Namanya kini dipakai sebagai identitas RSUD Kota Pasuruan. Tapi, tak banyak yang tahu seperti apa ia. Bahkan oleh sebagian karyawan rumah sakit sendiri.
Laporan : Miftahul Ulum
KENDATI dipakai sebagai nama rumah sakit Pemkot Pasuruan, sosok Dr. R. Soedarsono tak banyak dikenal. Bahkan, para karyawan pun tak banyak yang tahu siapa sebenarnya nama tokoh yang menjadi identitas rumah sakit tempatnya bekerja itu.
Penyebutan Rumah Sakit Purut yang lebih familiar ketimbang RSUD R. Soedarsono seolah mempertegas betapa sosok dokter berjasa di zamannya itu mulai dilupakan. Terlebih, tidak banyak literasi, apalagi media yang pernah mengungkapkan sosoknya. Portal informasi milik Pemkot dan juga rumah sakit, zonk. Sedikitpun tak ada ulasan mengenai sosoknya.
Apa boleh buat. Gudang arsip koran lawas zaman kolonial milik Pemerintah Belanda, delpher.nl., akhirnya menjadi jujugan. Pada gudang arsip digital itu, setidaknya ada sejumlah tulisan koran lawas bertarikh 1930-an yang memuat dokter Soedarsono. Arsip-arsip surat kabar itu, cukup membantu menjelaskan bagaimana kiprah R. Soedarsono. Hanya saja, biodata R. Soedarsono, media ini belum menemukannya.
Satu Sekolah dengan dr. Soetomo
Dari beberapa arsip yang terbaca, sebelum mengawali karirnya sebagai dokter di Rumah Sakit Kota Pasuruan, dr. Soedarsono mengenyam sekolah kedokteran di STOVIA Jakarta (kala itu masih bernama Batavia). Namanya tercatat sebagai salah satu pelajar di sekolah kedokteran pribumi Hindia Belanda dalam Onwikeling van Het Geneeskundig Onderwijs Weltevreden tahun 1851-1926 (Pengembangan Pendidikan Kedokteran di Hindia Belanda).
Dalam buku lain, yaitu 125 Tahun pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976, memuat daftar 380 lebih dokter-dokter Hindia Belanda yang sekolah di STOVIA. Nama Soedarsono juga tercantum di urutan Nomor 382.
Sejumlah informasi lain yang menarik juga terungkap di buku ini. Salah satunya, disebutkan adanya sejumlah dokter lain dari Pasuruan. Yaitu, Mas Soemowidigdo (lulus tahun 28/10/1905), Raden Soeng Soedjono (lulus tahun 15/11/1904), Raden Soetomo (kelahiran Bangil, lulus tahun 11/4/1911), dan Mas Soedomo (lulus tahun 29/11/1920).
Dalam buku tersebut, Soedarsono lahir di Boyolali, tahun 1900. Soedarsono lulus dari Stovia pada tanggal 11 September 1926. Namun, lagi-lagi, kehidupan R. Soedarsono pascalulus dari sekolah kedokteran, buram.
Sampai akhirnya, kabar tentang dr. Soedarsono mulai terekam saat ia pindah di Kota Pasuruan menjadi dokter pemerintah Kolonial Belanda tahun 1932. Kala itu, ia menggantikan dokter Abdul Irzan yang lebih dulu menjadi dokter pribumi pertama di Rumah Sakit Pasuruan.
Dokter Abdul Irzan pensiun sebagai dokter pemerintah, namun ia tetap berada di Kota Pasuruan dan melayani masyarakat dengan membuka praktik. “Dr. Irzan akan tetap menjadi dokter swasta di Pasoeroean,” disebutkan dalam Surat Kabar Soerabaijasch Handelsblad, 13 Juli 1932.
