Belajar secara Tatap Muka Tak Direkomendasikan

810

Surabaya (wartabromo.com) – Beberapa daerah di Jawa Timur sudah mulai menyelenggarakan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah pandemi. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar sekolah ditutup sebelum daerah itu masuk zona hijau.

“Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu daerah belum menjadi zona hijau, atau setidaknya zona kuning,” sebut dr. Endah Setyarini, S.pa dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim.

Pernyataan Endah itu dilontarkan pada saat dirinya menjadi narasumber diskusi online bertema “Vaksin Covid-19 dan Kesiapan Anak Menjalani Pembelajaran Tatap Muka”.

Webinar tersebut diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung dan Jurnalis Sahabat Anak (JSA) didukung oleh Unicef Indonesia, Rabu (18/11/2020).

Hal itu, kata Endah, bukan tanpa pertimbangan. Apalagi Ketua Umum PP IDAI, Aman B. Pulungan, sesuai dengan rekomendasi WHO, menyarankan agar sekolah ditutup dulu selama pandemi.

Selain zona risiko, ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum memutuskan akan membuka sekolah. Pertama, yaitu melakukan pemetaan kasus positif per kelurahan. Pemetaan lokasi sekolah, termasuk dari mana saja muridnya berasal.

“Karena bisa saja sekolahnya zona hijau, tapi muridnya ada yang dari zona merah. Sehingga terjadi penularan sesama siswa, lalu ke orang dewasa di sekitarnya,” kata dia.
Selain itu, perlu diperhatikan pula transportasi siswa ke sekolah. Siswa yang menggunakan kendaraan umum tentunya akan lebih berisiko.

“Juga perlu diperhatikan kontak siswa atau guru dengan orang lain,” kata dokter Endah.
Terkait vaksin virus Covid-19 yang saat ini gencar diujicobakan, Endah mengatakan masih dibutuhkan waktu untuk diaplikasikan. Selain itu, masih perlu uji klinis tentang keefektifannya sebelum tersedia secara luas.

“WHO sendiri menyatakan, bahwa setidaknya sudah ada lebih dari 100 perusahaan vaksin di berbagai negara yang sedang dalam proses uji klinis dan hingga saat ini belum final,” ungkapnya.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang lebih banyak dilakukan secara online atau daring, selama 8 bulan terakhir menjadi pilihan tepat diterapkan sekolah. Sehingga pembelajaran tatap muka tentunya dibutuhkan kajian secara ilmiah.

“Pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan pilihan paling baik untuk mencegah penularan antara siswa serta penularan siswa kepada guru,” kata Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia Jatim, dr. Atik Choirul Hidajah, M.Kes.

Di Indonesia, jumlah kasus Covid-19 pada anak mencapai 9,7 persen dari total penderita Covid-19 atau sejumlah 24.966 anak. Secara rinci jumlah tersebut terbagi menjadi 2,4 persen anak usia 0-5 tahun dan 7,3 persen anak usia 6-18 tahun.

Meski menjadi pilihan terbaik, PJJ bukannya tanpa risiko. “Kami meminta orangtua mewaspadai imbas akibat PJJ bagi kesehatan anak. Di antaranya computer vision syndrome seperti gangguan mata, otot, dan penglihatan akibat terlalu lama menatap layar gawai,” ungkap dokter Atik.

Jika PTM diberlakukan pada jenjang PAUD dan TK akan lebih berisiko. Karena dikhawatirkan siswa masih kesulitan menjalankan protokol kesehatan. Berbeda dengan pelajar dengan tingkatan pendidikan lebih tinggi seperti SMP atau SMA.

“Prioritas saat ini adalah bagaimana semua terlindungi. Yang penting bagaimana kesiapan sekolah dan guru. Kemudian siapa yang mengawasi kalau PTM dijalankan. Apakah perlu ada Satgas?” sambung Child Protection Spesialist UNICEF, Naning Pudjijulianingsih.

Namun, PTM kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto, tidak bisa dielakkan. “Pembelajaran  tatap muka tentu membutuhkan kesadaran untuk menjalankan protokol kesehatan,” jelasnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai saat pandemi. “Yang pertama, ada penelitian yang menunjukkan kekhawatiran anak akan kehilangan kecerdasan atau terjadi cognitive loss akibat pandemi ini,” kata Andriyanto.

“Kehilangan kecerdasan itu, tidak hanya anak-anak kalangan ekonomi bawah, namun anak-anak dari keluarga menengah atas pun bisa mengalami hal yang sama,” lanjutnya.

Direktur LPA Tulungagung, Winny Isnaini menambahkan, ada banyak hal yang perlu disiapkan, baik oleh orang tua maupun anak-anak saat pandemi.

Bagi orang tua, salah satunya adalah bersiap menghadapi kebiasaan baru seperti mendampingi anak belajar secara kekinian. Bagi anak-anak didorong mampu memanfaatkan IT untuk mendukung masa depan dan bukan dikendalikan oleh IT.

“Anak anak memahami dan mampu menerapkan pola hidup baru yang sehat, serta anak mampu merespon dan bertindak bijak untuk menjadi agen perubahan bagi kehidupan yang baik di masa depannya,” ujarnya. (saw/ono)