Fakta dan Teladan Kiai Abdul Hamid Pasuruan

3395

Pasuruan (wartabromo.com) – Haul ke-40 almaghfurlah KH Abdul Hamid bin
Abdullah Umar (Mbah Hamid) Pasuruan digelar hari ini, Sabtu (16/10/2020).
Sosoknya yang kharismatik membuat makamnya tak pernah sepi peziarah.

Tak heran, setiap tahunnya masyarakat dari berbagai penjuru
berdatangan ke acara haul ulama besar ini. Bahkan, dari jauh-jauh hari
banyak peziarah yang datang ke Pasuruan.

Sebenarnya, sekharismatik apa sih sosok Mbah Hamid ini? Nah, dilansir dari jatim.nu.or.id dan beberapa sumber, ternyata ada sejumlah fakta menarik dari sosok
Mbah Hamid.

Apa saja? Yuk, simak!

1. Anak Ketiga dari 17 Bersaudara

Kiai Hamid adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara dan lima
di antaranya saudara seibu. Sedari kecil, kiai Hamid dibesarkan dalam
naungan keluarga santri.

2. Mulai Belajar Baca Al-Qur’an dari Ayahnya

Hamid kecil mulanya belajar membaca Al-Qur’an dari sang ayah, Kiai
Umar yang berperan sebagai tokoh ulama di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Kemudian pada umur sembilan tahun sudah mendapat ilmu dasar fiqh.

3. Tanda-Tanda Bakal Jadi Ulama Besar Sudah Terlihat Sejak Kecil

Menurut cerita, Hamid muda sangat disayang baik oleh ayah maupun
kakeknya. Bahkan, sedari kecil sudah tampak tanda-tanda bahwa ia akan
jadi wali dan ulama besar.

4. Dikisahkan Sudah Bertemu Rasulullah pada Usia 6 Tahun

Dalam kepercayaan yang berkembang, pada usia enam tahun, Hamid kecil sudah bertemu dengan Rasulullah. Kalangan warga NU juga mempercayai hal ini, khususnya sufi.

5. Berkelana Mencari Ilmu Mulai Umur 12 Tahun

Pada usia 12 tahun, akhirnya Mbah Hamid berkelana. Mula-mula belajar di pesantren kakeknya, KH Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahun kemudian diajak sang kakek untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman serta bibinya.

Tak lama kemudian pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan desa sekitarnya, Hamid belajar fiqh, hadits, tafsir dan lainnya.

Pada usia 18 tahun, pindah lagi ke Pesantren Tremas, Pacitan. Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, KH Idris bahwa pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi.

6. Pernah Menjadi Blantik

Kiai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah.
Maka, untuk menghidupi keluarganya, setiap hari ia harus mengayuh sepeda sejauh 30 kilo meter pulang pergi, sebagai blantik sepeda.

7. Kesabaran yang Luas

Kesabaran Kiai Hamid mulai diuji pasca menikah. Saat itu, ia dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Nyai H Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Sayangnya, dalam pernikahan tersebut Nyai Nafisah terpaksa karena dijodohkan, sehingga selama 2 tahun tak mau akur dengan Kiai Hamid.

Namun, Kiai Hamid menghadapinya dengan sabar. Sampai pernikahan mereka dikarunia anak pertama, Anas. Anak pertama mereka ternyata diambil oleh sang pencipta. Duka pun menyelimuti keluarga muda Kiai Hamid.

Tak cukup sampai di situ, ternyata anak kedua mereka pun meninggal dan meninggalkan kesediahan yang amat mendalam, terutama pada Nyai Nafisah.

Kesabaran Kiai Hamid tak hanya terlihat dari sikapnya dalam menghadapi permasalahan keluarga. Tetapi juga dalam menyampaikan syiar-syiar agama, baik kepada keluarganya sendiri maupun orang lain.

Selain ketujuh fakta di atas, sebenarnya masih banyak fakta lain yang terdapat pada sosok almaghfurlah Kiai Hamid. Nah, bagi Bolo warmo yang punya informasi tambahan seputar fakta dari sosok Kiai Hamid, silakan berbagi. (trj/may)