Sistem Irigasi “Rusak”, Ancam Pertanian di Kabupaten Pasuruan

956
Screenshot video milik Gunawan Wibisono, menunjukkan Dam Tanggul di Kabupaten Pasuruan.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Penggunaan air tanah permukaan di sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan terdapat ketidaksesuaian. Bahkan, saluran irigasi saat ini sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sawah.

Hal itu diketahui dalam kegiatan Bincang-bincang Santai Pegiat Lingkungan Pentahelix di Alas Pinggan, Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan Selasa (21/12/2021).

Ahli hidrologi dari Universitas Merdeka Malang Gunawan Wibisono menyatakan, jika penggunaan air tanah permukaan selama berpuluh tahun mengakibatkan ketidakserasian sehingga berdampak pada sistem irigasi pertanian.

Menurutnya, saluran pengairan sudah tidak mampu memenuhi air yang dibutuhkan petani di Kabupaten Pasuruan, terutama di seputar wilayah Kecamatan Pandaan, yang saat ini menjadi pencermatannya. Air permukaan, sudah tidak lagi sepenuhnya untuk irigasi, karena sekarang banyak dimanfaatkan untuk keperluan domestik rumah tangga maupun industri.

Baca Juga :   USAID-IWINS Garap Air Bersih dan Sanitasi di Pasuruan

“Sejak berpuluh-puluh tahun, bahkan sejak zaman Belanda, banyak pengambilan (air permukaan) secara tidak terkoordinasi,” kata Gunawan.

Diungkapkan, lantaran minimnya air, ada sebagian petani di Kecamatan Pandaan terpaksa bercocok tanam padi dengan cara gogo rancah.
“Gogo rancah itu bukan budaya (bercocok tanam) kita sebenarnya. Itu budaya di tempat-tempat kering, NTT di antaranya. Itu akhirnya diadopsi,” terangnya.

Terkait penggunaan air yang berdampak pada irigasi itu, ia mencoba membuktikannya dengan beberapa potongan video yang menunjukkan rangkaian pipa yang banyak dipasang di sejumlah sumber air. Sejumlah dam/bendung, di antaranya dam Tanggul juga ditampilkannya.

Sekadar informasi, terkait keberadaan pipa, pihaknya telah melakukan penelusuran dan perekaman di empat sumber dari lima sumber air utama di hulu wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Baca Juga :   Pipa PDAM Pecah Picu Terhentinya Aliran Air Bersih di Kota Pasuruan

Meskipun terdapat fakta itu, akademisi yang juga koordinator Tridaya Alam Lestari ini melihat hampir semua pihak terutama pemerintah belum memberikan perhatian, belum mengupayakan ada keseimbangan pemanfaatan air, sehingga keberlangsungan pertanian dapat terus terjaga.

Secara keseluruhan hal tersebut dinilai sebagai ironi, karena air di Kabupaten Pasuruan diketahui sangat melimpah, namun kenyataannya tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk persawahan. “Perlu kita membahas, menata kembali bagaimana hak kita atas air terpenuhi, tanpa merugikan pihak lain,” tandasnya.

Sementara itu, mantan kepala UPT PSDA Budi Sujarno yang turut dalam bincang santai itu memberikan ilustrasi, bahwa kebutuhan air pada sawah padi tiap hektare berkisar 0,74 liter/detik hingga 1,2 liter/detik. Sehingga sistem irigasi, dikatakan harus mampu memenuhi kebutuhan baku air untuk hamparan sawah yang tersedia. “Tapi saat ini (dam) diperkirakan hanya 0,4 liter/detik,” terang Budi. (ono/ono)

Baca Juga :   Kekeringan di Pasuruan Diprediksi Sampai November, Cek Peta Terparah

Simak videonya: