Aktivitas Tambang Disebut Perparah Kerusakan Gempa di Puspo

840
Salah satu bangunan di Puspo yang rusak parah akibat gempa. Foto: Miftahul Ulum.

Puspo (WartaBromo.com) – Sebanyak 39 rumah dan 3 tempat ibadah rusak akibat guncangan gempa yang terjadi Jumat (20/5/2021) lalu. Wilayah Kecamatan Puspo merupakan daerah dengan kerusakan paling banyak.

Ahmad Baidowi, Kepala Desa Pusung Malang, Kecamatan Puspo menyebut, maraknya kegiatan pertambangan di sekitar wilayahnya diduga ikut berkontribusi atas banyaknya kerusakan yang terjadi.

“Akibat penambangan sirtu di wilayah pasrepan winongan dan lumbang itu. Sebelum ada tambang, memang ada gempa, tapi tidak parah,” kata Baidowi, Sabtu (22/5/2021).

Sebagai catatan, selain Puspo, kegiatan pertambangan juga jamak dijumpai di kecamatan di kaki pegunungan Bromo. Seperti Lumbang, Winongan dan juga Pasrepan.

Menurut Baidowi, kecamatan-kecamatan tersebut ibarat pondasi dari wilayah di atasnya, yakni Gunung Bromo. Ketika pondasi tersebut dikeruk, maka kondisi tanah menjadi labil.

“Kalau dikeruk terus pondasinya, ketika ada gempa ya otomatis jadi labil dan akhirnya seperti sekarang rusaknya,” bebernya.

Di desanya sendiri, tercatat lebih dari 60 rumah warga rusak ringan, sedang, sampai parah. Dan masih banyak yang mengalami retak-retak.

“Ada lebih dari 60 rumah lah yang rusak, kalau cuma yang retak-retak banyak,” pungkasnya.

Terpisah, peneliti Sayogjo Institute Eko Cahyono menyebut, sebagai pulau dengan jumlah penduduk terbanyak, Jawa sejatinya tak lagi cocok untuk kegiatan penambangan.

“Pada prinsipnya, industri pertambangan memang tidak cocok lagi untuk pulau Jawa. Karena Jawa sudah menanggung beban yang cukup besar dengan penduduknya. Jika (tambang) ini diteruskan, pasti akan mengganggu keseimbangan lingkungan,” katanya. (oelasd)