Serunya Bermain “Mercon Bumbung” Sambil Menunggu Bedug Maghrib

591

Pasuruan (wartabromo.com) – Banyak pilihan kegiatan yang asyik dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa. Salah satunya yakni, bermain meriam bambu atau mercon bumbung seperti yang dilakukan anak-anak di Kelurahan Bugul Kidul, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

Suara letupan dari dua deret bambu saling bersahutan di sebuah lahan kosong, lebih tepatnya dekat area persawahan. Terlihat, sejumlah anak saling bergantian menyulut meriam yang terbuat dari bilah bambu yang tak terlalu muda itu.

Tiap kali meriam berbunyi, kerap disusul oleh suara riang gembiranya anak-anak. Ada yang tertawa senang, ada yang takut saat akan menyalakan meriam bambu tersebut.

“Hore, banter nemen suarane (hore, keras sekali suaranya),” suara riang sejumlah anak yang ada di situ.

Untuk memainkan lodong, diperlukan sebatang bambu yang dilubangi di bagian pangkalnya. Ruas bambu juga mesti dijebol dengan tongkat atau linggis. Tujuannya untuk membuat ruang gas.

Kemudian, dibuatlah lubang picu dengan menggunakan bor atau gergaji di pangkal samping bambu. Lubang ini akan dijadikan tempat untuk menuangkan minyak tanah dan memantik letupan.

Cara memainkannya cukup mudah, yakni dengan memasukkan air dan karbit kedalam bambu. Kemudian bambu tersebut diletakkan ke tanah dengan posisi bambu bagian depan sedikit ke atas.

“Cukup dengan air dan karbit, kemudian dinyalakan,” kata Elmo Mahgfir Ramdan, salah satu anak yang bermain meriam bambu itu, Kamis (15/4/2021).

Meski permainan ini sudah lama dilakukan oleh masyarakat jaman dulu, anak-anak milenial yang juga tak mau kalah menikmati permainan ini. Namun, permainan meriam ini perlu diawasi orang dewasa karena risiko kecelakaan tetap ada.

Abdul Muis, orang tua yang mengawasi anaknya bermain merima bambu itu mengatakan, permainan yang memang tradisi zaman dahulu ini tetap terjaga sampai sekarang.

Untuk memainkan mercon bumbung diperlukan lahan yang luas nan sepi, pasalnya suara bising mercon bumbung bisa mengganggu warga sekitar.

“Tetap diawasi, dan tempatnya harus lahan yang luas dan jauh dari pemukiman,” kata Muis. (don/may)

Simak videonya: