Edukasi Gizi Remaja, LP Ma’arif NU Berkolaborasi dengan Danone

671

Surabaya (wartabromo.com) – Danone Indonesia berkolaborasi dengan LP Ma’arif untuk melakukan penguatan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dan madrasah pada isu kesehatan dan gizi melalui program GESID (Generasi Sehat Indonesia) untuk meningkatkan kesadaran remaja usia SMP dan SMA agar hidup lebih sehat.

VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto mengatakan, program GESID ini akan diimplementasikan di sekolah-sekolah dan madrasah melalui kerjasamanya dengan LP Ma’arif NU PBNU, setelah sebelumnya Danone juga bekerjasama dengan FEMA IPB menghadirkan buku panduan GESID (Generasi Sehat Indonesia) yang ditujukan bagi remaja sekolah menengah, tingkat SMP hingga SMA yang dihadirkan sejak akhir 2020 lalu.

“Buku panduan GESID yang kami susun berbicara mengenai tiga pilar utama bagi para remaja, yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab, ” ujar Vera Galuh Sugijanto.

Ketiga pilar ini, lanjutnya, tidak hanya mengajarkan tentang komposisi makan yang dapat memenuhi kecukupan gizi para remaja, tetapi juga bagaimana hal itu akan memengaruhi mereka di masa mendatang dan mengajak mereka untuk bertanggung jawab atas diri mereka.

Ketua Lembaga Pendidikn Ma’rif NU PBNU, K.H.Z Arifin Junaidi mengaku sangat mengapresiasi langkah Danone untuk mengajak LP Ma’arif dalam program GESID tersebut. Dirinya berharap akan ada perubahan sikap dan perilaku yang positif di sekolah dan madrasah. Termasuk,

“Kami melihat beberapa manfaat seperti manfaat secara akademis, dimana satuan Pendidikan di Ma’arif NU baik guru maupun pelajar akan meningkat pengetahuannya tentang Gizi. Secara sosial yaitu bisa menggugah solidaritas masyarakat akan pentingnya Gizi pada Remaja. Dan manfaat secara politis bisa mendorong kebijakan pemerintah untuk lebih peduli pada Gizi dan Kesehatan remaja” ujarnya.

Namun, lantaran begitu besarnya jumlah satuan pendidikan yang ada di lingkungan lembaga pendidikan maarif NU, maka ditetapkan skema dari program ini bersifat berkesinambungan atau dengan snowballing effect yakni dibiarkan menggelinding sehingga didapatkan dampak yang banyak dan besar meskipun dimulai dengan langkah yang kecil.

“Kami berharap program ini dapat dilakukan di banyak sekolah menengah lain, sehingga akan lahir duta-duta GESID yang membantu lebih banyak remaja untuk memahami dan menerapkan pola makan dengan gizi seimbang, ” timpal Vera.

Untuk diketahui, Data Riskesdes Kementerian Kesehatan tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja cukup tinggi yakni mencapai 22,7 persen, sementara data Balitbangkes tahun 2015 menyebutkan rata-rata tingkat kecukupan energi dan protein remaja (72,3% dan 82,5%) paling rendah di antara kelompok usia lainnya, bahkan 52,5% remaja mengalami defisiensi energi berat (<70%) kebutuhan energi harian.

Inter-Agency Working Group on Reproductive Health in Crisis (2010) menyatakan bahwa Anak perempuan berusia 15-19 tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk meninggal saat melahirkan daripada perempuan yang berusia 20-an tahun.

Anak perempuan yang berusia di bawah 15 tahun memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk meninggal saat melahirkan. Sementara itu, dalam relasi remaja, Tindakan kekerasan seksual dan pelecehan seksual juga cukup memprihatinkan. (yog/*)