Wabah PMK Meluas, 690 Sapi di Kabupaten Pasuruan Terpapar

687

Pasuruan (WartaBromo.com) – Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Pasuruan harus semakin diwaspadai. Pasalnya, jumlah ternak sapi yang terjangkit PMK semakin banyak.

Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf  mengatakan, ratusan ekor sapi yang terjangkit PMK kini meluas hingga ke 10 kecamatan. Diantaranya Lekok, Kejayan, Lumbang, Nguling, Pandaan, Prigen, Purwosari, Sukorejo, Tutur, Winongan.

Penyebabnya didominasi oleh faktor jual beli ternak dari luar daerah, khususnya Kota/Kabupaten wabah. Sehingga banyak sapi-sapi yang tertular PMK.

Selain itu, berdasarkan laporan para petugas, banyak para peternak yang membeli pakan ternak dari daerah lain, dan jelas juga bisa berpotensi pada penularan yang semakin meluas.

Untuk itu, Gus Irsyad meminta semua peternak/pedagang sapi/untuk tak lagi melakukan jual beli ternak dari daerah wabah. Sebab, penularan PMK paling cepat berasal dari aktifitas ini.

Baca Juga :   Update Covid-19 Kabupaten Pasuruan: Hari Ini 17 Positif

“Semakin hari semakin banyak sapi-sapi kita yang terpapar PMK. Sekarang sudah ada 690 sapi di Kabupaten Pasuruan yang terjangkit PMK. Penyebab dominan karena masih banyaknya blantik sapi yang membeli atau menjual dari luar daerah. Untuk itu saya minta untuk bisa menahan diri dalam hal jual beli ternak dari dan ke luar daerah,” kata Gus Irsyad di sela-sela kesibukannya, Jumat (03/06/2022/ siang.

Sejauh ini, semua lalu lintas ternak di Pasar hewan terus diawasi. Bahkan semua pasar hewan ditutup. Begitu pula dengan ternak yang terjangkit PMK langsung dilokalisir. Kata Gus Irsyad, ternak yang dalam keadaan sehat juga akan divaksin, namun Pemkab Pasuruan masih menunggu datangnya vaksin itu sendiri.

Baca Juga :   Corona Menjangkiti 2 Nakes RSUD Tongas dan 4 Pemudik

“Kita juga akan memvaksin ternak sapi. Tapi masih kita tunggu datangnya. Kalau yang terjangkit terus kita obati sampai sembuh,” jelasnya.

Dengan semakin banyaknya ternak sapi yang terjangkit PMK, petugas semakin intens melakukan sosialisasi ke masyarakat akan bahayanya PMK apabila tidak diantisipasi sedini mungkin.

Dijelaskan Gus Irsyad, sosialisasi dilakukan oleh petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama seluruh stake holder. Mulai dari POLRI, TNI, Kejaksaan, tokoh Masyarakat, tokoh agama hingga lintas sektor lainnya.

Diharapkan, masyarakat bisa memahami bagaimana langkah yang harus dilakukan agar penyebaran PMK tidak semakin meluas.

“Jangan juga tergesa-gesa untuk menjual dengan harga rendah. PMK bisa diobati asal penanganannya cepat,” tegasnya. (mil/asd)