sehingga pada 21 Oktober, kunjungan sudah bisa dilakukan. Wali santri sudah dibolehkan bertemu putra-putrinya. Tapi dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Ia mengatakan kebijakan membolehkan kunjungan itu, diambil atas masukan dan permintaan wali santri. Terutama wali dari santri baru. “Kami ambil jalan tengah. Tapi dengan protokol Covid 19. Kami koordinasikan dengan tim gugus tugas pesantren,” jelasnya.

Pengurus pesantren membangun 30 bilik pertemuan. Sebanyak 11 bilik  disiapkan untuk santri putra. Lokasinya di balai pertemuan. Sisanya, 19 bilik disiapkan untuk santri putri ditempatkan di lapangan parkir.

Bilik ini, terbuat dari tabir plastik transparan. Antara santri dan walinya dibatasi oleh dua meja atau 1,5 meter. “Sehingga santri tak bisa bersentuhan fisik dengan walinya. Seperti berjabat tangan atau berpelukan sebagai obat rindu. Meski ada tangis kerinduan di antara mereka,” sebut Faizin.

Baik santri maupun walinya, wajib bermasker. Keduanya juga harus mencuci tangan pakai sabun dan menjalani pengukuran suhu tubuh sebelum masuk bilik. “Barang (dari wali santri, Red) tak bisa diberikan langsung. Tapi lewat loket khusus yang telah disiapkan,” terangnya.

Dalam sehari, layanan berkunjung ini dibatasi maksimal 400 saja. Dibagi dalam dua shift, pagi dan siang. Durasi pertemuan juga dibatasi, maksimal 2 jam. Tak boleh makan di bilik pertemuan. Wali santri dapat berkunjung hari apa saja, kecuali Senin dan Jumat

Sehari sebelum berkunjung, wali santri harus mendaftar melalui nomor kontak khusus yang disediakan. Saat mendaftar, wali santri mendapatkan kepastian jadwal bertemu putra-putrinya. Apakah pada shift pagi atau siang.

“Mereka (wali santri) harus sehat. Tidak batuk, flu, demam atau sedang sakit lainnya. Wali santri yang berkunjung dibatasi 2 orang, boleh kedua orang tuanya atau wali yang terdaftar dalam buku mahram,” ujar Faizin mengakhiri perbincangan.

Kebijakan pesantren itu, tentu disambut antusiasme oleh wali santri. Seperti yang diungkapkan oleh Affan Faruq, wali santri asal Banyuwangi. “Mengobati rasa kangen wali santri pada anaknya di pesantren,” sebutnya.

Affan memahami ketatnya aturan tersebut merupakan ikhtiar pesantren menjaga keselamatan bersama. Terutama saat pandemi Covid 19 belum berakhir. “Meski berat bagi, kami memahami keputusan pesantren,” ucapnya.

Senada dengan Affan, Siti Nurbaya, wali santri asal Probolinggo, juga merasa bahagia dapat melepas kangen kepada anaknya. Meski tidak seleluasa ketika belum ada pandemi Covid-19.

“Saya bahagia sekali meski hanya bertemu 20 menit. Itu sangat cukup,” ungkap seusai bertemu dengan anaknya di Ponpes Nurul Jadid. (saw/ono)