Mengunjungi Kampung Tempe Parerejo; Cetak Petani Milenial, Pernah Magang di Jepang

907
KAMPUNG TEMPE: Monumen bertuliskan.kampung tempe bersebelahan dengan Gapura masuk Desa Parerejo.

Kampung Tempe di Desa Parerejo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan punya keunikan. Di Kampung ini pernah menghasilkan inovasi olahan tempe sampai 14 jenis. Di Kampung ini pula pernah mencetak petani milenial yang pernah magang di negeri Sakura, Jepang.

Muhammad Hidayat, Pasuruan

AROMA kedelai menyeruak saat Warta Bromo memasuki kampung tempe Parerejo, Rabu (14/10). Sebuah kampung yang hanya berjarak 1 Km ke selatan dari Kebun Raya Purwodadi. Dikatakan kampung tempe, karena banyak pengerajin tempe di desa tersebut. Tercatat ada 240 pengerajin yang mengolah bahan kedelai tersebut.

Saat memasuki kampung tempe ini, Anda akan menjumpai sebuah monumen berukuran besar. Bentuknya berpadu dengan gapura. Di sebelah kiri Gapura terdapat tulisan besar berwarna putih, “Kampung Tempe Desa Parerejo Kecamatan Purwodadi Pasuruan”.

Ketika masuk ke dalam gang, bau kedelei semakin tajam. Warta Bromo kemudian menuju rumah Irfan, 37, Ketua Paguyuban Kampung Tempe yang juga salah satu pengerajin. Suara kecibak air  dan kemertak kayu terdengar jelas di rumah produksi itu. Sesekali terdengar canda para buruh yang sedang mengolah tempe dan tahu.

PERNAH KE NEGERI SAKURA: Ferry Setyawan saat menunjukkan sertifikat magang di Jepang. Foto bawah; Ferry memperlihatkan hasil produksi tempe miliknya yang sudah proses peragian.

“Kebetulan rumah yang dibuat produksi tempe dan tahu ini saling berdekatan. Kita (pengerajin) masih famili,” ujar Irfan sambil menunjukkan rumah produksi tempe. Di tempat itu, Irfan juga mengenalkan omnya bernama Ansori. Lalu saudaranya, Budi dan beberapa buruh sedang memproduksi tahu. Suara mesin yang bising dan nyala api untuk memasak tahu membuat kami harus melihat dari kejauhan.

DILATIH KEMENTERIAN: Mukhammad Irfan saat memperlihatkan bukti sertifikat pelatihan dari Kementerian Perindustrian RI pada 2019 lalu.

Biasanya mulai siang hingga tengah malam, para pengerajin terlihat sibuk memproduksi tempe atau tahu. Baru menjelang tengah malam, deretan pikap berjejer untuk mengantarkan barang dagangan mereka ke pasar.

Pasar tempe Parerejo bisa dikirim sampai lintas kota. Penjualan bisa sampai pasar Probolinggo, pasar besar Kota Pasuruan, Sidoarjo hingga pasar Lawang-Malang. “Mungkin kalau tidak pandemi, desa kami sudah merencanakan untuk buat pasar tempe sendiri,” ujar Irfan.

NUTRISI KLOMOTAN KEDELAI: Manfaat limbah kedelei juga baik dikonsumsi untuk penggemukan hewan ternak.

Sebelum pandemi covid-19, Irfan mengaku pengerajin tempenya bisa memproduksi kedelei sampai 9.600 Kg atau hampir 10 ton per hari. Bahkan, para pengerajin yang sudah dilatih sudah mampu memproduksi 14 bahan jenis olahan dari tempe. Mulai dari tempe mendol, tempe menjos, tempe kering, Kripik. Lalu, brownis, nugget, jenang, coklat.

Selain itu tempe juga bisa buat Bakpia, es krim, Sosis, Pudding, Burger dan cookis (kue kering).
Bahkan, Kampung Tempe Parerejo ini juga sempat menarik minat dari beberapa institusi. Pengerajin tempe Parerejo pernah dilatih langsung dari Kementerian Perindustrian RI pada 2019.

Juga pernah mendapat pendampingan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya dalam pembuatan sari dan es puter dari bahan tempe.

Setelah berbincang cukup lama, Warta Bromo pun meminta untuk diantarkan menuju rumah Ferry Setyawan, 30. Seorang petani milenial yang dikenal ulet dan berbakat. Sebelumnya, nama Ferry didapat dari Ketua KTNA Kabupaten Pasuruan, Yoyok.

“Itu rumahnya Ferry. Mungkin anaknya ada di rumah,” ujar Irfan yang menunjuk rumah berlantai dua itu.

Mendengar kedatangan kami, Ferry pun keluar rumah dan menyambut kami dengan ramah. “Silahkan masuk, Mas. Mari berbincang saja di dalam,” ujarnya. Ferry pun memulai ceritanya ketika ingat saat susah dulu. “Rumah ini dulu tidak begini. Masih gedek. Ini hasil saya diajari bapak bertani sejak saya masih kelas 3 SMP,” imbuhnya memulai cerita.

Ketika kelas 3 SMP, usia Ferry saat itu masih 15 tahun. Ia pun sudah belajar bertani. Dia diminta sang ayah Joko Wicaksono untuk memproduksi tempe milik keluarga. Selain itu ia juga rajin memeras susu sapi untuk dijual di koperasi terdekat. Nutrisi sapi perah itu didapat dengan memanfaatkan limbah tempe milik keluarganya.

Pekerjaan ini ia jalani sampai berada ke jenjang SMA Darut Taqwa, Purwosari.
Sebelum ke sekolah, setiap pagi hari ia memeras susu untuk dijual. Kemudian saat pulang sekolah, ia menyabit rumput untuk sapi-sapi milik bapaknya. Dan malam harinya ia membantu memproduksi tempe. “Bahkan, saat sekolah SMA, saya bisa buat bayar sekolah sendiri. Terus mencicil beli motor sendiri,” urainya.