Jelang Ramadhan Kala Pandemi Tahun Kedua

2006

Persiapan menyambut momen Ramadhan tentunya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat, tetapi juga dilakukan oleh Pemerintah, Stakeholder dan juga para pelaku usaha sesuai dengan kepentingannya masing-masing.

Oleh : Sri Kadarwati, S.Si, MT (Kepala BPS Kota Pasuruan)

Bagi masyarakat, biasanya persiapan utama yang dilakukan menjelang Ramadhan adalah persiapan fisik, dengan menjaga kesehatan jasmani dan rohani agar tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Antusiasme mengikuti anjuran Pemerintah dalam program Vaksinasi Covid-19, merupakan salah satu upaya untuk tetap sehat dan terhindar dari wabah Covid-19. Demikian pula dengan kedisiplinan dalam menjalankan kehidupan new Normal nampaknya sudah menjadi bagian dari budaya di masyarakat Kota Pasuruan dalam satu tahun terakhir ini.

Dampak positif terhadap kesehatan masyarakat secara bertahap tercermin dari data yang disajikan Tim Satgas Covid-19 Kota Pasuruan menunjukkan adanya perubahan signifikan dari jumlah kasus baru rata-rata selama 7 hari pada akhir februari 2021 dari angka 7.997 menjadi 5.024 kasus baru.

Semangat menuju zona kuning dan hijau terus digaungkan oleh Pemerintah daerah dalam tiga bulan kedepan dengan harapan dapat dicapai oleh Kota Pasuruan. Salah satunya secara bersama-sama terus menerus mensosialisasikan dan mengupayakan gerakan 5 M yaitu sering mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menggunakan masker, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Informasi dan pesan melakukan gerakan 5 M diberbagai kesempatan dan tempat disampaikan melalui iklan, media sosial dan media informasi.

Momen Ramadhan dan hari raya juga menjadi perhatian bagi para pelaku usaha.

Arahan dan support dari kementerian terkait melalui pemerintah daerah atau dinas terkait dalam menghadapi pandemi Covid-19 kepada para pelaku usaha, tentunya menjadi bekal para pelaku usaha dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan inovasi dalam pelayanannya. Salah satunya pelayanan melalui online yang cepat, menarik dan terjangkau harganya oleh masyarakat menjadi alternative tersendiri bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.

Persiapan jelang Ramadhan yang dilakukan oleh Pemerintah tentunya mengupayakan untuk menjaga stock pangan agar kestabilan harga tertap terjamin sehingga tidak membebani masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan utamanya.

Oleh karena itu pembentukan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), pada jelang momen-momen besar seperti Ramadhan dan hari raya, sebaiknya dilakukan dengan kegiatan antara lain melakukan evaluasi dan monitoring serta strategi atau pengambilan kebijakan yang tepat dalam hal penyediaan dan pengendalian harga kebutuhan pangan dan non pangan.

Untuk mengetahui fenomena harga komoditas bahan pokok di Kota Pasuruan, BPS mencoba merekap dari data sekunder yang disajikan Disperindag Jawa Timur dalam aplikasi Siskaperbapo (Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok) hingga akhir maret 2021. Selama bulan Januari hingga Maret 2021, menunjukkan bahwa di Kota Pasuruan umumnya tren harga komoditas bahan pokok mengalami puncak harga tertingi di awal-awal tahun. Harga komoditas terus menjadi stabil dan relative terjaga hingga bulan Maret dan bahkan beberapa komoditi terus mengalami penurunan harga di bulan berikutnya.

Sementara dari pantauan tahun lalu, pada momen Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang biasanya menyebabkan kenaikan harga bahan pokok justru terjadi penurunan harga.

Turunnya harga bahan pokok ini memiliki dua sisi, di satu sisi masyarakat lebih mampu menjangkau dan membeli komoditas tersebut. Namun, di sisi lain hal ini justru merupakan suatu indikasi bahwa daya beli masyarakat menurun. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, ketika daya beli masyarakat turun maka permintaan akan komoditas tersebut juga turun sehingga terjadi penurunan harga.

Menjelang Ramadan dan Lebaran, dapat dipastikan harga komoditas bapok (bahan makanan pokok) akan stabil.

Berdasarkan Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2020, pola konsumsi masyarakat di Kota Pasuruan masih didominasi oleh pengeluaran untuk makanan, yaitu sebesar 52,60 persen untuk makanan, dan sisanya sebesar 47,40 persen untuk non makanan. Jika dilihat menurut distribusi pengeluaran makanan rumahtangga, 29,30 persen pengeluaran makanan digunakan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman jadi.

Angka tersebut merupakan nilai terbesar dibandingkan pengeluaran untuk komoditi makanan lainnya. Urutan kedua sebesar 9,76 persen pengeluaran makakan untuk komoditas padi-padian (beras, beras ketan, jagung, tepung terigu dan jenis padi-padian lainnya), dan urutan ketiga adalah untuk komoditas tembakau dan sirih sebesar 8,18 persen.

Pola perilaku konsumsi tersebut, dapat dijadikan acuan dalam penyediaan makanan di masyarakat. Diharapkan ketersediaan bahan-bahan pangan tersebut cukup, mudah diakses dan harganya stabil, khususnya pada momen jelang Ramadhan dan Hari Raya.

Dengan ketersediaan yang cukup, mudah diakses dan stabil harganya, tidak menimbulkan panik buying di tengah masyarakat yang masih menghadapi pandemi Covid-19, serta kesenjangan pengeluaran konsumsi penduduk yang melebar khususnya pada kelompok penduduk berpendapatan menengah ke bawah.