Kunjungi TPS3R Martopuro, Nik Sugiharti: Bisa Hasilkan Nilai Ekonomis

1010
KUNJUNGI TPS3R: Nik Sugiharti saat mengunjungi TPS3R yang dikelola dengan baik di Martopuro. Nik berharap desa lain bisa memanfaatkan TPS3R dengan maksimal.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) ternyata jika dikelola maksimal bisa menghasilkan nilai ekonomis tersendiri. Utamanya jika menerapkan sistem 3R atau Reduce, Reuse dan Recycle (mengurangi, menggunakan dan daur ulang).

Hal inilah yang diterapkan kelompok masyarakat di Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan.

Pendekatan pengelolaan 3R mulai dari menjemput sampah dari tiap rumah, pemilah sampah, sampai pengelolaan sampah organik yang bisa dijadikan kompos.

PEMILAHAN: Sampah sampah yang dihasilkan dari rumah tangga dipilah melalui TPS3R sehingga mempunyai nilai ekonomis buat warga sekitar.

Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Nik Sugiharti mencoba menganalisa dari dekat TPS3R tersebut. Didampingi Tri Laksono Adi – anggota dewan setempat, Nik menilai kegiatan positif tersebut perlu dicontoh oleh masyarakat lainnya.

“Saya sempat berdialog dengan tim pengelola dan pak Kades disini. TPS3R ini juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan bisa menghasilkan nilai ekonomis atau pendapatan buat mereka,” ujar Nik.

TPS3R milik Desa Martopuro ini berdiri belum terlalu lama. Sekitar tahun 2016. Namun, omset yang didapat bisa mencapai Rp Rp 20 juta per bulan. Saat ini, baru memanfaatkan 3 dusun dari 8 dusun yang ada. Dengan kapasitas TPS3R sebanyak 600 KK.

DISKUSI: Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Nik Sugiharti dan Tri Laksono Adi menemui pengelola TPS3R KSM ABI Martopuro.

Salah satu pengelola TPS3R Martopuro, Nur Hasan menyatakan, sampai saat ini belum ada bantuan dari Pemerintah. Padahal mereka memerlukan bantuan berupa mesin briket dan Incinerator (mesin pembakar sampah).

“Dengan adanya incinerator itu, maka sisa sampah tidak perlu lagi dibuang ke TPA,” ujar Nur Hasan.

Selain itu, pihaknya juga mengelola iuran dari pelanggan. Per bulan sebesar Rp 10.000. Jumlah ini dibagi dua. Untuk RT/RW diberikan Rp 2.500. Dan Rp 7.500 untuk TPS3R. Jika dikalkulasi dalam sebulan bisa menghasilkan Rp 1,5 Juta sampai Rp 2 Juta untuk pemilah yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga.

BISA OKE: Hasil pengolahan limbah sampah yang dikelola TPS3R menjadi barang yang bisa dijual.

“Dari sampah yang dipilah itu, bisa menghasilkan pupuk organik. Kami selaku kepala desa juga mengimbau agar seluruh masyarakat bisa memanfaatkan keberadaan TPS3R yang ada,” imbuh Kades Martopuro, H. Muntoha saat bersama-sama menemui anggota dewan tersebut.

TPS3R bisa menjadi solusi dalam mengatasi persoalan sampah. Termasuk dampak yang ditimbulkan, Tidak hanya persoalan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah yang dapat dikurangi. Namun juga dihasilkan produk-produk yang bernilai ekonomis dari sampah yang diolah tersebut.

Apalagi, TPS3R juga dilengkapi teknologi pengolahan. Sistem pengolahan sampah dengan inovasi teknologi mesin pencacah sampah dan pengayak kompos yang lebih efektif dan efesien.

PRODUKTIF: Sebagian hasil pengolahan sampah bisa dibuat sebagai kompos untuk dijual kembali.

Hasil pengolahan sampah organik berupa kompos digunakan untuk pupuk tanaman hias dan herbal yang ditanam di lahan sekitar TPS untuk dijual. Selain itu untuk meningkatkan kualitas hasil pengomposan akan diterapkan teknologi kompos cacing (kascing). Hasil pengolahan tanki biodigester berupa gas akan digunakan untuk supply energi di warga sekitar TPS 3R.

Usai melihat dari dekat, Nik Sugiharti juga menilai dalam perencanaan pembangunan TPS3R seyogjanya pemerintah juga melengkapi infrastruktur  TPS3R bukan hanya berupa bangunan, tetapi SDM dan peralatan yang dibutuhkan. Supaya TPS3R bisa maksiimal beroperasi.

“Saya melihat masih banyak dibangun TPS3R di beberapa desa. Tetapi  tidak maksimal pemanfaatannya. Bahkan ada yang tidak beroperasi sama sekali atau mangkrak. Ini yang perlu dibenahi,” tegas politisi perempuan asal Gempol ini. (day/*)