Mengunjungi Kampung Ikan Asap di Penatarsewu, yang Tetap Eksis di Tengah Badai Pandemi

4576
FAMILIAR DENGAN ASAP: Wiji Utami, salah satu pengasap ikan di Desa Penatarsewu.

Pandemi menjadi momok bagi para pelaku usaha. Tidak sedikit di antara mereka yang gulung tikar. Namun, di antara yang sedikit itu, usaha kampung asap berikut Resto Apung Seba di Penatarsewu, Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo masih eksis. Bertahan di tengah gelombang badai pandemi. Seperti apa?

 

Laporan: MUHAMMAD HIDAYAT

Desa Penatarsewu berada di wilayah Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Dari pusat kota kecamatan, jaraknya sekitar 15 kilometer, yang bisa ditempuh setengah jam dengan berkendara roda empat.

Justru sebaliknya, lokasi Penatarsewu jaraknya sedikit lebih dekat dengan wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Jika menggunakan kendaraan bermotor hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Melewati tol pedot (biasa dikenal tol HK) dari Gempol, melewati jalan beraspal di dekat pematang sawah.

Desa ini memiliki potensi cukup besar untuk berkembang. Untuk meningkatkan perekonomian warganya, Penatarsewu dikenal sebagai Kampung Ikan Asap. Bahkan, kampung ini memiliki Resto Apung Seba yang disupport PT Pertamina Gas.

Saat memasuki kampung ini, bau panggang menyeruak hidung. Maklum, di kampung ini ada sekitar 90 warga yang usahanya membakar ikan asap. Ikan ini didapat dari para petambak di wilayah sekitar. Ikan yang dibakar pun beragam. Mulai Mujaer, Nila, Bandeng, Udang dan Lele.

Baca Juga :   Bertemu Emak-emak Pengasap Ikan Asal Gadingrejo, Omsetnya Bikin Melongo

Rabu (20/10) pagi, jurnalis media ini berkesempatan untuk mengunjungi kampung asap dari dekat. Salah satu yang dikunjungi adalah rumah ikan asap milik Ainun Mahroja di dusun Pelataran. Disana terlihat ada enam pekerja. Semuanya perempuan. Tiga orang bertugas mengupas sisik ikan mujaer. Dua perempuan lain bertugas untuk mengeluarkan jeroan mujaer dan lele. Dan satu orang lagi bertugas membakar ikan yang sudah dibersihkan.

“Setiap hari rata-rata membakar ikan kurang lebih satu kuintal,” ujar Wiji Utami, perempuan pembakar ikan asap.

Kepulan asap menjadi “menu” sehari-hari yang dialami Wiji. Kedua tangannya terlihat terampil. Membolak balik ikan agar tidak gosong. Kepulan asap ini keluar melalui cerobong yang sudah dibantu pihak Pertagas.

Jika sudah matang, sebagian ikan asap ini bisa dijual di Resto Apung. Selain itu juga beberapa pasar di wilayah Sidoarjo. Porong, Tanggulangin dan Kota Sidoarjo. Kemudian dipasarkan di luar kota. Bahkan, penjualan sampai Mojosari, Pacet Mojokerto. Lalu, pasar Pandaan, Bangil, Sukorejo di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Baca Juga :   Berikan Apresiasi kepada Media, Pertagas Komitmen Pacu Pengembangan Program CSR  Lebih Baik

Dalam 1 Kg nya, ikan Mujaer bisa dijual sekitar Rp 45 ribu. Namun, jika bisa diambil sendiri di tempat, harganya bisa lebih murah lagi.  “Saya sebagai kepala desa, senang sekali kampung asap ini bisa memberi manfaat ekonomis pada warga,” tegas Choliq, Kades Penatarsewu.

Manfaat yang dimaksudkan Choliq, salah satunya penyerapan tenaga kerja. Memang kelompok ikan asap ini berjumlah sekitar 90 orang, namun penyerapan tenaga kerjanya bisa mencapai 100 orang lebih. “Semua bisa dirasakan manfaatnya oleh warga. Termasuk resto apung juga bisa menyerap tenaga kerja kita,” terangnya.

RESTO APUNG: Wajah Resto Apung Desa Penatarsewu terlihat dari depan. Resto bantuan dari CSR Pertagas ini berdiri diatas air, sehingga kelihatannya terapung.

Gandeng Platform Digital dan Katering untuk Bertahan

Usaha bertahun-tahun yang sudah dilakukan warga kampung ini rupanya mendapat atensi dari dunia usaha. PT Pertamina Gas melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di wilayah tersebut. Pertagas hadir mendampingi kelompok pengasap ikan yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat.

Baca Juga :   Mobil Galeri Keliling Subholding Gas Pertamina Dukung Pemasaran Inovasi Komunitas Tuli Gresik

“Awalnya pada tahun 2013, kami ada kegiatan charity. Kita mulai perbaikan rumah pengasapan Desa Penatarsewu,” ujar Tedi Abadi Yanto, Head Of External Relation East Region PT Pertagas kepada sejumlah media.

Sampai dengan beberapa tahun, mulai diintensifkan melakukan pendampingan sampai 2017. Termasuk membantu dengan cool box. Hal ini agar bahan baku ikan menjadi lebih banyak dan tahan lama. “Harapannya bisa mendongkrak produksi ikan asap,” cetusnya.

Kemudian pada 2018, seiring dengan meningkatnya kegiatan produksi atau lebih dikenal dengan diversifikasi produk, mulai muncul masalah. Tantangan salah satunya adalah packaging basah. Kemudian butuh pemasaran yang bisa dibuat oleh-oleh khas desa.

“Maka kemudian muncul ide atau inovasi kedua, membangun Resto Apung. Tujuannya memberdayakan masyarakat lebih banyak lagi. Juga multiplier effecnya untuk usaha baru. Ada parkirnya, permainan air di resto maupun kolam pancing,” tegasnya.