Mengenang Kerasnya Pukulan Bugiarso ‘The Killers’

780
Bugiarso The Killer (merah) ketika masih hidup bersama anak didiknya.
Bugiarso telah pergi ke haribaan Sang Pencipta. Ia boleh dibilang sosok terlupakan, meski tetap aktif di gelanggang yang membesarkan namanya dengan menjadi pelatih petinju muda di Kabupaten Probolinggo. Rangkaian perjalanan hidup dan karir bertinjunya, sebenarnya cukup manis untuk dikenang.

H. Lailatuansyah, Probolinggo

MENCARI Bambang Mugiarso di jalan Mayjen Haryono Gang IV membuat dahi sedikit mengernyit. Pasalnya, tak banyak warga di sana mengenal nama itu. Tetapi bila menyebut Bugiarso, dari anak kecil hingga dewasa pasti mengenalnya.

Bugiarso adalah nama ring yang disandang pria kelahiran Jatiroto, Lumajang, 14 April 1972 itu hingga merajai dunia tinju nasional di kelas Bulu Yunior (1994-1996). Bahkan sabuk juara PABA di kelas yang sama tetap dimiliki sampai enam tahun lamanya (1996-2001).

Jurnalis WartaBromo mulai mengenal Bugiarso pada akhir 2013 silam hingga cukup akrab dengan pribadinya. Pertama bertemu dan berhadapan dengan pria besar berwajah tegas, perasaan keder sempat juga menyeruak. Bagaimana tidak, sosoknya di atas ring tinju dikenali tanpa kompromi, selain pernah mengirim lawannya ke liang kubur.

“Mas, yang tadi nelepon saya. Mari duduk, gak usah tegang santai saja,” ucapnya dengan nada sangat ramah kala WartaBromo berkunjung ke rumahnya di Mayjen Haryono Gang IV no.15 A.

Kala itu, ayah tiga anak ini mengaku kalau tidak pernah bercita-cita menjadi petinju. Bahkan saat kecil, ia terbilang anak yang penakut. Arena tinju dijejaki karena dorongan teman-teman sekolahnya. Mengawali, ia masuk sasana tinju di Jatiroto, Lumajang.

Tetapi di sasana itu hanya sebentar, karena Bugiarso mencoba peruntungan dengan hijrah ke Sasana Satria Kinayung, Jakarta. Ternyata, di Jakarta hanya bertahan sepuluh bulan.

Setelah itu Bugiarso muda menganggur selama tiga bulan, sampai diputuskanlah kembali ke Jatiroto. Tidak enak menganggur, iseng-iseng daftar lah di sasana AKAS Probolinggo. “Saya datang ke sana sambil ngamen. Eh, malah diterima,” ungkapnya.

Debutnya di ring tinju diawali dengan menang KO di ronde 2 melawan Achmad Fandi, pada 12 Agustus 1990 di Malang. Setelah itu beberapa pertandingan ia lakoni dan menangkan, baik angka maupun menang KO.

Pada 20 Februari 1993, Bugiarso menantang juara nasional Junai Ramayana. Namun kesempatan menjadi juara nasional untuk sementara sirna setelah kalah TKO di ronde 9.

Nah, sebelas bulan kemudian ia membayar lunas mimpinya untuk menjadi juara nasional dengan meng-TKO Dion Ratuanak di ronde 10.

The Killer (Sang Pembunuh), menjadi julukan baru, setelah ia mampu mempertahankan gelar dengan meng-KO Akbar Maulana di ronde 10. Laga yang digelar pada 11 Mei 1995 itu, berujung pada kematian bagi Akbar, petinju asal Sasana Merah Silver Bali tersebut.

Kalau mengenang pertandingan yang merenggut nyawa koleganya tersebut, ia mengaku merasa miris. Tetapi ia menyadari hal itu adalah bagian dari sebuah laga. “Di atas ring, petinju harus memukul atau dipukul,” tegasnya.

Pertandingan-pertandingan lain kemudian diretas untuk menggapai tangga juara dunia.
Pada 10 Mei 1996, The Killer bertanding melawan Alexander Park (Rusia), dalam perebutan gelar juara PABA di kelas 55,3 kg (Bulu Junior). Dalam laga yang berlangsung sengit itu, Bugiarso bermain dengan taktik cukup jitu, sehingga pada ronde 9, lawannya mampu dipukul KO.

Setelah sembilan kali mempertahankan gelar, petinju yang pernah mendapat penghargaan dari Presiden Venezuela tersebut harus menerima kenyataan pahit. Ia kehilangan gelar juaranya, karena mengalami kekalahan KO dari Yodamrung Sith (Thailand) pada ronde keenam, 15 Mei 2001.

Kekalahan ini membuat karirnya di dunia adu jotos tamat, baik nasional maupun internasional. Meski demikian ia sempat dua kali naik ring lagi.
“Jenuh,” kata pemilik rekor ring 35-1-6 (19 KO/TKO) itu.

Menjadi Penjaga Toko

Setelah gantung sarung tinju, suami Lenny Vera Veronica tersebut menganggur selama lebih dari empat tahun lamanya. Sang petinju bahkan sempat bekerja sebagai penjaga toko di  Kota Probolinggo.

Bertahan di kawasan komplek pertokoan, perjalanan hidupnya sedikit berubah pada tahun 2006. Perubahan dialami setelah Hasan Aminuddin (Bupati Probolinggo kala itu) memilih dan menempatkannya ke dinas perhubungan sebagai pegawai honorer.

Pengabdiannya berlanjut di Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Probolinggo, di seksi prestasi. Hingga akhir hayatnya ia tercatat sebagai pegawai pada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Pemkab Probolinggo.

Suatu kesempatan ia mengambil lisensi pelatih nasional yang diselenggarakan oleh PB Pertina. Oleh Pertina Kabupaten Probolinggo, bersama Jakfar Sodiq (mantan petinju amatir), Bugiarso diberi mandat melatih petinju amatir.

Dalam debut kepelatihan tersebut, dua anak didiknya berhasil menyabet medali pada perhelatan PORPROV di Ngawi. Berkat tangan dinginnya, anak didik bernama Abdullah merebut perak di kelas 55,3 kg; dan Hendra Budi Harta, menyabet perunggu di kelas 57,5 kg. Di Porpov Banyuwangi, anak didiknya juga berhasil menggondol piala.

Menurutnya, kesuksesan itu tidak terlepas dari ketangguhan mental dan kemampuan teknik atlet itu sendiri. “Kemenangan itu 75% berasal dari mental, yang lain mengikuti,” ungkapnya. ke halaman 2