Menuju Puncak Produksi Minyak, Mungkinkah?

493
Instalasi kilang minyak milik Pertamina EP di Subang, Jawa Barat. Foto: Tempo.co.id

Target besar diusung pemerintah guna memenuhi kebutuhan migas yang terus melonjak. Mencapai 1 juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari. Mungkinkah?

Laporan: Asad Asnawi

MEMILIKI cadangan migas cukup besar, nyatanya, Indonesia masih menjadi pengimpor minyak terbesar se Asia Tenggara. Pasalnya, tingginya kebutuhan minyak tidak sebanding dengan jumlah yang diproduksi secara nasional.

Berdasar data SKK Migas, total kebutuhan minyak nasional per hari mencapai 1,4 juta barel. Hal itu tidak sebanding dengan kemampuan produksi yang hanya mencapai sekitar 800 ribu barel per hari (sumber: paparan webinar SKK Migas). Angkanya bahkan jauh menurun setelah terjadi pandemi Covid-19.

Untuk memenuhi sisa kebutuhan, pemerintah harus mengimpor minyak mentah hingga 600 ribu barel per hari. “Dari sisi fiskal, ini tentu memberatkan keuangan negara,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam siaran persnya, April 2021 lalu.

Guna mendukung ketahanan energi dan juga perekonomian nasional, target besar pun diusung SKK Migas untuk meningkatkan produksi migas di 2030 mendatang. Mencapai 1 juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari.

Dwi menyadari bukan hal mudah untuk mengejar target yang bakal menjadi capaian terbesar dalam sejarah produksi minyak nasional itu. Namun, dengan beberapa strategi yang disiapkan, pihaknya optimistis target tersebut bisa dicapai.

Ia menyebut, mempertahankan produksi existing menjadi prioritas pertama untuk mengejar target besar ini. Upaya itu dilakukan dengan tetap menjaga keandalan produksi, perawatan sumur, memaksimalkan kerja hingga inovasi teknologi.

Strategi kedua, lanjut Dwi, akselerasi transformasi sumber daya yang menjadi sumber cadangan. Untuk langkah ini, SKK menargetkan digitalisasi sistem informasi hingga 2024 mendatang. Sistem ini mencakup semua detil informasi potensi cadangan migas di seluruh wilayah Indonesia.

Strategi ketiga, mempercepat EOR (Enhanced Oil Recovery). Dijelaskan Dwi, SKK memiliki komitmen pasti (KKP) dengan para pihak senilai 446 juta dolar AS. KKP tersebut diharapkan mampu mempercepat proyek-proyek EOR. Di antaranya field trial EOR di lapangan Tanjung, Jatibarang dan Gemah. Dan, strategi terakhir, mendorong kegiatan eksplorasi yang massif.

Sekretaris SKK Migas Taslim Yunus menambahkan, Indonesia memiliki 128 cekungan migas yang tersebar di berbagai wilayah. Dari jumlah itu, baru 20 cekungan yang telah berproduksi, 27 belum berproduksi. Bahkan, 68 cekungan lainnya belum tersentuh sama sekali.

“Secara total, potensi cadangan minyak kita mencapai 80 miliar barel, dengan ekuivalen produksi 3, 2 juta barel per hari. Selama ini, eksplorasi yang dilakukan lebih banyak menemukan gas,” terang Taslim dalam paparannya yang disampaikan via daring.

Guna mengejar target mimpi 1 juta barel itu, pihaknya terus mendorong ekspansi produksi dan juga pengeboran cekungan-cekungan potensial. Terlebih, dari 128 cekungan yang ada, baru sebagian kecil yang termanfaatkan.

Taslim melanjutkan, pada kuartal pertama 2021 lalu, SKK Migas telah melakukan pemboran di 76 lokasi sumur pengembangan yang ada. Jumlah itu setara 12 persen dari rencana 616 sumur yang dilakukan pemboran tahun ini.

Menurut Taslim, capaian itu memang terbilang rendah bila dibanding 616 sumur yang ditargetkan dibor tahun ini. “Tapi itu masih wajar karena terkendala proses pengadaan, administrasi dan sebagainya. Dan itu kami genjot di kuartal kedua dan seterusnya,” jelas Taslim.

Taslim mengemukakan, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi industri migas dalam negeri. Salah satunya, lemahnya ekspansi produksi pada sumber-sumber minyak baru. Bahkan, dalam dua dekade terakhir, tidak ada temuan cadangan sumur minyak dalam jumlah besar.

Selain itu, harga minyak dunia yang cenderung fluktuatif juga banyak memberi pengaruh. Begitu juga dengan Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun belakangan yang turut berdampak pada turunnya tren investasi. Bahkan, pada 2020 lalu, Exxon, Shell serta beberapa pemain besar industri hulu migas memangkas belanja investasinya 20-30 persen.

Di dalam negeri, kata Taslim, pandemi yang terjadi juga menyebabkan produksi minyak ikut turun. Hanya 678 ribu barel dari 705 ribu barel yang ditargetkan. Meski begitu, Taslim berharap agar penurunan tak kembali berlanjut di tahun ini.