Hindu Tengger Tiadakan Pawai Ogoh-ogoh

1474
Pawai ogoh-ogoh. Foto: dokumen

 

Probolingo (WartaBromo.com) – Pawai ogoh-ogoh saat ritual Tawur Agung Kesanga jelang Hari Raya Nyepi 1943 Saka di Kabupaten Probolinggo ditiadakan. Selain itu, untuk mendukung khidmadnya ibadah umat Hindu Tengger, akses jalan menuju obyek wisata Gunung Bromo ditutup.

“Tidak ada pawai ogoh-ogoh yang biasanya dilakukan oleh setiap desa menuju Jurang Kendil Sumberanom. Ini sudah kedua kalinya pawai ogoh-ogoh tidak dilakukan, karena masih dalam situasi pandemi,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto ketika dikonfirmasi sebelum ritual Tawur Kesanga.

Bambang mengatakan ogoh-ogoh tetap dibuat, sebagai syarat ritual. Tetapi dalam pelaksanaannya hanya melibatkan petugas saja. Sama dengan ritual lainnya yang tetap digelar saat pandemi covid-19 berlangsung.

Baca Juga :   Fakta dan Pengakuan Istri Hantamkan Tabung LPG ke Suami : Belitan Cinta Segitiga

“Semua ritual tetap dilaksanakan, tetapi jumlah umatnya yang dikurangi. Tidak mengurangi kesakralan dan kekhidmadan umat Hindu Tengger dalam melangsungkan serangkaian ritual penyepian,” sebutnya.

Ia mengatakan umat Hindu Tengger tetap patuh dengan anjuran Satgas Penanganan covid-19 Kabupaten Probolinggo. Mengantisipasi kerumunan massa dalam upaya memutus mata rantai covid-19, meski wilayah Kecamatan Sukapura dan Sumber saat ini berada dalam zona hijau.

“Harapan kami di momen Nyepi kali ini semoga pandemi covid-19 segera berakhir. Agar masyarakat di seluruh dunia bisa hidup secara normal seperti sebelumnya,” kata pria yang aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Probolinggo itu.

Selama proses tapa brata penyepian, akses jalan menuju obyek wisata Gunung Bromo ditutup untuk umum, kecuali kegawatdaruratan. Penutupan dimulai Minggu, 14 Maret 2021 sejak pukul 00.00 WIB dan dibuka kembali pada Senin, 15 Maret 2021 pukul 06.00 WIB.

Baca Juga :   Bromo Dibuka Dengan Kuota 50 Persen, Pengunjung Wajib Prokes

Adapun akses jalan yang ditutup, yakni jalur dari arah Probolinggo di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Lalu dari arah Pasuruan, penutupan akses jalan dilakukan di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Sedangkan dari arah Lumajang dan Malang, penutupan dilakukan di Jemplang.

Sejumlah akses jalan yang ditutup akan dijaga forkopimka dan warga setempat. Pendukung pengamanan melibatkan unsur TNI/Polri, satpol PP, dan sekitar 100 orang jagabaya (petugas keamanan adat Suku Tengger).

Jagabaya bertugas berjaga di desanya masing-masing. Berkeliling desa guna menjaga ritual catur bratha penyepian umat Hindu Suku Tengger berlangsung khidmat dan lancar. “Mereka yang berjaga, tentunya tetap menjalankan protokol kesehatan, karena saat ini masih dalam masa pandemi covid-19,” tandasnya. (saw/ono)

Baca Juga :   Di Atas Tongkang, Ratusan Pejabat Pemkot Probolinggo Dilantik