Beda dari Yang Lain, Museum Ini Sajikan Beragam ‘Model’ tentang Kematian

1360
Replika jasad manusia di Museum Etnografi, Unair Surabaya. Foto: Vice.id

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Lazimnya museum adalah tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Tapi, tidak demikian dengan Museum Etnografi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya ini.

Sebabnya, museum yang jamak disebut dengan ‘museum kematian’ ini justru lebih banyak bercerita tentang manusia dan kematian.

Bahkan, museum ini juga menyuguhkan tulang belulang manusia. Baik tulang asli hingga replikanya.

“Kami berbeda ya dengan museum lain yang collection minded. Kami ada koleksi replika, ada juga tulang asli, tapi gak semuanya yang asli kami pajang,” beber salah seorang jurusan Antropologi UNAIR, dilansir dari jatim.idntimes.com.

Tidak hanya itu, di dalam museum Antropologi tersebut terdapat berbagai replika kuburan kebudayaan manusia di Indonesia. Mulai dari prosesi pemakanan hingga tradisi yang dilakukan orang Indonesia terhadap orang yang sudah mati.

Meski begitu, saat pertama kali memasuki museum pengunjung tidak akan merasa takut sekalipun tulang asli manusia di pajang di pintu masuk. Pasalnya, di sekeliling dinding museum terpasang infografis sebagai informasi.

Namun, tidak semua penjelasan muncul dalam bentuk gambar maupun di infografis dimunculkan. Hal tersebut tidak lain untuk meningkatkan keingitahuan pengunjung.

Untuk memunculkan titik interest pengunjung, kerangka tulang belulang asli juga di-set sedemikian rupa agar menyerupai pemakaman yang ada di daerah asalnya.

“Ini (jasad) asli, bagian tubuhnya utuh,” kata Delta Bayu Murti, selaku kurator museum.

Sekadar diketahui, museum antropologi ini mulanya muncul berkat ide Prof. Habil Josef Glinka bersama A dan Adi Sukadana, perintis jurusan antropologi FISIP UNAIR, Surabaya. (trj/asa)