Surat kabar ini mematahkan asumsi sebelumnya. Bahwa dr. Soedarsono adalah dokter “pribumi” pertama yang mengabdi di Rumah Sakit Kota Pasuruan di masa kolonial. Di mana seringkali, dokter pertama yang mengabdi di rumah sakit daerah akan dijadikan nama sebuah rumah sakit tersebut, seperti dr. Mohammad Saleh yang dijadikan nama RS di Probolinggo sampai saat ini.
Sebelum menjadi dokter pemerintah kolonial Belanda di Pasuruan, dr. Soedarsono pernah berdinas di pulau terluar Indonesia -yang saat itu masih bernama Hindia Belanda-, yakni di Pulau Rote (Timor). Dr. Soedarsono sendiri sebelum menggantikan secara penuh peran dari dokter Irzan, dirinya sudah bekerja sebagai dokter pendamping dr. Irzan. Meski sudah menjadi dokter pemerintah, Soedarsono masih menyempatkan membuka praktik swasta.
“Agar Pasoeroean segera kaya dengan dua orang dokter Eropa dan dua orang dokter Pribumi!” kata koresponden yang melaporkan berita tersebut.
Sejauh penelusuran arsip surat kabar yang didapat, dr. Soedarsono sangat fokus terhadap dunia kedokteran dan kesehatan. Ia tak seperti lulusan dokter pribumi lain -pada masa penjajahan- yang seringkali menonjol di bidang politik dan organisasi.
Karena semangat zaman pada masa awal pergerakan, terutama sebelum sumpah pemuda tahun 1928, dokter-dokter dan kaum terdidik seperti dr. Sutomo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), Ir. Sukarno, adalah kaum terdidik yang terjun ke dalam politik memperjuangkan nasib kaum bumiputera dari penjajahan. ke halaman 2
Dr. Soedarsono fokus menjadi dokter di rumah sakit Pasuruan. Sejumlah surat kabar sempat mewartakan Soedarsono saat menangani pasien. Salah satunya, ketika terjadi kecelakaan yang cukup menjadi perhatian.
Surat kabar De Indische Courant, 10 September 1935, mewartakan sebuah Ford Sedan yang mengarah ke Pasuruan menabrak bus yang datang dari arah berlawanan, dengan alasan yang belum diketahui. Terdapat 4 orang di dalam mobil: Nona Berretty, putri mendiang direktur Aneta, Nona Lebrun, seorang sopir, dan seorang pembantu.
Korban kecelakaan segera dibawa ke RS Kota Pasuruan dan dirawat oleh Dr. De Wolf dan Dr. Soedarsono. Koran ini, menyebut kedua dokter tersebut sibuk merawat korban kecelakaan sepanjang malam.
Pernah juga, dokter Soedarsono mengobati seorang pasien korban kecelakaan di persimpangan jalan di pasar Kraton. Ia jadi korban kecelakaan, di mana pasien tersebut ditabrak sebuah mobil. Dr. Soedarsono memberikan pertolongan pertama pada pria yang mengalami luka cukup parah itu. Pada saat terjadi kecelakaan, Direktur pabrik kulit “Jacatra”, Mr. J. D. Smit, baru saja melewati lokasi kecelakaan dan membawa orang yang terluka ke rumah sakit di Pasoeroean.
Selain mengobati kecelakaan, Dr. Soedarsono juga tercatat pernah terjun dalam aksi kemanusiaan melawan wabah penyakit. Pada tahun 1937, wabah pes melanda daerah Ngadiwono, Tosari, Pasuruan.
Surat kabar Soeraiajasch Handelsblad 20 Maret 1937, mewartakan situasi di Tosari saat itu berada di bawah penjagaan petugas. Lantaran, terjadi wabah pes. Dokter Residen Pasuruan dr. Pesik pulang Kamis malam dari kunjungan inspeksi di daerah yang terkena wabah di Ngadiwono dan mengabarkan, bahwa di barak isolasi terdapat 4 pasien yang sakit parah. Dari keempat pasien, 2 pasien ini, seorang pria dewasa dan seorang anak bisa menemui ajalnya kapan saja.
