Dari Cemoohan, Bu Asep Berdayakan Emak-emak dan Korban PHK

1462
“Siapa bilang sampah adalah bau dan sumber penyakit. Di tangan Katarina Suhendar Triningrum alias Bu Asep diubah menjadi aneka barang berdaya jual tinggi. Di masa pandemi, usaha daur ulang sampah itu mampu bertahan dan menjadi sumber penghasilan bagi warga terdampak PHK. Bagaimana perjuangannya, mari ikuti kisahnya.”

Laporan: Sundari Adi Wardhana, Probolinggo

SAMPAH menjadi problem tersendiri di Kota Probolinggo. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo mencatat tak kurang dari 170 ton per hari di produksi oleh warga Kota Mangga ini. Dari jumlah itu, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekitar 65 ton setiap harinya, sisanya berserak di jalan, sungai dan lainnya.

Tentu hal ini menjadi problem tersendiri dan perlu aksi nyata, agar pencemaran lingkungan hidup dapat dikurangi.

Katarina Suhendar Triningrum adalah salah satu warga yang peduli dengan ancaman pencemaran lingkungan hidup. Ia sejak 9 tahun lalu bergelut dengan upaya mendaur ulang sampah menjadi kerajinan bernilai tinggi. Bahkan usahanya itu, kini beromset sekitar 400 juta setahun.

Eit, jangan terkesima dengan angka ratusan juta itu. Sebab, perjuangan wanita kelahiran Malang tersebut tidak mudah. Cemohan dan perundungan acap kali diterima, karena ia merupakan istri Asep Suprapto Lelono, ASN (Aparatur Sipil Negara) Pemkot Probolinggo.

“Kayak wong edan (orang gila) saja, padahal suaminya PNS,” tuturnya pada Rabu, 6 Oktober 2021.

Bu Asep, begitu ia dipanggil, menuturkan awal mula ketertarikannya pada kerajinan daur ulang sampah. Bermula dari kegalauannya sebagai ibu rumah tangga yang kesepian disela-sela merawat 2 anak, Kinanti Wilujeng Sukma dan Aditya Bagus. Ia yang merupakan sarjana teknologi pertanian, harus mendekam di rumah saja. Tidak bekerja seperti kebanyakan wanita masa kini.

“Tidak diperbolehkan bekerja oleh suami, ya saya ikut. Jadi sebenarnya hanya untuk mengisi waktu luang saja. Belum ada kepikiran untuk membuat aneka produk daur ulang seperti saat ini,” ungkapnya saat menjadi narasumber bagi peserta kelas madya dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Probolinggo pada Rabu, 6 Oktober 2021.

Sekitar tahun 2013, Bu Asep mendirikan bank sampah dengan modal Rp150 ribu. Ia melibatkan warga di Perumahan Kopian Indah Jalan Argopuro Blok E nomor 23 Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Aneka sampah anorganik dikumpulkan di rumah untuk dijual kembali. Sementara sampah yang tidak bisa dijual diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

“Setahun, rata-rata hanya mampu mendapatkan uang Rp 1,3 juta. Ternyata nilai jualnya dirasa kurang memuaskan sehingga tahun 2015, kami mulai memproduksi sampah menjadi aneka macam produk daur ulang,” tutunya.


Namun, sebelumnya ia telah mengikuti pelatihan pengolahan sampah dengan konsep 3 R. Yakni Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Kemudian Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Dari pelatihan itu, ia mendirikan Griya Srikandi. Mitranya atau para pekerjanya adalah ibu-ibu di lingkungan sekitar. “Dari hasil pelatihan itu, kami kemudian berhasil membuat aneka kerajinan,” ujar anak ketiga pasangan Legi Martojo dan Kastiyami tersebut.

Produk bungkus kopi sachet dan produk goni dan bungkus sabun sachet diubah menjadi tas menarik. Aneka macam produk dari sampah mulai dari gantungan ķunci dari koran, tas dan dompet, sepatu dan sandal kain perca, tempat tisu, goody bag, dan lainnya, sudah menjadi sumber penghasilan UKM itu. Harga jual produknya mulai Rp5.000 sampai Rp 600 ribu.

“Sebagian masyarakat menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna, berbau busuk, penyebab banjir, dan sumber penyakit. Tapi, bagi kami sampah menjadi ladang bisnis kami,” sebut Katarina.

Produksi aneka kerajinan itu, berkembang pesat seiring dengan banyaknya pesanan dari organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Probolinggo. Perkembangan itu diimbangi dengan penambahan modal dan peralatan. Pada 2019, omsetnya sudah mencapai Rp 300 juta setahun.

“Berkembang dengan membentuk Kampung ReReRe, yakni kampung kerajinan daur ulang. Yang kami ajak ya emak-emak yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap, ya agar lebih produktif disaat senggang,” ungkap ibu dari 2 anak itu.