Nasib Tempe Ketika Harga Kedelai Naik

408

Purwodadi (wartabromo.com) – Ferry Setiawan (30), salah satu perajin tempe di Kampung Tempe Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi mengungkapkan, naiknya harga kedelai terjadi mulai september 2020 lalu sampai sekarang.

Saat ini, harga kedelai berkualitas bagus untuk per kilonya masih di kisaran Rp 9000-Rp 9500. Padahal sebelum naik, harganya masih sekitar Rp 6000.

Dengan tingginya harga kedelai, Ferry terpaksa memperkecil ukuran tempe serta menaikkan harga tempe yang ia jual ke pelanggannya di Pasar Lawang.

“Ya mau gimana lagi mas. Biasanya saya jual mulai dua ribu, sekarang saya naikkan jadi dua ribu lima ratus. Ukurannya juga saya perkecil sedikit,” kata Ferry sembari mempersiapkan tempe yang ia buat di rumahnya.

Untungnya, para langganannya tak keberatan dengan naiknya harga tempe. Kata Ferry, meski harganya ia naikkan, tapi kualitas dan rasa tempe yang ia produksi tetap sama.

“Kalau rasanya berubah, jelas kabur pelanggan saya. Dan Alhamdulillah, mereka semua memahaminya,” ungkapnya.

Sementara itu, saat disinggung perihal pengaruh Pandemi Covid-19 terhadap usahanya, Ferry mengiyakan hal tersebut.
Menurutnya, Pandemi Covid-19 tak hanya berpengaruh pada omset saja, melainkan permintaan pasar yang semakin lesu.

Ia lantas mencontohkan, apabila biasanya banyak rumah makan, catering dan rumah makan yang membeli tempe dengan jumlah banyak. Namun adanya Pandemi Covid-19 seperti terjun bebas. Yang biasanya sehari bisa memproduksi sampai 300 kilogram tempe jadi, kini maksimal hanya 100 kilogram saja.

Begitu pula mendapatkan keuntungan yang didapatkannya juga merosot tajam, yakni dari yang biasanya Rp 500 ribu per hari, kini hanya mendapatkan keuntungan Rp 100 ribu.

“Kalaupun mentok, maksimal 100 kilo saja. Kayak terjun bebas pokoknya. Semoga pandemic ini segera berakhir dan perekonomian segera pulih dan bangkit kembali,” harapnya. (mil/yog)