Sumpah Lahir

452
“Oh anakku… Maafkan ibu dan ayahmu,”

Oleh: Rebbeca Arju*

“Tolong jangan paksa aku ikhlas!” teriak Fatma berkali-kali dengan histeris.

Tak ada satupun wanita merelakan berbagi suami dengan alasan apapun. Namun, nasib berkata lain, beban rasa ingin memiliki seorang buah hati dalam diri Rojak sudah tak terbendung lagi.

Secara materi, Rojak telah sukses menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang Birokrasi tingkat Wilayah. Tentu, gaji dan tunjangannya cukup besar sehingga meyakinkannya untuk mengambil keputusan itu.

Akan tetapi, keputusan itu lebih menguat karena sikap Fatma yang sering menuduh kualitas Rojak buruk sehingga membuat mereka gagal memiliki keturunan bahkan hingga di 9 tahun usia pernikahan mereka. Tuduhan Fatma ini sangat logis karena kakak kandung Rojak juga tidak dikaruniai keturunan hingga saat ini.

Sebenarnya, Rojak bisa menempuh jalan lain yaitu mengadopsi bayi dari saudara, tetangga, atau siapapun yang dapat diangkat menjadi anak. Toh kak Jaelany juga memilih jalan ini untuk memenuhi kebutuhan memiliki anak di atas kenyataan bahwa istrinya telah divonis infertil.

Rojak dan Maria pun meninggalkan kediaman Fatma. Mereka tak ingin suasana semakin runyam dan tetangga berdatangan karena mendengar pekik tangis Fatma. Maria sungguh merasa bersalah pada Fatma, tapi di sisi lain ia harus siap menunjukkan dirinya dan anak yang baru dilahirkannya tiga bulan yang lalu. Rojak menggenggam tangan dan memeluk Maria yang tak berhenti menitikkan air mata sambil terus memandangi sang buah hatinya.

Sesampai di rumah Maria, Rojak menciumi Febila dengan penuh makna. Kemudian, ia berpamitan kepada Maria sambil menyisipkan beberapa lembar uang untuk belanja kebutuhan Febila. Ini tampak tak biasa, karena uang belanja selalu Rojak berikan di setiap awal bulan. Tangan Maria menahan tangan Rojak agar tak meninggalkannya secepat itu. Namun, Rojak bergegas untuk mengendarai mobil klasiknya.

Maria masih saja terngiang oleh ucapan madunya yang penuh kemurkaan tadi. Bagaimana mungkin Febila yang masih bayi sudah dikutuk dengan banyak hal buruk. Bagaimana kalau kelak Febila benar-benar tidak bisa merasakan kebahagiaan untuk memiliki seorang anak pun seperti Fatma. Bagaimana jika kelak kehidupan rumah tangga Febila tidak bahagia. Bagaimana jika semua perkataan Fatma terwujud .

“Oh anakku… Maafkan ibu dan ayahmu,” ucap Maria sambil memeluk Febila dengan erat.

Terhitung satu bulan sejak kejadian itu, Rojak tidak pernah pulang ke rumah Maria. Maria mencoba tegar menunggu karena mungkin butuh waktu bagi Rojak untuk menguatkan dan meyakinkan Fatma bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Febila kini beranjak enam bulan tapi Rojak tak kunjung datang. Urifah, sang nenek, setia menemaninya belajar merangkak sedangkan Maria cenderung menghabiskan waktunya sendiri dan bersedih.

“Nak, kasihan anakmu. Kalau bapaknya tidak kesini lagi, sudahlah ikhlaskan. Fokuskan dirimu untuk membesarkan Febila,” tutur Urifah kepada Maria.

Maria tak bergumam, dia tetap terdiam dan mengurung diri di kamar.

Tingkah Febila semakin menggemaskan tapi ini hanya bisa dirasakan oleh neneknya saja. Hingga suatu hari, Febila merangkak mengikuti neneknya ke dapur. Sang nenek tidak memperhatikan tingkah Febila kali ini karena sedang menggoreng ikan Gabus dan mempersiapkan menu lainnya untuk sarapan.

Krontang!

Prang!

Pyar!

Nenek Urifah kaget karena melihat beberapa gelas dan piring pecah, sedangkan sendok, garpu, spatula dan perkakas lainnya terpental ke mana-mana. Rupanya Febila yang mengoyak-oyak rak tua itu hingga roboh. Nenek Urifah pun seketika menggendong dan memeriksa sekujur tubuh Febila. Alhamdulillah, si kecil tak luka sedikitpun.

“Ada apa, Mak?” tanya Maria.

“Tidak ada apa-apa, Nak. Sebentar ya sarapannya belum siap!” jawab Nenek Urifah sambil tetap menggendong Febila.

Maria terbelalak melihat semua perkakas acakadul dan pecah. Maria langsung merebut Febila yang sedang digendong sang nenek. Maria meletakkannya di kasur kemudian menampar dan mencubiti tubuh bayi mungil itu. Febila menangis dengan sangat lantang. Banyak kalimat buruk yang Maria ucapkan untuk Febila.

Sang nenek menangis melihat perilaku Maria yang kejam kepada buah hatinya. Nenek Urifah berusaha menghindarkan semua ini terjadi tapi tangan Maria dengan keras menampiknya. Berkali-kali nenek mencoba hingga akhirnya berhasil menyelamatkan Febila dari kemarahan ibu kandungnya.