Yang Tersisa dari Banjir Bandang Kepulungan

5362
Lokasi terparah banjir bandang Kepulungan difoto dari udara. Tampak sebelah kanan Sungai Kepulungan yang terpisah dengan jalan raya Surabaya-Malang. Foto: dokumen WartaBromo. Gambar diambil pada Sabtu (6/2/2021).

 

Banjir bandang melanda Desa Kepulungan, Kabupaten Pasuruan, Rabu (3/2/2021) lalu. Massifnya alih fungsi lahan diduga ikut memicu peristiwa itu.

Laporan: Asad Asnawi

BENCANA itu datang tiba-tiba. Tanpa petanda, air bah menerjang permukiman penduduk di Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Rabu (3/2/2021) petang lalu.

Teriakan ‘minta tolong’ dari warga sekitar mengagetkan Wahid yang saat itu baru saja pulang kerja. Belum juga mengetahui musabab teriakan itu, ia mendapati air dengan deras merangsek masuk ke rumahnya.

“Dengar teriakan orang-orang minta tolong. Eh, tahu-tahu air masuk. Sudah satu meter lebih,” kata Wahid, yang juga ketua RT setempat ini.

Sadar rumahnya diterjang banjir, Wahid pun bergegas. Membelah derasnya arus air bah, setengah berenang, ia berusaha mencari tempat aman, tanpa sempat menyelamatkan barang-barangnya.

Di tengah usahanya menyelamatkan diri, ia mendapati beberapa warga hanyut terbawa arus. Sementara teriakan warga juga terdengar saling bersahutan.

“Rumah-rumah itu sudah ambrol semua,” ujar Wahid sembaru menunjuk deretan rumah yang telah rata dengan tanah. “Pas air sudah reda, baru tahu ada dua warga yang hilang,” lanjutnya.

Keduanya adalah Susi dan Nanda. Pasangan nenek dan cucu yang rumahnya ambrol diterjang banjir bandang sekitar setengah jam itu. Keesokan harinya, tubuh keduanya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Daryono, staf BPBD yang ikut dalam operasi pencarian mengatakan, melihat lokasi keduanya ditemukan, bisa dibayangkan betapa kuatnya air bah itu. Susi ditemukan sekitar 1 kilometer dari tempatnya tinggal. Sementara Nanda, 6 kilometer.

Salahkan Curah Hujan

Di sisi lain, banjir bandang yang melanda Kepulungan bukan kali pertama terjadi. Berdasar cerita tutur warga, peristiwa serupa pernah terjadi di era 1950-an silam.

“Tapi, tidak separah yang sekarang. Ini sampai puluhan rumah rusak, ada yang meninggal pula,” ujar Wahid di sela kegiatan bersih-bersih sisa banjir.

Lantas, apa yang menjadikan Sungai Kepulungan meluap hingga memicu banjir bandang terjadi selah lebih dari setengah abad? Ada banyak faktor.

Pemerintah setempat menyebut curah hujan tinggi serta tumpukan sampah menjadi penyebab banjir bandang kali ini. Kondisi itu diperparah dengan adanya beberapa rumpun bambu yang nyangkut di bawah jembatan Kepulungan. “Air kan terhambat dan akhirnya meluap ke permukiman,” kata Kapolres Pasuruan AKBP. Rofiq Ripto Himawan sesaat setelah kejadian.

Posisi permukiman yang lebih rendah dengan badan sungai dan hanya dipisahkan jalan raya- membuat air turun dengan deras. Rumah-rumah yang kebetulan berada di titik jatuhnya air bah kemudian ambruk.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur (Jatim) Yanuar Rachmadi memiliki analisa berbeda terkait banjir bandang yang memporak-porandakan permukan warga itu. Menurutnya, banjir bandang yang terjadi akibat menurunnya muka tanah di wilayah setempat.

“Gempol itu kan tanahnya turun ya. Semua pada tahu lah setiap tahun (turun). Saya tidak ngegampangin, tapi kondisinya sudah seperti itu. Penurunan itu terjadi sejak Lapindo,” kata Yanuar, seperti dikutip dari SuaraSurabaya, Kamis (4/2/2021).

Penuturan Yanuar itu pun mendapat respons dari pakar hidrologi dan water resources, Gunawan Wibisono. Menurutnya, secara ilmiah, pernyataan Yanuar memang harus bisa dibuktikan dan diuji. Akan tetapi, secara kasat mata, hal itu dinilai tak relevan.

“Dari topografinya saja, Kepulungan itu lebih tinggi daripada Lapindo di Porong, atau Gempol ya. Jadi saya kok meragukan itu,” kata guru besar Universitas Merdeka Malang ini.

Gunawan mengakui, dalam beberapa kajian, didapati terjadi penurunan di sekitar lumpur Lapindo. Termasuk di Gempol. Tetapi, karena posisi Kepulungan yang lebih tinggi dari lapindo, tetap saja air dari Kepulungan yang mengalir ke Gempol atau Porong.

“Jadi saya kira itu tidak relevan. Karena lapindo itu dimana, Kepulungan itu dimana. Kalau itu tidak bersinggungan, ya tidak masuk akal,” lanjutnya.

Gunawan lebih memilih perubahan bentang alam menjadi salah satu penyebab banjir, selain faktor cuaca. Sebab, perubahan itu yang pada akhirnya menjadikan alam dan lingkungan kehilangan daya dukung.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kelas II saat banjir bandang terjadi, curah hujan yang turun cenderung variatif.