Gugon Tuhon, 5 Mitos Jawa yang Dipercaya Turun Temurun

1760

Pasuruan (wartabromo.com) – Berbicara soal mitos memang nggak ada habisnya, apalagi bagi masyarakat Jawa. Bagi sebagian orang Jawa, mitos dan kehidupan sehari-hari tidak bisa dipisahkan.

Sebab kebanyakan orang Jawa percaya mitos adalah sebuah isyarat dari alam yang disampaikan kepada manusia langsung. Bahkan, tidak jarang mitos juga disebut sebagai gugon tuhon.

Apa itu gugon tuhon? adalah kepercayaan berisi larangan atau ajaran dalam masyarakat Jawa. Nah, Bolowarmo, dilansir dari tempo.com, ternyata ada lima mitos Jawa yang sampai saat ini masih dipercaya secara turun temurun.

Apa saja? Yuk, simak!

1. Kupu-kupu Masuk Rumah

Menurut masyarakat Jawa, seekor kupu-kupu yang masuk ke dalam rumah menandakan akan terjadi sesuatu. Yaitu sebagai pertanda akan datang seorang tamu.

Tamunya bisa berupa kerabat dekat, sanak saudara, keluarga atau bahkan orang penting. Nah, apakah rumah Bolowarmo pernah dimasuki kupu-kupu?

2. Bersiul di Malam Hari

Singaot adalah sebutan “bersiul” bagi orang Jawa. Apabila bolowarmo pernah bersiul di malam hari, pasti orang tua akan menegur, “Ojo singsot wes wengi, gak ilok,”

Nah, ternyata larang tersebut dimaksudkan agar makhluk halus tidak datang ke rumah. Pasalnya, menurut turun temurun orang Jawa, bersiul di malam hari akan mengundang makhluk halus datang ke rumah.

3. Perawan Duduk di Ambang Pintu

Khusus bagi gadis lajang (perawan) di Jawa pasti dilarang duduk di ambang pintu. Mengapa? Menurut mitos Jawa, seorang perawan yang duduk di ambang pintu akan sulit mendapatkan Jodoh.

4. Tidak Bersih Saat Menyapu

Masih berkaitan dengan perawan di Jawa, kebanyakan perempuan Jawa cenderung menyukai pria yang bersih tanpa brewok dan kumis rapi. Nah, tak heran jika perempuan Jawa sedang menyapu rumah, orang tua pasti memberikan wejangan:

“Sing bersih lek nyapu, mengko bojone brewok,”

Wejangan tersebut menjadi mitos turun temurun. Padahal, maksud dari wejangan tersebut dimaksudkan agar para perempuan muda Jawa semakin bersih membersihkan rumahnya.

5. Duduk di Atas Bantal

Orang jawa dikenal sangat sederhana, saat sedang duduk mereka lebih sering lesehan. Dari hal inilah anak-anak banyak menggunakan bantal sebagai alas duduk. 

Mitos ini berkembang untuk mengajarkan bahwa tidak baik menggunakan benda untuk kepala sebagai alas pantat. Meski begitu, ternyata tak sedikit orang yang benar-benar bisulan setelah duduk di atas bantal.

Dari kelima mitos di atas, manakah yang masih Bolowarmo percaya? (trj/may)