Ribuan Warga Pasuruan Kembali Lakukan Tradisi Praonan

630
Pasuruan (wartabromo.com) – Ribuan warga Pasuruan menggelar tradisi Praonan di laut untuk merayakan Hari Raya Ketupat, Senin (9/5/2022). Praonan tahun ini disambut gembira oleh warga setelah 2 tahun ditiadakan karena covid-19. Dari pantauan wartabromo.com, ada sejumlah titik kumpul warga. Di setiap titik tersebut, puluhan nelayan sudah menyiapkan perahu untuk disewa. Antara lain yakni, Desa Gerongan, Desa Semare, Desa Kalirejo Kecamatan Kraton. Kemudian di Desa Wates, Desa Jatirejo, Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok. Lalu di Desa Nguling Kecamatan Nguling. Selain di wilayah kabupaten tradisi serupa juga digelar di Pelabuhan Kota Pasuruan. Muhammad Zidan (30), warga Madura yang setiap tahun mengikuti tradisi tersebut mengaku bahagia. Ia rela datang ke saudara yang berada di Gadingrejo, Kota Pasuruan hanya untuk bersilaturahmi dan melakukan tradisi praonan.
Baca Juga :   Perkuat Desa, Dewan Gelar Pertemuan dengan BPD se-Pasuruan
“Setiap tahun sama anak-anak ini, kalau tahun kemarin dibatasi alhamdulillah tahun ini sudah ramai kembali,” ujar Zidan kepada wartabromo.com. Selain bisa menghibur anak-anak untuk melihat secara langsung suasana laut Pasuruan, Zidan juga mengaku senang karena tak membayar sewa perahu. “Numpak kapal gratis (naik perahu gratis), kan milik saudara,” ucapnya sambil tersenyum. Sementara itu, tradisi praonan tersebut sudah digelar sejak dulu. Warga yang mayoritas nelayan sengaja libur di H+7 atau hari raya ketupat ini hanya untuk merayakan tradisi yang sudah digelar setiap tahunnya. Nelayan yang menyewakan perahunya menarif setiap orang dengan harga Rp10 ribu. Setiap perahu berisi 8-10 orang, tergantung kapasitas perahu yang disediakan.
Baca Juga :   Bromo Hanya untuk Wisnu
Ahmadi, sekdes Kalirejo mengatakan, tradisi praonan ini bermula saat warga sekitar melakukan silaturahmi layaknya hari raya idul fitri seperti biasanya. Namun, sejumlah sanak saudara yang ingin menaiki perahu diajak untuk melihat suasana laut Pasuruan. “Lambat laun tambah ramai. Akhirnya, setiap tahun ada tradisi praonan ini,” katanya. Diketahui, tradisi praonan tersebut tetap dengan protokol kesehatan. Warga juga dilarang berkerumun. (don/may)