Catatan dari Ruang Karantina

1597

Oleh: Asad Asnawi

YANG saya perkirakan akhirnya terjadi. Melihat longgarnya kebijakan dan massifnya penyebaran, virus ini pun sampai juga; saya positif Covid-19. Dan ini adalah hari keempat saya menjalani isolasi mandiri alias karantina.

Bersyukur sekali meski hasil tes PCR menyatakan saya positif Covid-19, saya tidak memiliki keluhan. Tidak ada gejala seperti yang dirasakan sebagian pasien Covid-19 yang lain. Tidak ada demam, greges, atau hilang penciuman. Semua indera perasa dan pengecap masih berfungsi dengan baik.

Bisa dibilang kondisi saya baik-baik saja. Saya ‘sehat’. Toh saya masih bisa menulis. Tetapi, di balik saya yang tampak baik-baik saja itu, pada tubuh saya terdapat virus. Virus yang menurut hasil tes PCR sebagai Covid-19. Soal varian apa, saya kurang tahu.

Menyusul status saya yang positif, beberapa kawan yang sempat kontak dalam rentang 1-2 minggu belakangan segera saya hubungi. Begitu juga dengan Satgas Penanganan Covid-19 ini.

Kepada kawan, saya maksudkan supaya lebih mawas. Karena saya juga tidak tahu seberapa kuat sistem kekebalan tubuh yang dimiliki, sebaiknya juga melakukan tes antigen. Minimal untuk deteksi dini.

Jika hasilnya positif, lanjutkan dengan tes PCR untuk memastikan keberadaan virus. Jika pun negatif, ada baiknya tetap isolasi karena virus ini memiliki masa inkubasi kurang lebih 14 hari.

Nah, kepada Satgas, data nama dan alamat para kontak juga saya share. Lengkap dengan nomor handphone yang bisa dihubungi.

Paling tidak, Satgas bisa segera melakukan tracing. Karena kecepatan dan ketepatan tracing ini berpengaruh terhadap upaya untuk menekan penyebaran. Lebih cepat melakukan tracing, lebih cepat pula menghadang laju penyebaran.

Beberapa kawan memang sempat merasa panik begitu mengetahui saya yang positif. Ia khawatir virus ini telah menjangkiti dirinya. Untung saja hasil tes swab antigen dinyatakan negatif.

Saya sendiri begitu divonis terpapar Covid-19 langsung menjalani karantina. Kendati tampak ‘sehat’, saya tak ingin virus yang ada pada diri saya ini menyebar kemana-mana. Karena saya juga tidak tahu kekebalan tubuh orang-orang yang saya temui.

Bisa jadi mereka yang berbicara dengan saya memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik. Sehingga ketika terinfeksi atau terpapar hanya bergejala ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala apapun.

Atau malah sebaliknya. Siapa tahu orang yang saya temui sistem imunnya malah jauh lebih buruk dari saja. Sudah begitu punya komorbit (penyakit bawaan). Seperti diabetes, hipertensi, asma, dan sebagainya.

Nah, tentu orang dengan klasifikasi seperti ini yang justru harus lebih dilindungi karena memiliki resistensi tinggi. Itulah kenapa dari awal virus ini muncul, orang-orang dengan komorbit atau lanjut usia disarankan betul untuk tidak keluar rumah. Karena itu tadi. Mereka memiliki resistensi lebih dibanding yang lain.

Bahwa bagi mereka yang berimun kuat, Covid dapat sembuh dengan sendirinya memang iya. Tetapi, karena ini pandemi, tentu kita tidak hanya bicara manusia hanya pada kelompok ini.

Ada kelompok manusia rentan, seperti yang saya jelaskan tadi yang juga rawan terpapar. Dan, ini yang justru harus lebih diantisipasi. Karena ketika banyak kelompok rentan yang terpapar, hampir pasti mereka akan bergejala.

Dan biasanya, gejalanya bukan cuma demam atau greges biasa. Karena kelompok rentan, imunnya rendah, penyakitnya kambuh, hingga berujung pada kematian. Jika hanya satu dua orang mungkin masih tertangani.

Tetapi, jika yang sakit parah dalam jumlah banyak, ini yang menjadi masalah. Seperti yang terjadi saat ini. Lonjakan kasus membuat rumah sakit-rumah sakit kelabakan. Kalau sudah begitu, pasien pasti akan saling berebut untuk mendapat penanganan terbaik.

Tetapi, itu jika rumah sakit masih cukup, masih ada ruangan untuk menampung. Padahal, kita sama-sama tahu. Kapasitas rumah sakit dan tenaga medis yang dimiliki jumlahnya terbatas. Itu-itu saja. Atau bahkan ada yang berkurang karena juga ikut terpapar. Kalau sudah begitu, mau apa? Atau bisa apa? Tidak bisa apa-apa. Pasrah saja menunggu giliran.

Jadi, melihat lonjakan yang begitu drastis, hingga menembus rekor tertinggi sejak pandemi setahun lalu, selayaknya membuat kita makin waspada. Pandemi ini serius. Kecerobohan, peng-abai-an akan protokol kesehatan akan berakibat fatal.