Dekat PLTU, Sebagian Warga Tambak Ukir Belum Nikmati Listrik

1101
Bupati Probolingo Puput Tantriana Sari saat mengunjungi Desa Tambak Ukir beberapa waktu lalu.

Kotaanyar (wartabromo.com) – Sebagian warga di Desa Tambak Ukir, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo belum menikmati aliran listrik. Padahal wilayah ini dekat dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton.

Desa yang juga masuk dalam kategori desa tertinggal ini termasuk wilayah dengan kontur alam pegunungan. Kondisi geografis itu membuat sebagian warganya tidak menikmati listrik dari PLN. Padahal, lokasinya berbatasan langsung dengan Kecamatan Paiton yang menjadi tempat berdirinya PLTU.

“Ya itu betul, memang sebagian warga belum menikmati listrik dari jaringan PLN. Tetapi banyak yang sudah nyalur atau numpang listrik satu sama lain. Karena mereka tidak memiliki meteran sendiri,” kata Camat Kotaanyar, Teguh Prihantoro mengakui kondisi itu pada Selasa, 10 November 2020.

Selain listrik, kendala lainnya menurut Teguh adalah akses jalan menuju Tambak Ukir yang terbilang memprihatinkan, karena hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat. Jika berpapasan, salah satu kendaraan harus berhenti.

“Tidak ada akses lainnya. Roda dua juga begitu, harus minggir dulu. Karena jalannya satu dan itu desa tujuan bukan transit. Ditambah lagi, kotoran sapi yang meluber ke jalan raya di saat musim hujan,” ungkap Teguh.

Dalam konteks pengembangan, untuk meningkatkan Indeks Desa Membangun (IDM) Tambak Ukir, maka perlu campur tangan semua pihak. Karena Tambak Ukir memang masih lemah di beberapa sektor. Yaitu, lemah di indeks ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan indeks ketahanan ekologi atau lingkungan.

“Tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa saja, desa ini perlu campur tangan. Baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi,” ujar mantan Sekretaris KPU Kabupaten Probolinggo itu.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Probolinggo, Tatok Krismahento mengatakan Pemkab Probolinggo menegaskan, tahun depan tidak ada lagi desa tertinggal. Desa Tambak Ukir ditargetkan bisa naik kelas menjadi desa berkembang.

Untuk mewujudkannya, menurut Tatok, harus ada sinergitas antara organisasi perangkat daerah (OPD). Sebab, pengentasan desa tertinggal tidak bisa hanya dilakukan oleh satu OPD.
“Tidak bisa diselesaikan satu OPD. Polanya nanti akan berintegrasi. Nanti kami upayakan akan lebih baik lagi dan pada 2021 tidak akan ada lagi (desa tertinggal),” ujarnya.

Menurutnya, kendala yang menjadikan adanya satu desa masih masuk kategori desa tertinggal adalah akses transportasi. Desa itu merupakan desa tujuan, bukan desa transit. Desa Tambak Ukir merupakan desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Situbondo.

“Selain akses yang menjadi kendala utama, juga akses evakuasi ketika kebencanaan. Sehingga, membuat penilaian Indeks Desa Membangun (IDM) menjadi rendah,” terang pria asal Kabupaten Lumajang itu.

Ia tidak menampik jika target bupati pada 2018 lalu belum terpenuhi. Alasannya, karena adanya pandemi Covid-19. Anggaran pembangunan desa minim karena banyak dialokasikan untuk penanganan corona.

“Memang target Ibu (bupati) tidak terpenuhi. Tetapi, untuk target dinas sudah terpenuhi. Desa banyak yang naik level atau tingkat,” tandas penyuka fotografi itu. (saw/ono)