Mengunjungi Kampung Gepeng di Desa Prodo Winongan

3445
“Saya sudah bertahun-tahun hidup di jalanan Surabaya. Cari rongsokan hingga ngemis di pinggir jalan itu pekerjaan saya dulu. Saat ini sudah enaklah, tidur kasur dan punya tempat tinggal sendiri alhamdulillah.”

Laporan : Akhmad Romadoni

SUASANA di kampung ini terlihat berbeda dengan yang lain. Kawasan ini nampak seperti komplek perumahan karena bangunannya kembar-kembar. Terang saja, kampung ini merupakan hasil dari program Kementerian Sosial.

Lokasinya berada di Margo Utomo, RT 04 RW 03, Desa Prodo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Memulai perjalanan masuk ke kampung ini, suasana damai sudah bisa dirasakan. Belasan anak-anak terlihat saling sapa di jalanan, mengawali pemandangan ke kampung ini. Rupaya mereka menuju tempat mengaji.

Rumah berukuran 4×6 berjejer rapi penuh warna, lengkap dengan tempat cuci tangan di depannya. Bangunan mini tersebut ditempati oleh keluarga kecil nan sederhana.

“Dijuluki dengan kampung gepeng,” kata Lukman Hakim, Kepala Desa Prodo kepada wartabromo.com, Rabu (23/12/2020).

Ya, kampung ini ditempati orang-orang yang pernah sehari-harinya menjadi gelandangan dan pengemis. Lukman mengungkapkan, sebanyak 50 kepala keluarga tinggal di sini sejak tahun 2014.

“Dikhususkan gelandangan dan pengemis. Warga banyak datang dari Kota Surabaya, ada juga dari Trenggalek, Pasuruan, Ngawi, hingga Jember,” jelasnya.

Kampung gepeng ini sangatlah asri. Tak terlihat kumuh atau kotor. Bahkan, banyak tanaman hias ada di sekitar rumah. Jauh dari kesan buruk yang biasanya melekat pada gelandangan maupun pengemis.

Kerasnya kehidupan, membuat penghuni kampung ini pun bekerja lebih giat dari seharusnya. Tak ada kata lelah untuk mencari nafkah.

Tak ada lagi gepeng. Warga saat ini ada yang berkebun, mulai dari tanam sayur hingga buah-buahan.

Ada yang berjualan cilok, bakso, budidaya ikan, jamur, hingga yang paling hits adalah usaha membuat keset.

Usaha rumahan ini digarap di bangunan dengan luas 3×6 meter. Pekerjanya ibu-ibu rumah tangga dan remaja di kampung tersebut. Mereka membuat keset yang nantinya dikirim ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Prodo.

Dari pekerjaan itu, ibu-ibu di kampung tersebut bisa menghasilkan 70 lebih keset per orang. Dengan dihargai Rp 1.000 per keset. Produk tersebut nantinya diserahkan ke BUMDes kemudian langsung dipasarkan hingga keluar kota.

Khozaimah (35), warga kampung gepeng yang juga eks gelandangan di Kota Surabaya ini mengatakan jika kehidupannya saat ini sudah tertolong setelah ada progam pemerintah “Kampung Kesetiakawanan Sosial”.

Hidup bersama suami dan kedua anaknya, Ia mengaku bersyukur bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Selain itu, ia juga diajarkan bagaimana untuk lebih kreatif lagi dalam berusaha. Seperti halnya membuat keset.

“Alhamdulillah, bersyukur sekali. Saya bisa punya tempat tinggal sejak tahun 2015 lalu,” kata Imah, panggillan akrabnya.

Diceritakan Imah, Ia adalah seorang gelandangan yang bekerja sebagai buruh rongsokan selama 3 tahun bersama suami dan anaknya. Ia terlunta-lunta di jalanan dan tak mempunyai tempat tinggal yang layak.

Kemudian ia mengikuti progam Kementerian Sosial dengan dibantu oleh Pemerintah Surabaya. Ia diberikan tempat tinggal di daerah pedesaan di Kabupaten Pasuruan bersama puluhan teman gelandangan lainnya.

“Saya sudah bertahun-tahun hidup di jalanan Surabaya. Cari rongsokan hingga ngemis di pinggir jalan itu pekerjaan saya dulu. Saat ini sudah enaklah, tidur kasur dan punya tempat tinggal sendiri, alhamdulillah,” katanya.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur mengatakan, kampung gepeng ini sempat menyabet juara 1 kampung tangguh tingkat provinsi. Mulai dari tingkat kedisiplinan hingga kebersihannya menjadi penilaian terbaik.

Saat berkujung ke kampung tersebut, Khofifah menjelaskan banyak potensi yang harus dikembangkan di daerah ini. Yang sebelumnya hanya sebagai anak jalanan, mimpi-mimpi anak-anak di kampung ini harus bisa dikembangkan mulai sekarang agar lebih maju.

Sektor-sektor usaha menjadi landasan utama kampung ini bisa berkembang dan lebih maju dari kampung lainnya. Semangat warga bisa menjadi modal utama mengembangun usaha untuk penguatan ekonomi.

“Pengembangan usaha di sini harus tetap ada pendampingan,” tandas Khofifah. (*)

(may)