Sekolah Tatap Muka Dimulai Juli, Sudah Siap?

810
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Foto: Tangerang Express.

Jakarta (WartaBromo.com) – Sekolah tatap muka dipastikan akan bisa dimulai pada Juli 2021. Kepastian ini datang setelah vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pendidik selesai dilakukan.

Presiden Joko Widodo mengungkap, ada 5,7 juta guru yang divaksin Covid-19. Tenaga pengajar ini masuk dalam prioritas kedua vaksinasi pemerintah.

“Dan targetnya pada bulan Juli nanti 5 juta guru, tenaga pendidik, dan kependidikan semuanya insyaallah sudah bisa segera kita selesaikan. Sehingga bulan Juli saat mulai ajaran baru semuanya bisa berjalan normal kembali. Saya kira targetnya itu,” kata Jokowi dilansir dari Kumparan.

Meski begitu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menuturkan, pembukaan sekolah dilakukan secara bertahap. Baik sekolah maupun perkuliahan.

“Dibuka seluruhnya serentak, tapi dengan bertahap dan tidak tatap muka murni,” ungkap Jumeri, Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud.

Jumeri menjelaskan, maksud dari tidak tatap muka murni yaitu hanya Sebagian murid yang bisa dating ke sekolah. Sebagiannya lagi bisa melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ditambah lagi, izin orang tua tetaplah hal penting dari pembukaan sekolah ini.

“Nanti kalau ortu masih khawatir anak-anaknya bisa tidak masuk ke sekolah atau tetap PJJ. Ini blended learning, campuran tatap muka dan jarak jauh, belum murni tatap muka. Prokesnya juga ketat,” lanjutnya.

Karena pembukaan sekolah juga dilakukan bertahap, maka banyak hal yang harus diperhatikan. Seperti halnya siswa yang jarak sekolahnya jauh dan orang tuanya tidak bisa mengantarkan.

“Daerah berkoordinasi dengan Dishub untuk memastikan transportasi kita semakin aman. Kalau ada anak-anak kesulitan mengakses transportasi dan orang tua juga tidak bisa mengantar, dia bisa tidak datang ke sekolah dulu atau tetap jarak jauh,” tambah Jumeri.

Apalagi sampai saat ini siswa belum mendapatkan vaksin karena terbatas. Uji klinis juga masih dilakukan untuk keamanan vaksin jika digunakan pada anak-anak.

“Ini dilakukan karena guru berisiko lebih tinggi daripada anak-anak. Dan vaksinnya juga terbatas jumlahnya. Setelah semua divaksin sekolah diharap membuka pembelajaran tatap muka dengan prokes yang ketat,” tutupnya. (may/ono)