Debit Umbulan yang Terus Menyusut dan Ancaman Krisis Akibat Perubahan Iklim

2133
Warga di Kabupaten Pasuruan saat mengantre air bersih. Krisis air menjadi salah satu ancaman paling serius akibat perubahan iklim. Foto: Romadoni.

Laporan: Asad Asnawi

SUDAH dari dulu kala, Jawa terlalu menarik untuk ditinggali. Tentu, dengan berbagai alasan. Ini pula yang menjadikan Jawa, satu dari ribuan pulau di Indonesia makin dijubeli penduduk.

Hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, total penduduk Jawa mencapai 156 juta jiwa. Angka itu setara dengan 56 persen jumlah penduduk Indonesia yang tercatat sebanyak 270 juta jiwa.

Banyaknya penduduk yang memadati Jawa itu tentu tak proporsional bila dibandingkan pulau-pulau besar lain. Apalagi, Jawa hanya menduduki peringkat ke-7 sebagai pulau terluas di Indonesia.

Kalimantan yang merupakan pulau terluas di Indonesia hanya berkontribusi 7 persen jumlah penduduk Indonesia. Disusul,Sumatera (21 persen), Papua (2 persen), Sulawesi (4 persen), Maluku (2 persen), Bali dan Nusa Tenggar (1 persen).

Banyaknya penduduk Jawa pada akhirnya kian menambah beban pulau ini. Jawa tak lagi cukup ruang untuk menampung penduduknya yang mencapai separuh lebih dari penduduk Indonesia itu.

“Makin bertambahnya penduduk Jawa membawa konsekuensi akan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup. Seperti pangan dan tempat tinggal, hingga pekerjaan. Akibatnya, lahan-lahan terbuka makin sempit karena terdesak permukiman dan industri,” kata Eko Cahyono, peneliti Sajogyo Institute.

Makin menyempitnya lahan terbuka, lanjut Eko, pada akhirnya menjadikan pulau ini kehilangan daya dukung. Ketersediaan sumber daya alam makin menipis. Air yang menjadi kebutuhan pokok bahkan mulai memasuki tahap kritis.

Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan, neraca air Jawa hanya cukup untuk menghidupi penduduk hingga 2040 mendatang. Perubahan iklim serta alih fungsi lahan disebut-sebut sebagai penyebabnya.

Data Puslitbang Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR menyebut, secara ideal, kebutuhan air masyarakat Jawa adalah 1600 meter kubik per tahun. Akan tetapi, saat ini jumlah ketersediaan air hanya mencapai 1.169 meter kubik per tahun. Bahkan, pada 2040, angkanya hanya tinggal 476 meter kubik per tahun (Puslitbang SDA PUPR, 2012).

Tanda-tanda akan menipisnya cadangan air Jawa di masa depan sudah banyak terlihat. Beberapa wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai kantung air mulai dilanda kekeringan. Salah satunya Kabupaten Pasuruan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat Ridwan Haris menyebutkan, setiap tahun, setidaknya ada 23 desa di wilayah ini kesulitan air bersih saat musim kemarau tiba. “Itu dari hasil asesmen yang kami lakukan. Ada 23 desa di tujuh kecamatan yang rawan kekeringan,” katanya.

Bukan itu saja. Umbulan, mata air terbesar di Pulau Jawa kini juga terancam mengering menyusul terjadinya penurunan debit yang signifikan dalam dua dasarwarsa terakhir. Dari 6000 liter per detik pada 1980-an, kini tinggal 3000 liter per detik.

Bukan tidak mungkin. Tanpa intervensi signifikan, mata air yang ditemukan pada zaman Belanda itu akan benar-benar mengering. Jika itu terjadi, sebuah bencana yang tak terbayangkan sebelumnya bakal melanda jutaan masyarakat Jawa. Sebab, Umbulan tidak hanya menghidupi warga di wilayah Pasuruan. Tapi, juga jutaan kabupaten lain di Jawa Timur.

Perubahan Iklim

PEMANASAN global yang diikuti perubahan iklim memang membawa dampak serius di berbagai negara di belahan dunia. Tak terkecuali Indonesia yang dua per tiga wilayahnya berupa perairan (laut).

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kerentanan lebih dibanding negara-negara lain.
Beberapa pulau diprediksi akan terdampak, bahkan tenggelam imbas meningkatnya permukaan air laut.

Bappenas menyebut, Jawa menjadi salah satu pulau yang banyak menanggung kerugian akibat dari perubahan iklim ini. Bukan hanya air. Sektor pertanian, kelautan dan pesisir Jawa termasuk yang paling parah.

Hasil kajian oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahkan menyebut tingkat abrasi pesisir Jawa Tengah merupakan yang terparah di Indonesia. Mencapai 150 meter per tahun.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut, secara nasional, kerugian akibat perubahan iklim ini diperkirakan mencapai Rp 115 triliun pada 2024. Dan Jawa, menyumbang separuh di antaranya.

Potential loss itu baru dihitung berdasar potential income yang gagal diperoleh imbas dari perubahan iklim. Tidak termasuk kerugian yang diakibatkan dari kejadian bencana.

Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang 2010-2018, tercatat 6.737 peristiwa banjir terjadi. Disusul puting beliung sebanyak 5.744 kejadian; 4.474 tanah longsor; 754 kekeringan dan 207 gelombang pasang atau abrasi. Sementara pada tahun ini, hingga Mei 2021 ini, tercatat 723 peristiwa bencana terjadi.