Kisah Dua Sosok Perempuan Inspiratif yang Tak Lekang Oleh Zaman

558

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Allah Swt menciptakan perempuan sebagai makhluk istimewa. Kehadirannya tidak lain untuk dicintai, disayangi, dan dihormati.

Saking istimewanya, Allah Swt menurunkan surah An-Nisa di dalam Al-Qur’an, yang disebut-sebut sebagai bentuk kebesaran-Nya dalam menjunjung tinggi harkat dan martabat para perempuan di muka bumi.

Namun, di zaman modern ini masih cukup banyak wanita yang kurang percaya diri menyuarakan aspirasi. Padahal dalam Islam maupun di Indonesia sudah ada sosok perempuan inspiratif yang bisa dijadikan contoh.

Aida Fitriati, Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Pasuruan mengatakan, sudah seharusnya para perempuan mengenal sosok-sosok perempuan inspiratif yang tak lekang oleh zaman.

“Dengan mengenalnya, InsyaAllah akan mudah bagi para perempuan untuk lebih semangat dan bertekad menjalani kehidupan yang jauh lebih baik,” kata perempuan yang akrab disapa Ning Fitri itu.

Siti Khadijah menjadi sosok perempuan pertama yang dicontohkan. Ia adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW. Perempuan paling kaya di Makkah yang dermawan, pemikirannya cerdas, dan memiliki perangai salehah.

Dikisahkan, ketika menjadi istri Rasulullah, semua kekayaannya didedikasikan untuk mendukung perjuangan Rasul dalam syiar Islam. Bahkan, pada saat wafat semua harta benda ditinggalkan kecuali pakaian yang dikenakan.

“Sungguh indah hatinya, perempuan sekaligus istri salehah dan dermawan yang bisa dijadikan inspirasi dan contoh bagi seluruh perempuan,” tutur Ning Fitri.

Lebih lanjut diceritakan Ning Fitri tentang sosok RA Kartini sebagai perempuan inspiratif di Indonesia. Sosok yang mampu membawa perempuan pribumi menuju keseteraan kedudukan dengan laki-laki.

RA Kartini adalah sosok bangsawan yang memiliki hati lemah lembut dan rendah diri. Ia memiliki semangat juang yang bergejolak sedari usia muda.

Ning Fitri menyebut RA Kartini memiliki andil cukup besar dalam kehidupan perempuan. Berkatnya, para perempuan diperbolehkan mengenyam pendidikan dan bekerja sebagaimana laki-laki.

Tekad dalam hatinya begitu kuat hingga setelah menikah, ia meminta izin suami untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Sekolah ini menjadi bukti nyata sejarah perjuangannya.

Setelah sekolah itu berhasil didirikan, Ia melahirkan putri pertama, Soesalit Djojoadhiningrat. Empat hari pasca melahirkan, RA Kartini meninggal dunia.

Untuk mengenang jasanya, pemerintah menetapkan peringatan Hari Kartini sebagai hari besar Nasional. Tepatnya tanggal 21 April setiap tahunnya. Tanggal tersebut dipilih sesuai dengan hari lahir RA Kartini.

“Meski telah wafat, semangatnya dalam menyetarakan kedudukan perempuan, terutama kesempatan untuk menuntut ilmu bagi perempuan tertanam hingga saat ini,” tegas Ning Fitri.

Sosok perempuan yang dikisahkan Ning Fitri ini diharapkan bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi seluruh kaum hawa. Baik dalam segi kedermawanan, perangai, semangat juang yang tinggi untuk menjunjung harkat dan martabat perempuan. (trj/ono)