Ikhtiar Bangun Ekosistem Digital, AMSI Jatim Gelar Rakerwil di Mojokerto

619

 

Mojokerto (WartaBromo.com) – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Pendopo Sabha Mandala Krida Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto. Serangkaian arah dan harapan pengembangan media siber lokal tertuang dalam rapat kerja kali ini.

Ketua AMSI Jatim, Arief Rahman mengatakan, rakerwil merupakan agenda rutin tahunan yang digelar untuk membahas program kerja organisasi AMSI. “Ini merupakan wadah perusahaan-perusahaan media siber atau media online di seluruh Jawa Timur,” ungkapnya, Sabtu (18/6/2022).
Rakerwil mengangkat tema “Menuju Ekosistem Digital untuk Kebangkitan Ekonomi Kreatif dan UMKM Jawa Timur ini telah merumuskan program organisasi dalam kurun waktu satu tahun ke depan.

Baca Juga :   Esok, AMSI Gelar Dialog 100 Pemred Bersama Gubernur Jatim

Selain itu, lanjut Arif, AMSI Jawa Timur ingin berkontribusi membawa Jawa Timur yang dahulu merupakan pusat salah satu kerajaan besar dan menguasai Asia.

“Ini yang ingin kita hidupkan kembali, semangatnya sehingga Jawa Timur pasca pandemi ini ekonomi bisa tumbuh, ekonomi bisa ada percepatan dan berkembang di atas nasional,” ujarnya.

Yang paling penting menurut Arief adalah membentuk atau mengkondisikan ekosistem. Ia menilai industri media tak bisa berdiri sendiri karena harus melibatkan pemerintah, swasta, pihak regulator, bahkan aparat keamanan.

Hal tersebut ditegaskannya agar perusahaan media bisa saling bergotong-royong dan berkolaborasi sehingga Jatim Bangkit bisa terwujud.

Dilanjutkan, tantangan di era digital, arus informasi luar biasa deras. Sehingga media harus bisa menyajikan informasi kepada masyarakat secara sehat dan terverifikasi. Arief mengungkapkan, masyarakat selama ini cukup banyak menerima sampah digital, hoax, dan disinformasi.

Baca Juga :   Wens-Komang Lanjut Pimpin AMSI

“Sampah digital, banyak hoax, kabar bohong, disinformasi, video tidak sesuai konteks. Hal tersebut bisa mengancam di tengah masyarakat, memecah belah, saling curiga, ini sangat berbahaya, tandasnya.

Diakui media digital saat ini mendapat tantangan dari media sosial. Tapi dikatakannya, media siber yang mainstream itu tentu betul-betul dikelola dengan serius. Sementara kalau media sosial justru lebih banyak yang ke pribadi-pribadi karena tidak memiliki basic jurnalistik, tidak paham etika dalam menyampaikan informasi ke publik.

“Itu justru yang banyak pengikutnya, sementara kita media mainstream atau media besar kalah dengan influencer atau buzzer. Padahal para buzzer seringkali memberi informasi ke publik itu kebanyakan yang tidak terverifikasi, datanya ngawur, bahkan disinformasi. Ada juga yg informasi-informasi justru dibuat dan dipabrikasi untuk membohongi masyarakat,” sambungnya.