Disebutkan, bahwa para pasien ditangani sementara oleh mantri dari D.V.G. (Dienst der Volksgezonheid/layanan kesehatan publik) dan petugas polisi. Sementara keesokan harinya, pada Jumat pagi, Dr. Soedarsono, Dokter Pemerintah Kolonial di Pasoeroean, segera berangkat ke daerah yang sedang dilanda wabah pes untuk membantu mengobati warga.
Beberapa tahun kemudian, di wilayah yang sama, Tosari dilanda banjir bandang, tepatnya pada tahun 1939. Situasi digambarkan begitu kacau, puluhan rumah hanyut diterjang banjir bandang. Ternak seperti kuda juga tersapu air bah.
Pasca kejadian ini, tentu menyisakan korban jiwa. Warga setempat mengalami luka parah. Di antaranya, 5 warga yang terluka segera mendapatkan perawatan dr. Soedarsono yang datang ke lokasi bencana pada Kamis. Dr. Soedarsono membebat luka-luka yang dialami warga sebagai pertolongan pertama. Kelima warga yang terluka tersebut segera dilarikan ke RS Kota Pasuruan.
Sebagai gambaran, Pasuruan baru memiliki rumah sakit yang layak pada tahun 1923. Dalam sebuah majalah yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Hindia Belanda Tahun 1923, peletakan batu pertama rumah sakit di Kota Pasuruan dilakukan pada tahun 1923. Berbarengan dengan sejumlah rumah sakit di Kota Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Sukabumi.
Bekerja Tanpa Pamrih dan Jadi Peneliti
Sejumlah potongan koran Belanda, semakin memperkuat sosok Soedarsono sebagai dokter yang berdedikasi. De Indische Courant bertarikh 14 Februari 1934 mencatat kunjungan di rumah sakit Kota Pasuruan cukup tinggi. Dari laporan dokter pemerintah kolonial, tahun lalu mencatat 554 pasien yang dirawat.
Dr Soedarsono tercatat merawat sebagian besar dari pasien yang dirawat. Disebutkan, dr. Soedarsono merawat 460 pasien yang sebagian besar dirawat secara gratis. Dari jumlah pasien yang dirawat pada tahun itu, 70% berasal dari Kabupaten Pasoeroean, hampir 25% dari Kotamadya Pasuruan, sedangkan sisanya diisi oleh pasien dari Kabupaten Bangil dan tempat lainnya.
Selain berdedikasi menjalani profesinya sebagai dokter, Soedarsono juga sosok yang peduli terhadap warga lain. Melalui sejumlah organisasi, ia meluangkan waktunya untuk peduli terhadap warga yang mengidap beberapa penyakit.
Semasa ia masih aktif berdinas sebagai dokter pemerintah kolonial, Soedarsono aktif di organisasi “Comité tot Verbetering van het lot der Blinden in Nederlandsch-lndië” atau Komite untuk membantu orang buta di Hindia Belanda. Namanya tercantum dalam struktur organisasi ini, sebagaimana tercatat dalam Surat Kabar De Indische Courant 26 April 1935. Meski tidak secara gamblang dijelaskan perannya. ke halaman 3

Melihat kiprahnya sebagai dokter pemerintah satu-satunya yang masih aktif pada masa itu, Soedarsono patut dikenang sebagai dokter yang telah mendedikasikan dirinya untuk kesehatan warga, terutama warga Bumiputera yang termarjinalkan dalam sistem penjajahan.
Selain itu, Dr. Soedarsono juga menjadi anggota biasa dalam Vereniging tot Bevordering der Geneeskundige Wetenscahppen in Nederland Indie. Sebuah organisasi untuk mempromosikan Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan di Hindia Belanda. Sebagaimana tertera dalam Jurnal Kedokteran Hindia Belanda tanggal 7 Agustus 1941. (asd)




















