Memaknai Kontraksi Ekonomi Kota Pasuruan

2386
Ilustrasi ekonomi oleh Freepik.
Untuk meredam dampak pandemi agar tidak berkelanjutan dan sebagai upaya untuk pemulihan perekonomian, maka Pemerintah Kota Pasuruan perlu bekerja keras.”

Oleh Dewi Mayasari, S.Si, M.E (Statistisi Muda-BPS Kota Pasuruan) 

PANDEMI Covid-19 yang merebak mulai awal Maret 2020 tidak hanya melumpuhkan sisi kesehatan bangsa namun juga berimbas pada melemahnya perekonomian bangsa. Baik dari sisi permintaan (demand) maupun produksi (supply) hingga kontraksi pertumbuhan menjadi kenyataan. 

BPS telah merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen. Dimana lapangan usaha perdagangan dan konstruksi mengalami kontraksi terdalam masing-masing yaitu sebesar 3,72 persen dan 3,26 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, hanya konsumsi pemerintah yang mampu menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. 

Pada level Jawa Timur, kontraksi pertumbuhan ekonomi semakin dalam lagi yakni sebesar 2,39 persen (c-to-c) dibanding kumulatif triwulan 1-4 periode 2019. Sejumlah lapangan usaha pertumbuhannya terkoreksi, diantaranya lapangan usaha Jasa Lainnya (-13,80 persen), Transportasi dan Pergudangan (-11,16 persen) serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (-8,87 persen). Pandemi memberikan dampak besar pada ketiga sektor tersebut, banyak aktivitas usaha yang terhenti dengan adanya pandemi.

Kota Pasuruan sebagai bagian dari wilayah Jawa Timur juga turut merasakan kelesuan ekonomi tersebut. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku selama tahun 2020 tercatat sebesar Rp8,05 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan sebesar Rp5,71 triliun. 

Bila dibandingkan dengan atas dasar harga konstan tahun 2019, maka pertumbuhan ekonomi Kota ini terkontraksi cukup dalam yakni mencapai 4,33 persen pada tahun 2020. Kondisi yang tidak pernah terjadi selama 2 dasawarsa terakhir dan ini merupakan kontraksi ekonomi pertama Kota Pasuruan sejak krisis moneter tahun 1998 yang kala itu pertumbuhannya mencapai -5,95 persen.

Di antara 17 lapangan usaha, dampak pandemi terdalam dirasakan oleh lapangan usaha Jasa Lainnya yang terkontraksi sebesar 14,82 persen. Diikuti oleh lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dan Industri Pengolahan yang pertumbuhannya masing-masing terkontraksi sebesar 10,32 persen dan 7,68 persen. 

Pembatasan aktivitas masyarakat melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), School From Home (SFH), Work From Home (WFH) dan kampanye stay at home turut memberikan pengaruh pada aktivitas bisnis di kota santri ini karena masyarakat enggan untuk ke luar rumah dan lebih menghabiskan waktunya bersama keluarga di rumah. 

Data survei dampak covid-19 terhadap pelaku usaha pada awal Januari 2021 menunjukkan bahwa sekitar 80 persen pelaku usaha di Kota Pasuruan mengurangi kapasitas output dengan mengurangi jam kerja, mesin dan personel selama pandemi. Selain itu, sempat dibatasinya akses wisata religi yang menjadi andalan Kota Pasuruan, yaitu makam KH. Abdul Hamid. Bahkan acara Haul ke-39 KH Abdul Hamid yang biasanya selalu dipadati pengunjung luar kota, pada tahun 2020 diselenggarakan secara virtual yang berimbas pada menurunnya gairah wisata religi di Kota Pasuruan dan memberikan multiplier effect pada lapangan usaha yang lain.

Walaupun secara umum kinerja perekonomian Kota Pasuruan terkontraksi, namun ada beberapa lapangan usaha yang mampu tumbuh positif. Tiga di antaranya yaitu lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh sebesar 11,05 persen, diikuti lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (8,69 persen), serta lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (7,75 persen). 

Hal yang menarik adalah lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mampu menjadi pengungkit utama perekonomian Kota Pasuruan di masa pandemi, bahkan laju pertumbuhannya mencatatkan nilai tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Peranannya yang cukup besar sebagai supplier kebutuhan akan bahan makanan terutama saat pandemi menjadi salah satu faktor pendorong melajunya lapangan usaha ini. 

Selama masa pandemi, kesehatan juga menjadi prioritas utama bagi masyarakat. Terlebih dengan kampanye 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilitas, dan menjauhi kerumunan) serta menjaga imunitas tubuh turut meningkatkan penggunaan berbagai produk kesehatan yang berdampak pada kinerja lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial untuk tumbuh positif. Selain itu, penambahan insentif pada tenaga medis dan peningkatan pendapatan fasilitas kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19 turut memicu kinerja lapangan usaha ini. Sementara kinerja lapangan usaha Informasi dan Komunikasi didorong dengan kebijakan pemerintah yang menerapkan aktivitas belajar dan bekerja dari rumah. ke halaman 2