Kenali Kondisi Bayi dari Aroma Tubuhnya

1741

 

Pasuruan (Wartabromo.com) – Siapa sih yang gak suka dengan aroma khas bayi. Sayangnya, aroma ini ternyata tidak bertahan lama.

Aroma khas bayi bertahan selama beberapa minggu dan akan menghilang seiring bertambahnya usia si kecil. Nah, ketika aroma ini hilang, bisa saja berubah menjadi bau badan.

Mengutip kumparan, Bisny T. Joseph, MD mengungkpakan, bayi memiliki bau badan merupakan hal wajar. Ada yang memiliki aroma dari ASI, susu formula, produk bayi yang sedang digunakan, atau bisa juga mengeluarkan bau asam.

Aroma-aroma tersebut ternyata memiliki arti lho. Yuk simak!

1. Bau susu

Aroma susu merupakan jenis yang paling umum terjadi. Aroma ini akan memudar ketika bayi sudah mulai mengenal makanan pendamping ASI.

2. Bau asam

Ketika bayi muntah, biasanya aroma tubuhnya menjadi asam. Aroma asam juga bisa ditimbulkan lantaran si kecil memiliki kotoran atau sesuatu seperti debu dan keringat yang terperangkap di lipatan tubuhnya. Bisa di ketiak, leher, atau lainnya.

Baca Juga :   Apa itu Stunting?

Bau tersebut akan hilang ketika sesegera mungkin dibersihkan. Jadi, selalu pastikan menjaga kebersihan tubuh bayi ya. Jika tidak, bukan hanya bau asam, tapi dapat menimbulkan ruam pada kuliat akibat jamur atau iritasi.

3. Bau ikan

Jika bau yang diungkap sebelumnya tergolong normal, berbeda dengan yang satu ini. Dalam bahasa medis, bau amis ini dikenal dengan trimethylaminuria. Aroma amis ini biasanya muncul pada napas, urine, ataupun keringat.

Kelainan genetik ini dipicu oleh kurangnya enzim yang membuat tubuh tidak dapat memecah trimetilamina. Tak hanya itu, aroma ikan juga menjadi salah satu pertanda bakteri usus tidak sehat. Kondisi tersebut membuat tubuh si kecil mengeluarkan bau amis melalui napas dan urine.

4. Bau sirup maple

Selain bau ikan, aroma bayi yang mirip sirup maple juga dapat menjadi indikator adanya gangguan kesehatan. Aroma sirup maple yang dikeluarkan bisa jadi pertanda bayi sedang terkena Maple Syrup Urine Disease (MSUD). Kondisi tersebut membuat tubuh tidak dapat memroses asam amino (protein) tertentu dalam tubuhnya. Akibatnya, terjadi penumpukan zat berbahaya di dalam urine dan darah, nafsu makan buruk, sering muntah hingga kejang.

Baca Juga :   Pneumokokus, Penyakit Mematikan Kerap Serang Anak Rentan

5. Bau apak

Bau apak pada bayi merupakan pertanda tubuh mengalami fenilketonuria (PKU). Fenilketonuria merupakan kelainan metabolisme bawaan yang menyebabkan tubuh bayi tidak bisa menguraikan asam amino fenilalanin. Alhasil, zat tersebut menumpuk di dalam tubuh. Kondisi inilah yang membuat bayi mengeluarkan aroma apak.

Meski tergolong langka, tetap harus mendapat perhatian. Pasalnya, jika terlambat diobati dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan, epilepsi, masalah perilaku, hingga tremor.

6. Bau buah

Apabila buah hati mengeluarkan aroma mirip buah, jangan senang dulu ya. Pasalnya, bau buah menjadi salah satu pertanda bayi mengalami ketoasidosis diabetik (komplikasi diabetes melitus yang ditandai dengan tingginya darah keton di dalam tubuh). Apabila tak diobati, kondisi tersebut dapat menyebabkan koma hingga mengancam nyawa bayi.

Baca Juga :   Apa itu Stunting?

7. Bau kubis atau kol

Ketika urine si kecil mirip kol busuk, kemungkinan ia mengalami tyrosinemia. Tyrosinemia merupakan kelainan metabolisme genetik di mana kekurangan enzim. Itu menyebabkan penumpukan asam amino tirosin dalam darah. Apabila tak segera mendapat penanganan tepat, maka dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan, pembesaran limpa, hingga masalah fatal lainnya.

8. Bau kaki

Isovaleric acidemia dan asidemia glutarat tipe II merupakan kelainan yang menyebabkan bau mirip kaki berkeringat pada bayi. Kondisi tersebut biasanya disebabkan ketidakmampuan tubuh memecah atau memproses protein tertentu. Akibatnya, bayi enjadi lesu, muntah, kejang, bahkan koma.

Cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan menghubungi dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Selain itu, para orang tua juga dapat mencegahnya dengan senantiasa menjaga kebersihan tubuh bayi serta mengatur pola makan. (bel/ono)