Lubang Atmosfer Picu Badai Matahari

1999

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Badai matahari menghantam bumi pada, Minggu (2/5/2021). Badai berkecepatan 1,8 juta km/jam ini menyebabkan gangguan terhadap jaringan satelit.

Badai matahari ini, kata peneliti, terjadi akibat adanya lubang pada atmosfer matahari yang memancarkan partikel ke ruang angkasa. Dengan kecepatan partikel mencapai 500 km/detik.

“Aliran partikel dari badai matahari tersebut berada pada jalur hantaman langsung dengan bumi, dan akan terjadi pada hari ini,” kata para ahli, seperti dikutip dari pikiranrakyat.

Para ahli menamai badai Matahari ini dengan kelas G1. Badai ini dapat menyebabkan fluktuasi jaringan listrik yang lemah dan memiliki dampak yang kecil pada operasi satelit.

Badai matahari seperti yang menghantam bumi kemarin, termasuk fenomena yang sering terjadi. Sehingga bagi bumi, tidak begitu menyebabkan dampak besar. Meski badai ini bisa melumpuhkan teknologi manusia.

Tercatat, badai Matahari terakhir menghantam Bumi pada tahun 1989. Akibatnya, di wilayah Quebec, Kanada, terjadi pemadaman listrik.

Sampai sekarang, para ahli tidak bisa memprediksi kapan dan dimana badai matahari terjadi. Namun, para ahli tetap mengeluhkan persiapan yang kurang dalam menghadapi potensi kerusakan yang lebih besar akibat fenomena alam ini.

“Dalam kasus terburuk, biaya langsung dan tidak langsung cenderung mencapai triliunan dolar dengan waktu pemulihan bertahun-tahun, bukan berbulan-bulan,” keluh Perusahaan konsultan risiko Drayton Tyler, seperti dinukil dari pikiranrakyat. (oel/asd)