Kerusakan Lahan Jadi Pemicu Banjir Pasuruan

1960
Area pertambangan di lereng Gunung Penanggungan dipotret dari udara. Dulunya lahan tersebut merupakan kawasan hutan. Foto: dokumen WartaBromo.

 

Bangil (WartaBromo.com) – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Andri Wahyudi, menyebut adanya kaitan antara aktivitas tambang dengan banjir yang melanda Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol.

Baca: Yang Tersisa dari Banjir Bandang Kepulungan

Hal ini disampaikan Andri saat rakor Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan bersama OPD terkait guna membahas penanganan banjir di wilayah setempat, Senin (8/2/2021).

“Menurut saya ada kaitan antara aktivitas tambang dengan banjir yang terjadi di Kepulungan. Dengan banyaknya tambang di daerah hulu, maka semakin berkurang daerah resapan air. Yang pada akhirnya, air hujan tidak ada yang menyerap, sehingga air sungai meluap,” ucap Andri.

Guna memastikan hal itu, Andri masih terus mengumpulkan referensi akademis dan bukti-bukti kuat yang mendukung dugaanya. Pasalnya kondisi hulu di wilayah Kecamatan Prigen dan sekitarnya beberapa telah beralih fungsi sebagai tambang.

Baca Juga :   Langganan Banjir, Wali Kota Pasuruan: Silakan Diberitakan, Wong Kenyataan Kok

Penanganan terhadap daerah resapan air di wilayah hulu, kata Andri, merupakan salah satu penanganan bencana jangka panjang yang perlu diperhatikan. Untuk jangka pendek, OPD terkait harus saling sinergi dan terintegrasi dalam tanggap bencana.

“Dalam penanganan bencana ada tiga langkah, yakni tanggap darurat, recovery dan restrukturisasi. Nah untuk jangka pendeknya, bagaimana solusi untuk rumah warga yang rusak di Kepulungan. Pastinya kan kurang kalau pakai APBD saja, kalau bisa dimungkinan untuk menarik pihak ketiga, itu harus dikoordinasikan,” imbuhnya.

Guna menutup kerugian korban yang rumahnya rusak, Andri menyarankan agar melibatkan pihak ketiga. Pemkab setempat bisa meminta perusahaan untuk menggunakan CSR mereka untuk perbaikan rumah warga.

Baca Juga :   Soal Pengelolaan Sampah di Bromo, Begini Kata TNBTS

Sementara itu, sebagai upaya antisipasi jangka pendek, Andri menyebut agar ada Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi potensi banjir.

Dengan adanya EWS, nantinya dipasang alat di daerah hulu sungai, untuk mengetahui potensi banjir yang akan terjadi.

“Nanti terintegrasi sampai tingkat desa, ketika debit air di hulu sudah tinggi, maka nanti di bawah sudah mendapatkan peringatan ke camat, sampai ke desa, dan pemerintah desa bisa segera antisipasi,” tandasnya.

Senada dengan Andri, Ariyanto, PPK OP SDA 4 BBWS Brantas menyebut rusaknya daerah resapan air di wilayah hulu Kabupaten Pasuruan turut menjadi pemicu banjir. Selain pemicu teknis seperti tersumbatnya Sungai Kambeng oleh rumpun bambu dan pohon Lo.

Baca Juga :   Cerita si Kamil: Berjuang Melawan Sakit, Rumah pun Hilang Terbawa Banjir

“Fakta di lapangan, memang adanya sampah dan pohon yang menyumbat di jembatan Sungai Kambeng. Tapi kalau dirunut, dari hulu ada kerusakan lingkungan di hulu,” jelasnya. (oel/asd)