Ini Kata Ahli Hidrologi Soal Penyebab Banjir di Pasuruan

912
Suasana diskusi 'Duka Kepulungan, Duka Kita' dalam program Pasuruan Bicara yang digagas Warmo Institute, WartaBromo., dan DPRD Kabupaten Pasuruan, Senin (15/2/2021). Foto: Romadoni.

 

Gempol (WartaBromo.com) – Banjir bandang yang melanda Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, masih menyisakan pertanyaan yang belum terungkap. Ahli Hidrologi mengungkap sejumlah faktor yang menyebakan banjir tersebut.

Gunawan Wibisono, Ahli Hidrologi dari Universitas Merdeka Malang menyebut tambang galian C di wilayah hulu menjadi salah satu penyebabnya. Sehingga kondisi hulu menjadi tidak efektif sebagai pengendalian banjir.

“Tadi disebutkan galian C yang legal ada 85 titik di Kabupaten Pasuruan. Ini menjadi faktor utama sehingga kondisi hulu tidak efektif dalam pengendalian banjir, sehingga mengelupas permukaan tanah, dan mengikis vegetasi, yang semuanya itu berfungsi sebagai penahan banjir,” ungkap Gunawan, dalam diskusi berjudul Duka Kepulungan Duka Kita, Senin (15/2/2021).

Baca Juga :   Diterjang Banjir, Jalan Penghubung Kecamatan Pohjentrek - Kraton Ambrol

Selain semakin menipisnya wilayah hulu sebagai resapan air, dikatakan Gunawan, kegiatan industri di hulu, juga memiliki andil dalam menyebabkan banjir.

Disinggung pula oleh Gunawan, penumpukan sampah di sungai, menjadi penyebab adanya sumbatan di Sungai Kepulungan.

“Juga ditambah dengan sumbatan, tadi disebutkan ada sampah, barongan, dan pohon. Itu semua menyebakan menghambat aliran ke hilir, dan menambah sedimentasi masuk ke sungai,” imbuhnya.

Efek global warming disebut sebagai salah satu yang menjadi faktor penyebab banjir. Dikatakan Gunawan, global warming berperan besar terhadap timbulnya cuaca ekstrem.

Cuaca ekstrem ini yang menjadi penyebab turunnya hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Diantaranya yang terjadi di Kabupaten Pasuruan beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Sudah Rp 2 M Digulirkan untuk Perbaikan Dampak Banjir dan Longsor

“Seperti hujan esktrem yang timbul akibat efek global warming. Pada Rabu saat terjadinya banjir, rata-rata curah hujan di atas 100 milimeter. Sehingga daya tampung sungai terlampaui,” sambungnya.

Apalagi, kata Gunawan, sungai yang ada minim operasi pemeliharaan. Dampaknya, daya tampung sungai berkurang.

“Kondisi sungai yang ada hampir tidak ada pemeliharaan. Sedimentasi bertambah. Juga ditambah dengan berdirinya bangunan di bantaran sungai. Sampah yang dibuang di sungai. Sebenarnya kita tahu masalah ini, tapi belum ditangani dengan baik,” bebernya.

Gunawan berharap, dengan adanya kajian komprehensif tentang banjir di Kepulungan bisa menjadi pilot project untuk penanganan dan pengendalian banjir. Baik di Kabupaten Pasuruan, maupun di seluruh Indonesia. (oel/asd)

Baca Juga :   Banjir Kembali Rendam Ratusan Rumah di Grati dan Winongan

Simak Videonya: