Jadi Tersangka di Kasus BOP, Keluarga Ustad AW: Bapak Cuma Kurir

1884
Rimawan Herasmawanto, salah satu tersangka BOP (rompi merah) saat dibawa ke mobil tahanan. Foto: Istimewa.

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Keluarga Abdul Wahid (AW) satu dari lima tersangka Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Kemenag RI 2020 angkat bicara terkait kasus yang menimpa sang ustad.

Khoirun Nisa, istri AW mengaku bila suaminya akan tersandung kasus yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Keluarga syok, tidak menyangka akan jadi seperti ini,” terangnya, Senin (31/5/2021).

Ditemui di rumahnya di Kelurahan Karangketug, Nisa menyebut bila suaminya tak seperti yang dituduhkan penyidik. Sang suami, kata Nisa, tidak terlibat dalam pemotongan. “Bapak kalau ada apa-apa pasti cerita,” lanjutnya.

Nisa mengaku tak banyak yang mengenal empat tersangka yang lain. Satu-satunya yang ia tahu adalah tersangka Ahmad Suhairi alias AS. Seingatnya, tercatat AS dua kali ke rumahnya. Tapi, ia tak ingat tanggal pastinya.

Ibu tiga anak ini mengungkapkan, kedatangan AS ke rumahnya itu untuk meminta tolong suaminya mengantarkan surat pemberitahuan bantuan kepada lembaga pondok pesantren yang menerima.

Menurut Nisa, ada 11 surat yang kala itu dibawa suaminya dan harus diserahkan ke ponpes penerima. Ia mengetahui hal itu karena sempat menghitungnya.

Nah, sebagai kompensasi, AS memberikan uang transport Rp 200 ribu kepada suaminya. Dikalikan 11 lembaga, total uang transport yang didapat suaminya Rp 2.200.000.

“Jadi bapak itu dimintai tolong untuk mengantar SK itu ke pondok-pondok. Bapak dikasih Rp 200 untuk transport. Totalnya Rp 2.200.000. cuma itu, tidak ada yang lain,” jelas Nisa.

Jika akhirnya suaminya ikut terjerat kasus dugaan pemotongan dana BOP Kemenag, ia pun mengaku nelangsa. Ia yakin, suaminya hanya dikorbankan untuk menutupi aktor yang sebenarnya.

“Kami tidak mungkin ikut motong-motong begitu. Bapak ini orang biasa, tidak pernah macam-macam seperti itu. Cuma dimintai tolong antar surat, nggak ngerti kalau akan begini,” jelas Nisa.

Nisa menyebut, tidak mungkin bagi suaminya untuk mengorbankan nama baik keluarga hanya karena duit yang tak seberapa. (tof/asd)