Nata De Citrilus, Minuman Anti Diabetes Dari Kulit Semangka Karya Tiga Santri Genggong

1219
Tiga santri Pesantren Zainul Hasan (PZH) Genggong menemukan ide unik untuk mengobati penyakit diabetes melitus. Mereka manfaatkan kulit semangka sebagai bahan baku Nata De Citrilus, minuman herbal. Penemuan itu pun membawa mereka sebagai jawara di Internasional Award Japan Design Idean and Invention Expo 2021 di Jepang.

Laporan: Sundari Adi Wardhana, Probolinggo

KABUPATEN Probolinggo merupakan salah satu penghasil semangka. Tak kurang dari 1000 ton per tahun dihasilkan dari ratusan hektar sawah yang tersebar di beberapa kecamatan. Seperti Kraksaan, Pajarakan, Krejengan, Besuk, Paiton dan lainnya.

Selain dikirim ke daerah lain, semangka (water melon) dikonsumsi warga lokal. Buah yang kaya gizi itu, dimakan sebagai buah segar atau pelengkap salad. Belum dimanfaatkan menjadi produk beragam atau diversifikasi produk.

Potensi itu, tertangkap oleh 3 santriwati MA Model Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Yakni Fiorenza An-Nafisah, kelas XII IBB; Jinani Firdausiah, kelas XII IPA A; dan Windi Wahda Ulwiyati, kelas XII IBB.

Baca Juga :   Pemkab Probolinggo Kejar 30% Sanitasi Layak

Dibawah bimbingan dari ustadzah Megawati dan Siti Nur Kumala Irawati, ketiganya meneliti manfaat kulit semangka. Limbah kulit semangka yang tersedia melimpah, kemudian diolah menjadi minuman. Dengan campuran daun Stevia dan komposisi lainnya, minuman itu diberi nama Nata De Citrilus.

“Minuman ini terbuat dari limbah kulit semangka dan juga daun stevia. Insyaallah berkhasiat untuk mencegah dan mengobati penyakit diabetes melitus,” tutur Nafisa, salah satu santriwati pada Sabtu, 2 Oktober 2021.

Dengan khasiat mencegah dan mengobati, maka minuman herbal itu, tak hanya cocok bagi penderita diabetes saja. Melainkan juga boleh diminum oleh selain penderita diabetes. “Disesuaikan dengan aturan pakai,” lanjut ia.

Hasil penelitian itu, lantas diikutsertakan dalam Internasional Award Japan Design Idean and Invention Expo, Jepang. Perlombaan ini, berlangsung pada 18 – 20 Agustus 2021. Diikuti oleh kompetitor dari 35 negara secara virtual.

Baca Juga :   Soal Dugaan Pencemaran Kali Wrati, DLH Slintutan

Ide dan presentasi ketiga santriwati tersebut ternyata mendapat nilai plus dari juri. Karya ilmiah peneliti muda tersebut, kemudian diganjar dengan medali emas (gold medals) WIIPA (World Invention Intelectual Property Assocations) and Chizal Corporation. Yakni terbaik dari segi produk, manfaat dan presentasi.

Pemenang diumumkan dalam event internasional bertajuk Japan Design, Idea and Invention Expo yang digelar di Hotel Kyoto Eminence Jepang, pada 25 September 2021.

Nafisa dan rekannya tak menyangka dengan capaian itu. Apalagi perlombaan itu, merupakan ajang internasional yang sangat ketat persaingannya. “Nggak nyangka dan sangat bersyukur sekali. Seneng juga bisa bawa pulang prestasi untuk pesantren,” ucap ia diamini 2 rekannya.

Baca Juga :   Dibatasi Perbup, Bulan Depan Alfamart di Lumajang Tak Gunakan Kantong Plastik

Prestasi di tengah pandemi Covid-19 tersebut, bak oase di padang pasir. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi PZH Genggong, Kabupaten Probolinggo dan Indonesia. Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong.

“Saya tidak menyangka mereka bisa menjadi yang terbaik dalam kejuaraan di Jepang. Ini merupakan kebanggan tersendiri bagi kami. Mereka membuktikan di tengah pandemi ini bukan menjadi halangan untuk berkarya dan mengukir prestasi,” tutur KH. Moh. Haris Damanhury, salah satu pengasuh.

Ia menyebut perjuangan santriwati Genggong yang bersaing dengan 35 negara, bukan suatu yang mudah. Untuk lolos seleksi saja butuh perjuangan berat, apalagi menjadi juara. Medali emas yang diterima, menurutnya, adalah bukti bahwa kualitas santri layak bersaing.