Santri Asal Rejoso Ini Raih Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Rak Bunga

2987
Faridah menunjukkan rak bunga yang telah dikemas dan siap dikirim ke pelanggan. Foto: Romadoni.

 

Seorang santri asal Rejoso, Kabupaten Pasuruan sukses merambah bisnis beromzet ratusan juta ‘hanya’ dari menjual rak bunga. Apa kiatnya?

Laporan: Amal Taufik

SEJUMLAH darbuka dengan berbagai motif cantik dipajang di ruang tamu sebuah rumah di Desa Karangpandan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

Di samping rumah tersebut ada beberapa pegawai yang sibuk mengukur dan menggergaji kayu, lalu di sudut lainnya tampak kayu-kayu yang telah selesai digarap itu disusun menjadi berbagai model rak bunga.
“Sehari bisa ngirim 30 sampai 40 buah,” kata Farida, pengelola bisnis tersebut ketika ditemui WartaBromo.

Bisnis rak bunga ini sebenarnya dirintis almarhum adiknya, Abdul Karim (26). Sekarang, ia meneruskan apa yang telah dirintis sang adik itu.

Farida bercerita, usaha rak bunga ini adalah bisnis kedua adiknya. Sebelumnya, Abdul Karim telah memiliki bisnis darbuka, yakni alat musik sejenis perkusi, yang lebih dulu berkembang pesat. Ia juga sudah memiliki brand tersendiri untuk darbukanya yang bernama Emerald Percussion.

Darbuka milik Abdul Karim ini telah menjangkau pasar yang sangat luas hingga ekspor luar negeri. Bahkan grup band Debu juga sempat menjalin kerja sama dengan Emerald Percussion. Namun saat pandemi, ia keteteran karena permintaan pasar yang banyak sementara barangnya kosong.

“Waktu itu bulan Agustus 2020 adik saya berpikir untuk membuat usaha yang lain. Nah saat itu yang lagi tren kan bunga-bungaan itu,” tutur Farida.

Mulailah santri lulusan Pondok Pesantren Darul Ulum, Karangpandan itu mengerjakan berbagai bentuk rak bunga yang diminati pasar. Segala urusan ia kerjakan sendiri mulai mendesain, menggergaji, menghaluskan, hingga menyusun kayu dan besi menjadi sebuah rak bunga yang cantik dipajang di sudut-sudut rumah.

“Kan tidak ada yang ngajari. Jadi dia mikir sendiri bagaimana bisa presisi. Bisa bagus. Gagal coba lagi, gagal coba lagi. Begitu terus sampai akhirnya dia bisa bikin yang bagus dan presisi,” ungkap Farida.

Farida mengenang adiknya sebagai sosok yang ulet serta pantang menyerah. Sejak masih di pesantren, jiwa wirausaha Abdul Karim sudah tumbuh dan berkembang.

Sebelum membuka Emerald Percussion pada tahun 2018, jalan bisnis Abdul Karim berliku. Berbagai bisnis pernah ia lakoni mulai menjual onderdil sepeda motor, berjualan es, membuka warung makan, dan semuanya berakhir kurang hoki.
“Dulu sempat kuliah. Tapi karena dia ke Jambi dan sibuk jualan onderdil sepeda motor akhirnya tidak lanjut,” kenang Farida.

Sekarang, di usianya yang masih muda, omzet ratusan juta bisa ia hasilkan dari bisnis darbuka. Harga yang dipatok setiap satuan darbuka motif miliknya kisaran Rp 1juta sampai Rp 1,4 juta. Dalam sehari ia bisa mengirim sekitar 20 buah. Belum lagi ditambah omzet dari bisnis rak bunganya.

Kepada WartaBromo, Farida mengaku adiknya memanfaatkan platform digital untuk seluruh kegiatan jual beli rak bunga maupun darbuka. Di salah satu marketplace, ia memiliki enam toko rak bunga.

Dalam satu bulan, masing-masing toko beromzet sekitar Rp 50 sampai Rp 90 juta. Tak hanya itu, sekarang ia bisa mempekerjakan belasan karyawan untuk memproduksi rak bunga.
“Adik saya itu memang kurang pandai bicara. Jadi dia lebih nyaman kalau jualannya online,” ujarnya.

Dari bisnis ini pula Abdul Karim yang merupakan anggota Himpunan Pengusaha Santri Indonesia bisa membangun rumah dan membeli lahan sebagai tempat produksi. Kepada kakaknya, ia pernah menyampaikan bahwa ia punya cita-cita untuk mendirikan pabrik sendiri di situ.

Sayangnya, takdir berkata lain. Suatu sore yang hujan di bulan Desember 2020, Abdul Karim bangun tidur dan langsung membersihkan barang-barang di tempat kerjanya. Ia tidak menyadari bahwa ada stop kontak (colokan) di sekitar lokasi yang dalam kondisi pecah serta sejumlah perkakas yang berserakan yang masih teraliri listrik.

Ketika mengangkat sebuah besi, Abdul Karim tiba-tiba tersengat listrik. Melihat Abdul Karim tersengat listrik, Suparman, ayahnya, yang saat itu berada tak jauh dari lokasi secara spontan langsung mencoba menolong anaknya tanpa memakai pengaman apapun sehingga ikut tersengat listrik. Keduanya meninggal dunia bersamaan.

Farida melanjutkan, bahwa tahun lalu Abdul Karim sudah bertunangan dan rencananya tahun ini mereka bakal melangsungkan pernikahan.
“Ya bagaimana, kita nggak ikut punya umur,” ujarnya.